
Hari ini Safir sengaja datang ke kandang karena ada beberapa anakan sapi dan juga kambing yang telah di beli Yusman beberapa hari yang lalu dan baru di ambil hari ini.
Safir sangat bersyukur karena semua pegawainya bekerja dengan telaten. Apalagi ini mengurus hewan ternak. Tidak bisa asal-asalan karena setiap kesehatan hewan peliharaan juga tetap di perhatikan.
Hampir semua pegawai yang sedang bekerja, Safir ajak berinteraksi sejenak. Ada yang baru saja datang setelah mencari rumput. Ada yang sedang memberikan pakan, dan ada juga yang sedang membersihkan kandang. Ada juga yang sedang mengambil telur-telur bebek.
"Ini mau dipotong sekarang Pak?" tanya Safir pada pegawainya yang lain.
"Iya, Mas. Tadi dapat telepon dari restoran kalau besok harus mengantarkan daging."
Safir hanya mengangguk pelan dan meminta semua orang untuk melanjutkan pekerjaan mereka.
Karena urusan Safir sudah selesai, Safir berniat untuk pulang ke rumah. Tapi sebelum itu, Safir harus ke kantor dulu karena ia harus mengambil barang pribadinya.
Setiap kali sampai di lantai 3. Safir hanya bisa menghela nafasnya pelan. Ia hanya melirik sebentar ke arah ruang kerja Queen dan melangkah cepat agar dirinya melalui ruangan tersebut begitu saja. Safir yakin kalau dirinya lama-lama akan abai dan terbiasa dengan sendirinya.
__ADS_1
Setelah mengambil beberapa barang pribadi Safir dan membawa tas kerjanya. Safir segera meninggalkan kantor.
Sepanjang jalan, Safir terus melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang. Saat melihat pinggiran jalan, ada seorang penjual kue pancong. Makanan tradisional yang sudah jarang ada yang menjual makanan tersebut. Mengingat beberapa hari yang lalu Divya mengatakan ingin makanan tersebut, membuat Safir menghentian laju mobilnya.
Hal-hal kecil seperti ini memang sudah mulai Safir terapkan. Safir berusaha peka untuk setiap ucapan yang Divya lontarkan. Berharap dengan ini, bisa membuat hubungan mereka semakin baik dan jauh lebih baik lagi.
"Pak, kue pancongnya 20 ribu ya. Saya mau yang baru dipanggang ya, Pak."
"Baik, Mas. Tapi sabar nunggu ya Mas."
"Siapp Pak."
"Pak saya mau kue panconnya 30 ribu ya Pak," pinta seorang perempuan.
"Baik, Mbak. Tapi sabar ya Mbak. Saya buatkan Masnya dulu."
__ADS_1
"Iya Pak," ucap perempuan tersebut sambil melihat lelaki yang juga sedang menunggu pesanan. "Safir kan?" tanyanya saat terus memperhatikan wajah Safir dari samping.
"Iya. Maaf ..." Safir merasa famiiar dengan perempuan tersebut.
"Ini aku, Lusi. Beberapa minggu yang lalu kita makan bareng. Ingatkan?"
"Owh, iya. Maaf ya Lusi, aku kok lupa sih," ucap Safir yang memang tidak begitu memperhatikan wajah perempuan lain yang tidak ada keperluan dengan dirinya. "Bukannya sekarang kamu lagi ketemuan dengan Divya?" tanya Safir karena tadi Divya memberitahu dirinya kalau Divya bertmu dengan Lusi.
"Iya benar. Tapi aku memutuskan untuk pulang lebih dulu karena sebentar lagi aku harus jemput anakku. Kue pancong ini kesukaan anak aku, Fir."
"Owh. Ini juga aku membelikan Divya," ucap Safir yang mulai mau menanggapi pembicaraan lebih jauh agar dia tidak merasa canggung sendiri. "Jadi sekarang Divya sudah pulang?"
"Mungkin. Karena saat aku akan pulang, ada Dafa yang menghampiri Divya," ucap Lusi yang terlalu jujur. Wajar, karena Lusi juga tidak tahu kalau diantara Safir dan Divya pernah terjadi percekcokan yang berkaitan dengan Dafa.
"Dafa?"
__ADS_1
"Iya, Dafa. Kamu pasti taku kan. Dafa senior Divya saat kuliah di luar negeri dulu."
Deg!