
Sejak pagi-pagi sekali Zantisya sudah bangun. Jika biasanya setelah menjalankan ibadah Zantisya akan menyibukkan diri di dapur, tidak untuk pagi ini. Padahal biar masak ala kadarnya, Zantisya selalu membuatkan sarapan untuk suami dan anaknya. Sekalipun Arjuno tidak menuntut Zantisya melakukan ini dan itu. Pagi ini, Zantisya benar-benar tidak mood untuk melakukan apapun.
"Masih mikirin Safir?" tanya Arjuno yang baru saja memasuki rumah. Lelaki tersebut baru saja selesai olahraga bersama anak bungsunya.
"Iya Mas. Perasaanku benar-benar enggak enak," Zantisya bahkan sampai menyentuh dadanya. Merasakan degup jantungnya yang sedikit lebih cepat.
"Aku kan sudah bilang, jangan berpikir yang tidak-tidak, Dek."
"Mas enggak tau rasanya jadi aku sekarang. Sejak tadi aku sudah berusaha berpikir positif. Tapi pikiran aku memang jadi seperti ini setelah semalam, Mas."
"Dek."
"Aaahhh, males banget bicara sama Mas kalau enggak bisa ngerasain jadi aku," ucapnya marah sambil beranak lebih dulu menuju kamar.
"Loh, lah kok jadi aku yang di amuk ini?" gumam Arjuno sambil melihat Zantisya yang kini menuju kamar mereka.
Sebenarnya Arjuno juga kepikiran semenjak sang istri mimpi buruk semalam. Tapi sejak tadi Arjuno memilih berpikir positif dan tetap tenang. Tidak ingin larut dengan pikiran yang tidak-tidak, Arjuno memilih untuk segera masuk ke kamar. Membersihkan diri dan bersiap untuk pergi ke kantor.
Zantisya hanya bisa menghela nafasnya pasrah setelah melihat mobil yang di kemudiakan sang suami sudah melalui gerbang utama rumah mereka. Perasaannya yang masih tidak enak, membuat Zantisya segera menuju kamar. Biasanya perempuan tersebut begitu produktif saat suami dan anak-anak sudah meninggalkan rumah untuk melakukan aktivitas harian. Tapi hari ini Zantisya rasanya malas untuk melakukan apapun.
Begitu memasuki kamar, Zatisya meraih ponselnya dan duduk di atas ranjang sambil bersandar di kepala ranjang. Entah sudah berapa kali ia menghela nafasnya, entah kenapa perasaan Zantisya semakin tidak enak sendiri.
"Apa aku telpon saja ya? Tapi kan mereka di luar negeri, bisa saja kalau saat ini nomor ponsel Safir tidak bisa di gunakan karena tidak dapat jaringan kan?" sungguh hati Zantisya sangat bimbang, Ia berusaha untuk mengikuti apa yang di sarankan oleh sang suami agar berpikir positif.
__ADS_1
Sampai pada akhirnya, ponsel yang baru saja Zantisya letakkan begitu saja terdengar bergetar. Zantisya segera meraih ponselnya tersebut. Mengetahui kalau itu nomor baru dan terlihat seperti nomor dari luar negeri, membuat Zantisya berpikir kalau itu adalah Safir.
"Halo, assalamualaikum. Safir," panggil Zantisya. Saat ini yang ada di pikiran Zantisya memang hanya Safir saja.
"Waalaikum salam. Ini Divya, Bunda."
"Oh," hanya spontan saja Zantisya memberikan tanggapan seperti itu. Bukannya tidak senang Divya menghubungi dirinya, tapi entah kenapa ada rasa kecewa yang mendera hati Zantisya karena yang ia tunggu sejak tadi adalah Safir. "Ada apa Di?"
"Bunda, Divya harus beri tahu sesuatu kalau saat ini Safir di rawat di rumah sakit."
Deg!
Untuk sesaat Zantisya terdiam. Ia rasanya seperti sedang bermimpi setelah mendengar ucapan Divya barusan. Semalam ia bermimpi buruk sampai membuat pikirannya terganggu seperti ini. Tapi siapa yang bisa menduga kalau kekhawatirannya benar-benar terjadi.
"Apa Di?" tanya ulang Zantisya untuk memperjelas keadaan.
Kedua mata Zantisya nampak berkaca-kaca. Bagaimana mungkin dalam keadaan seperti ini, jarak yang memisah kan mereka tapi anaknya dalam keadaan sakit.
Bagaimaba mungkin, anaknya yang pergi dalam keadaan sehat, kini Zantisya harus menerima kenyataan seperti ini.
"Bagaimana bisa Safir sakit Di? Ini bukan pertama kalinya dia ke Paris. Bagaimana mungkin Safir bisa sakit sampai harus mendapatkan perawatan seperti itu," tuntut Zantisya yang sangat membutuhkan penjelasan.
"Divya hanya ingin memberi tahu Bunda tentang keadaan Safir saat ini," ucapnya yang kini sedang ketakutan karena tidak ingin jika Zantisya memarahi dirinya melalui sambungan telepon seperti ini.
__ADS_1
"Divya. Bilang sama Bunda dulu," tuntut Zantisya yang jadi menyentak.
"Maafin Di, ya Bunda. Assalamualaikum."
"Waalaikum salam. Ya Allah anakku," gumam Zantisya. Tanpa pikir panjang lagi, Zantisya segera menghubungi Arjuno.
*
Sejak tadi Arjuno berada di ruangan meeting. Ia mengubah mode peraturan setiap kali sedang mengurus pekerjaan penting seperti ini. Karena Arjuno tidak ingin kalau ada panggilan yang pada akhirnya mengganggu pekerjaannya. Hal seperti ini sudah di ketahui oleh Zantisya.
Tok tok tok
Sekretaris Arjuno yang sedang menyampaikan permasalahan yang sedang mereka bicarakan langsung terdiam, dan Arjuno pun meminta seseorang untuk mempersilahkan orang di luar sana untuk masuk. Jika sudah seperti ini, ada kemungkinan itu adalah hal penting.
"Ada apa?" tanya salah satu karywan yang baru saja membukakan pintu dan melihat karyawan resepsionis yang ada di sana.
"Maaf Pak. saya harus menyampaikan pesan penting untuk Pak Arjuno," ucapnya dengan air muka yang nampak khawatir.
"Silahkan," ucapnya sabil melebarkan pintu.
"Terimakasih," ucap seorang karyawan perempuan. Setelah itu ia segera mendekati Arjuno. "Maaf Pak Arjuno, baru saja Ibu Tisya menelpon."
"Benarkah?" tanya Arjuno sambil merogoh ponselnya yang ada di saku jas. "Ada apa?" tanyanya sambil melihat beberapa pannggilan tidak terjawab dari sang istri.
__ADS_1
"Ibu bilang, Bapak harus pulang sekarang dan segera pergi ke Paris, karena saat ini Mas Safir sedang di rawat di rumah sakit."
"Apa!"