
Siang ini Queen dan Ruby berangkat kuliah bersama-sama. Karena kebetulan jadwal jam kuliah mereka berdua sama.
"Tumben banget loh kita bisa berangkat bareng kaya gini," ucap Ruby saat mereka berdua sudah berada di dalam mobil yang sudah di kemudikan sopir.
"Sebenarnya hari ini aku kuliah jam 1 nanti. Tapi ini ganti jadwal kuiah dosen yang kemarin keluar negeri."
"Owh," Ruby hanya mengangguk pelan. "Jadi nanti kamu pulang sore?"
"Iya. Kamu Mai?"
"Aku pulang jam duaan. Aku enggak tungguin kamu enggak apa-apa ya?"
"Ya enggak apa-apa lah Mai. Lagian kasihan bocil kalau kamu pulang sore barengan sama aku."
"Yeah itu maksud aku."
Jika dulu mereka akan salin menunggu jika salah satu dari mereka sedang melakukan sesuatu, agar mereka bisa pulang sekolah bersama-sama, tentu tidak untuk saat ini. Kehidupan Ruby sudah berubah sejak menikah. Apalagi sekarang Ruby memiliki 3 anak yang sangat perlu kasih sayang Ruby. Maka Queen paham dengan perbedaan kehidupan mereka sekarang.
Benar saja, begitu jam kuliah Ruby sudah selesai, maka Ruby memilih segera pulang.
Karena kuliah hanya beberapa jam saja, membuat sopir menunggu Ruby hingga pulang kuliah. Nanti yang akan menjempput Queen, tentunya sopir Queen sendiri.
*
Seperti yang di sepakati Safir dan Divya. Kalau hari ini mereka akan pergi ke Jakarta , karena Divya memiliki urusan pekerjaan.
Sejak pagi tadi, Divya sibuk dengan pekerjaannya di kantor. Begitu juga dengan Safir.
Meski hanya sebentar berada di kantor, karena pekerjaan Safir yang memang hanya begitu-begitu saja, membuat Safir kini memilih pulang ke rumah orang tuanya untuk mengambil beberapa makanan yang Zantisya buat untuk keluarga di Jakarta, terutama untuk ketiga si kembar.
Setelah saling menyetujui kalau mereka akan pergi ke Jakarta, Safir tentu menghubungi kedua orang tuanya. Membuat Zantisya senang, tapi Safir juga melarang Zantisya untuk memberitahu Ruby kalau ia dan Divya akan pergi ke Jakarta.
"Bunda buat apa saja?" tanya Safir saat melihat Zantisya menata beberapa makanan di dalam koper khusus makanan.
__ADS_1
"Ini ada kue basah, sambel tempe kering. Kakak kamu suka ini, Fir. Terus ada kue kering kesukaan si kembar," ucap Zantisya senang.
"Baru saja Safir yang kesana, Bunda sudah bawakan makanan begiu banyak. Bagaimana kalau Bunda datang kesana dengan Ayah?"
Kalau Bunda dan Ayah yang datang kesana, tentu saja Bunda tidak akan bawa apa-apa. Untuk apa bawa berat-berat kalau Bunda bisa buatkan semua makanan ini di rumah mertua Kakakmu, Fir."
"Benar juga," ucap Safir setuju. Tidak bisa di pungkiri kalau hubungan Zantisya dan Nissa cuku erat. Kedua berhubungan dengan sanga baik selama ini.
"Duuuhhh ... Bunda jadi bayangin tiga anak kecil itu makan kue buatan Bunda," ucap Zantisya senang sambil membayangkan begitu comelnya wajah Shaka, Shaaki, dan Shanum.
Saat sore harinya, Divya sudah pulang ke rumah bersamaan dengan Safir yang juga pulang.
"Bawa apa itu?" tanya Divya saat melihat Safir mengeluarkan koper untuk di pindahkan ke mobil yang lain. Mobil yang akan di gunakan sopir untuk mengantar mereka ke bandara.
"Kue buatan Bunda. Ini untuk keluarga di sana."
"Ya Allah, di sana juga Oma suka buat kue. Kok ya berat-beratin bawaan saja," ucap Divya yang menurutnya hal seperti itu hanayalah membuat mereka semakin banyak beban bawaan.
Mengingat wajah senang Zantisya saja, sudah membuat Safir tidak tega jika ia sampai tidak jadi merekam video ketiga keponakannya saat makan kue buatan Zantisya.
"Aku pikir, bunda mau titip sedikit. Enggak tahunya sebanyak itu."
"Apa dulu, saat kamu pulang ke Indonesia dan pergi lagi ke luar negeri, kamu tidak membawa apapun dari Indonesia?" tanya Safir yang jadi penasaran sendiri.
"Jarang. Aku menyukai semua jenis makanan. Yang penting halalkan? Jadi kalau di luar negeri saja ada, kenapa aku harus membawa dari indonesia?" tanya balik Divya sambil menatap heran pada Safir. Divya memang tidak ingin membuat sesuatu yang mudah menjadi ribet.
Safir hanya bisa menghela nafasnya pelan. Dulu saat Safir KKN selma 2 bulan saja, Safir sudah sangat merindukan menu masakan Zantisya. Sampai membut Zantisya datang untuk melihat keadaan Safir dan membawakan beberapa makanan untuk Safir. Tapi sekali lagi, Safir tidak bisa menyamakan cara pandang hidupnya dengan cara Divya.
Safir sungguh tidak ingin memperpanjang masalah mereka. Maka sekarang, Safir harus menghentikan semuanya.
"Penerbangan jam berapa? Kita harus bersiap sekarang," ucap Safir mengingatkan.
"Oh iya. Ayo kita bersiap," ucap Divya sambil menepuk keninnya.
__ADS_1
Sore ini, Safir dan Divya benar-benar melakukan penerbangan ke Jakarta. Keduaanya sepakat tidak memberikan kabar apapun pada satu keluarga yang ada di sana.
Sampai pada akhirnya, pesawat yang sejak tadi menempuh penerbangan, kini sudah mendarat di Bandara. Setelah itu mereka segera mencari taksi untuk menuju ke kediaman Yusuf dan Nissa.
"Assalamualaiakuuummm ... " Salam Divya yang sudah sampai. Divya lari saat sudah keluar dari dalam mobil untuk memasuki rumah. Rasanya Divya sudah tidak sabaran lagi untuk bertemu dengan si kembar terutama dengan Shanum.
Sedangkan kini, Safir sibuk membawa dua koper untuk memasuki rumah. Awalnya, Safir ingin mengajak Divya untuk bermalam di hotel saja. Entah kenapa, ada sesuatu hal yang membuat Safir tidak ingin singgah di rumah Yusuf tersebut. Padahal Safir sendiri sangat merindukan tiga keponakannya.
"Waalaikum salam ..." Setelah menjawab salam, Nissa dan Yusuf yang sejak tadi mengawasi trio S bermain hanya terkejut melihat kedatangan cucu pertama mereka tersebut. "Divya," gumam keduanya.
"Opa, Oma, bagaimana kabarnya?" tanya Divya setelah bersalaman dengan keduanya.
"Kabar kami ahamduillah baik. Divya datang ke sini dengan siapa?"
"Dengan Safir," ucap Divya semangat dan tersenyum begitu manis. "Di, ke si kembar dulu."
Sedangkan kini, Ruby hanya terpaku melihat keberdaan Divya yang kini menghampiri ketiga anaknya. Bukannya segera menghampiri Divya, Ruby justru melihat ke arah jam dinding.
Ruby langsung lari menuju kamarnya lagi untuk mengambil ponsel. Sebentar lagi Queen akan sampai rumah, Ruby harus memberitahu Queen semua ini. Agar Queen tidak sampai pulang ke rumah. Akan jadi masalah selanjutnya jika Queen sampai bertemu dengan Safir lagi. Apalagi sekarang keadaan hati Queen juga sepertinya sudah lebih membaik.
"Halo Queen, kamu ada di mana?" tanya Ruby setelah Queen menerima panggilan suara darinya.
"Ini aku baru sampai rumah. Ada apa Mai?" tanya Queen bingung, karena mendengar suara Ruby yang sepertinya sangat mengkhawatirkan sesuatu.
Brug!
"Masuk ke dalam mobil sekarang dan segera pergi ke hotel. Safir dan Kak Di baru saja datang."
Deg!
Queen yag baru saja keluar dari mobil dan langsung balik badan karen ingin memasuk rumah. Kini Queen hanya terpaku saat kedua matanya justru bertemu tatap dengan lelaki yang sedang ingin Queen lupakan.
"Tidak apa-apa, Mai. Aku sudah terlanjur melihatnya," ucap Queen pasrah.
__ADS_1