Duka Pernikahan

Duka Pernikahan
BAB 149 Ingin Memperbaiki Kesalahan


__ADS_3

Sudah selama 2 bulan ini Divya melakukan pengobatan. Ia menurut dengan apa yang diucapkan oleh Vian. Selama itu, kegiatan Divya setiap pagi tentu mengurusi tanaman bunga dan sayuran yang ia tanam. Baik sayuran yang Divya tanam menggunakan pot dan juga sayuran yang Divya dan Vian kembangkan melalui cara hidroponik.


Selama tinggal di Villa, banyak hal positif yang bisa Divya lakukan sejak satu bulan terakhir ini. Terkadang sesekali dirinya memilih untuk bergelut di dapur bersama dengan Vian. Sangat beruntung karena Vian bisa melakukan pekerjaan dapur. Meskipun hanya membuat cah kangkung, tapi Divya dan Viab sangat senang karena itu adalah hasil dari tanaman mereka berdua.


Sejak akhir-akhir ini, pikiran Divya sepertinya sudah mulai terbuka. Ia banyak berpikir untuk menyadari segala kesalahan yang sudah ia buat.


"Kenapa Kak?" tanya Vian.


Sejak tadi mereka sedang disibukkan dengan pekerjaan dapur. Mereka akan membuat ikan bakar dan cah kangkung tentunya.

__ADS_1


Sejak tadi Divya yang bertugas memotongi gagang kangkung. Dan kini tiba-tiba Divya terdiam. Membuat Vian jadi bingung.


"Aku harus meminta maaf sama Queen, Vian. Aku banyak salah sama dia. Aku harus mengakui semua perbuatanku selama ini padanya dan Safir. Sekarang aku siap kalau Queen sampai membenci aku."


Vian yang sedang membersihkan ikan, membuat tangannya berhenti bergerak. "Kak, Vian, Mama, Papa, dan keluarga kita yang lainnya sudah sepakat untuk tidak memberi tahu Queen tentang masalah ini. Kakak tahu Queen itu seperti apa. Kalau dia tahu semuanya, dia bukannya membenci Kakak tapi justru menyalahkan dirinya sendiri. Queen pasti akan merasa sakit hati lagi, Kak. Bukan karena Kakak. Tapi karena merasa itu semua adalah salahnya. Dan hal lainnya, pasti akan ada kecangguan diantara Kakak dan Queen nantinya. Sudah, biarkan semua itu berlalu dan menjadi pelajaran hidup untuk kita semua yang mengetahui masalah ini. Biarkan Queen dengan sikap manjanya dan juga rasa rindu yang dia punya untuk Kakak. Dan kalau Kakak sudah ingin bertemu dengannya lagi, dekati dia dan ungkapkan rasa rindu Kakak dengan hati yang tulus. Kakak pahamkan maksud Vian?" tanyanya karena tidak ingin jika Divya sampai salah sangka dengan semua ucapannya. Apalagi kalau Divya sampai mengira dirinya lebih berat dengan perasaan Queen saja. Dari pada dengan perasaan Divya.


Mulut Divya memang mudah mengatakan ini semua. Tapi hati kecilnya terasa sulit karena Divya sadar kalau dirinya mencintai Safir. Hanya saja, setelah pikirannya terbuka, membuat Divya bisa berfikir dengan jernih dan dengan hati yang sedang belajar ikhlas.


"Jangan paksa hal itu bisa cepat terjadi, Kak. Mereka sudah sama-sama memiliki kisah dan jalan hidupnya. Kalau mereka memang berjodoh, maka biarkan dengan sendirinya hati mereka yang bergerak atas keinginan mereka sendiri. Saat ini, aku yakin Safir juga sedang menyembuhkan perasaannya. Dan Queen. Kakak juga tahu dia tidak mungkin mengambil keputusan seperti itu secepat kilat. Apalagi Queen tahunya Kakak mencntai Safir."

__ADS_1


"Lalu aku harus apa sekarang Vian? Aku bingung sekali untuk melakukan hal baik pada orang yang sudah aku sakiti," ucap Divya yang kini jadi meraa frustasi sendiri.


"Alangkah lebih baik, kalau Kakak membuat hubungan baik lagi dengan Queen. Kasihan Kak dia. Oma beberapa kali mendapati Queen menangis karena rindu Kakak. Hal seperti ini sebelumnya tidak pernah terjadi kan? Dan sekarang Kakak dan Queen sudah 2 bulan lebih tidak saling berkomunikasi. Jelas saja saat ini Dia sedih karena rindu Kakak."


"Emmm, kalau begitu apa nanti malam aku boleh pinjam ponsel kamu? Aku mau telfon Queen, Vian."


Vian tersenyum. Ia mengangguk cepat saat melihat tatapan tulus dari Divya. Hatinya sangat bersyukur karena usahanya selama 2 bulan ini sudah mulai membuahkan hasil.


"Tentu saja boleh. Sekarang kita masak dulu, Nanti setelah makan malam, kita hubungi Queen ya Kak?"

__ADS_1


__ADS_2