
"Maaasss ... Queeennn ... Pada ngapain sih?" tanya Ruby yang keheranan sendiri melihat suami dan keponakannya tersebut.
"Memang kelakuan Om sama ponakannya sama saja," ucap Nissa sambil terkekeh pelan lalu meninggalkan ketiganya.
Grep!
"Stoooppp ..." Teriak Zen sambil merangkul sang istri. Kali ini, baru rasanya benar. Karena Ruby memang sangat pas dan mudah untuk Zen selipkan di bawah ketiaknya.
"Mas ini," cap Ruby sambil mencubit perut Zen pelan.
Sedangkan Queen hanya tersenyum samar. Ia senang karena sahabatnya itu bertemu dengan lelaki yang tepat. Hubungan keduanya terlihat lucu dan menggemaskan. Keduanya selalu terlihat harmonis dan bahagia di sela-sela tingkah keduanya yang masih seperti anak kecil yang suka jahil. Queen jadi sadar, tidak semua orang bisa seberuntung Ruby. Dirinya cukup bersyukur dengan hidupnya sendiri.
"Swiiittt ... Swiiittt ..." Zen sampai bersiul karena melihat penampilan Queen sore ini. "Sayang tahu, aku pikir tadi Queen itu sayang, loh. Pantes saja kok perasaanku saat lihat kamu dari belakang kok badannya agak lebih besar. Ternyata aku salah sasaran saat ngerangkul Queen."
"Mas memang kebiasaan deh."
"Cantik loh," puji Zen sambil mengacungkan jempolnya pada Queen.
"Terima kasih, Om."
"Ini hanya kebetulan atau memang mau seperti ini terus?" tanya Zen memastikan.
"Bismillah dulu. Insya Allah Queen akan istqomah, Om."
"Alhamdulillah," Zen mendekati Queen dan mengusap puncak kepala Queen. "Semoga kebaikan dan kebahagiaan selalu menyertai Queen."
"Aamiin," rasanya sangat menyenangkan dan semuanya terasa lebih ringan saat Queen mendapatkan hal-hal positif selama ikut tinggal disini.
__ADS_1
"Ayo mandi," bisik Zen, sambil menyentuh pundak Ruby.
"Kenapa?" tanya Queen saat melihat Ruby yang melebarkan kedua matanya.
Ruby hanya bisa tersenyum malu di saat wajahnya bersemu. "Enggak apa-apa."
*
Cukup dua bulan saja Queen yang mengambil alih toko kue yang di beri nama S3 Bakery tersebut. Karena semenjak Ruby fokus menyusun skripsi, Ruby menyerahkan semuanya pada Queen. Cara marketing yang Queen jalankan sekarang, sudah di bicarakan dengan Ruby terlebih dahulu.
Sepertinya apa yang di pikirkan Queen dan Ruby memang sejalan. Semua yang di sampaikan Queen hampir sama dengan apa yang sudah Ruby rencanakan. Hanya saja, Ruby belum berani ambil resiko jika toko kuenya itu ramai dan dirinya di limpahi banyak pesanan. Karena Ruby memikirkan dirinya yang seorang istri dan juga seorang Ibu. Belum lagi Ruby harus menyelesaikan kuliahnya terlebih dulu.
Karena toko kue hanya untuk tempat healing Ruby, maka Ruby memilih jalan santai saja. Tanpa menggebu mencari pelanggan, toko kue Ruby sudah cukup ramai pengunjung. Lalu bagaimana jika dirinya serius melakukan semuanya.
Sesuai dengan yang Zen ucapkan, yang utama bagi Ruby tetap keluarga. S3 Bakery adalah tempat hiburan semata. Bukan maksud Zen melarqng istrinya untul berkarir.
Sudah sejak dua minggu ini, Queen sudah mulai sibuk kuliah S2. Sedangkan Ruby fokus dengan tugas akhirya. Saat sebelum kuliah, Queen sangat fokus mengembangkan usaha Ruby tersebut. Siapa yang menduga kalau prosesnya kan secepat ini.
Sedangkan Ruby, selama 2 bulan ini ia tidak menerima pesanan apapun. Untuk sementara waktu, pesanan kue karakter buatannya di tutup terlebih dahulu.
"Selamat siang Ibu," sapa karyawan yang bertugas melayani customer, saat melihat kedatangan Ruby.
"Siang."
Ruby jelas tersenyum ramah. Ia segera memasuki ruangan pembuatan kue untuk menemui Queen.
"Hai Mai," sapa Queen saat melihat kedatanagan Ruby.
__ADS_1
"Hai. Bukannya kamu hari ini ada jadwal kuliah?"
"Ada. Tapi tadi kosong, karena dosen sedang ke luar negri. ini aku lagi buat pesanan yang harus aku buat besok. Besok aku kosong, kita jalan sama anak-anak yuk," ajak Queen sambil terus melakukan pekerjaannya.
"Boleh. Aku menemui Mbak Ira dulu ya," ucap Ruby yang langsung berlalu.
Tujuan Ruby datang ke toko karena mau menemui Ira yang sebagai kepala toko. tugas Ira tentu untuk memastikan semuanya, termasuk stok bahan baku dan juga pengeluaran dan pemasukan yang harus di perinci dengan jelas.
*
"Aku punya teman, 4 bulan lagi dia akan menggelar pesta pernikahan. Rencananya ingin meminta design Tante Reina. untuk pengantin, keluarga dan juga bridesmadnya. Kalau tante punya stok rancangan dan yang lainnya, kamu coba tawarkan saja pada temanku itu. Bagaimana?" tanya Lusi. Teman sekolah Divya saat mereka duduk di bangku SMA. "Coba tawarkan sample mentahnya dulu. Kalau tidak yang langsung saja kamu di Jakarta, Di."
"Ada sih rancangan Mama yang ada di aku. Aku pikirkan dulu deh. Karena minggu-minggu ini juga aku sudah punya janji dengan beberapa klien."
"Ok. Tapi kalau bisa luangkan ya,Di. Dia ingin sekali menggunakan gaun pernikahan rancangan Tante Reina. Dia ingin datang ke Malang tapi jadwal pekerjaannya masih padat katanya."
Untuk sesaat Divya berpikir, sudah hampir satu bulan ini hubungannya dengan Safir sudah sedikit membaik. Safir sudah mulai perhatian lagi dengannya. Mungkin jika mereka pergi ke Jakarta sekaligus liburan sejenak, bisa membuat hubungan mereka semakin erat lagi.
"Nanti aku bicarakan dengan suamiku dulu deh. Kalau dia bisa aku ajak ke Jakarta, kemungkinan aku akan usahakan untuk menemuinya."
"Ok. Kabarin kalau memang mau ke Jakarta, Oh iya, nomornya aku kirim sekarang ya," ucap Lusi sambil memainkan ponselnya. "Oh iya Di, aku pulang duluan ya. Sudah waktunya jemput anak. Kamu mau pulang sekarang atau kembali ke kantor setelah ini?" tanyanya sambil bersiap kemudian Lusi menyesap minuman segarnya.
"Nanti dulu deh. Malas juga aku pulang lebih awal. Safir juga masih di kandang sepertinya. Kamu hati-hati ya?"
"Ok."
Divya memilih bersantai sejenak sambil menikmati minuman segar dan beberapa camilan yang ada di depannya."
__ADS_1
"Divya."
"Eh, Mas Dafa."