
Selama penerbangan berlangsung, sepertinya Zantisya tidak juga berhenti menangis. Mungkin stok air mata istri Arjuno itu sangat banyak, membuat kekhawatiran Zantisya terus di gambarkan dengan tangisan. Padahal Arjuno sudah menenangkan Zantisya. Namanya juga seorang ibu, rasa khawatir akan selalu di gambarkan dengan seperti ini. Hingga selama hampir 20 jam penerbangan, Zantisya dan Arjuno sampai tidak bisa mengisi perut mereka. Bagaimana mungkin mereka bisa menelan makanan, sedangkan mereka belum melihat keadaan anak mereka.
Jam 8 pagi waktu setempat, pada akhirnya pesawat sudah mendarat di bandara tujuan. Arjuno dan Zantisya bergegas keluar dari sana dan mereka segera menaiki taksi untuk menuju rumah sakit yang sudah di kirimkan Divya melalui pesan singkat.
Begitu sampai rumah sakit, Arjuno segera menanyakan pada salah satu petugas di sana. Menanyakan di sebelah mana ruang rawat Safir saat ini.
Di depan ruangan yang di tunjukkan petugas, Arjuno dan Zantisya melihat kalau saat ini Safir dan Divya sedang berbincang. Ingin sekali rasanya mereka masuk, tapi mereka sadar diri kalau ruangan tersebut tidak bisa di kunjungi semau mereka.
"Maaf Sus. Kami orang tua dari pasien Safir Al Ghani dari Indonesia. Boleh kami bertanya tentang anak kami?" tanya Arjuno saat melihat petugas kesehatan baru saja keluar.
"Boleh Pak. Mari saya antar ke ruangan dokter yang bertanggung jawab."
Kini Arjuno dan Zantisya sudah berada di dalam ruang kerja dokter. Hanya beberapa menit saja keduanya menunggu dokter yang baru saja memeriksa pasien di bawah tanggung jawabnya.
__ADS_1
"Jadi bagaimana keadaan anak kami Dokter?" tanya Arjuno setelah mereka saling berkenalan sesingkat mungkin.
Baik Arjuno maupun Zantisya, keduanya sama-sama terkejut kalau Safir masuk rumah sakit setelah minum obat kuat. Hingga mengakibatkan Safir merasakan keluhan jantung berdebar, pusing, sesak nafas, dan juga demam. Dan keadaan itulah yang membuat Safir akhirnya di larikan ke rumah sakit hingga mendapatkan perawatan yang Safir dapatkan saat ini.
Awalnya Arjuno dan Zantisya mengira kalau Safir yang berinisiatif sendiri menggunakan obat tersebut. Keduanya seolah belum mencerna dengan baik penjelasan yang di berikan oleh dokter. Namun, siapa yang bisa menduga kalau ternyata Divya sendiri yang memberikan obat tersebut tanpa sepengetahuan Safir.
Dokter juga bertanya pada pasangan suami istri tersebut apakah Safir memiliki alergi obat tertentu. Karena jika di lihat dari dosis obat yang Safir minum, obat tersebut sudah sesuai dengan standar. Sungguh, apa yang terjadi dengan Safir tidak terduga karena efek sampingnya langsung terjadi seperti itu.
Sungguh, hati Zantisya dan Arjuno menjadi lega karena perkembangan Safir saat ini. Namun, hati Zantisya belum puas jika dirinya belum bisa melihat Safir secara langsung.
Baru saja Zantisya dan Arjuno keluar dari ruangan dokter dan menuju ke ruangan perawatan Safir saat ini, seketika itu juga keduanya bertemu tatap dengan Divya yang baru saja keluar.
"Bunda, Ayah," walau merasa takut dan juga gugup, tapi Divya segera bersalaman dengan mertuanya tersebut. Perasaan Divya semakin tidak enak, karena ia mendapatkan tatapan tajm dari Zantisya. "Bunda dan Ayah sejak kapan datang?"
__ADS_1
"Mas saja yang melihat Safir. Biar aku bicara dengan Divya dulu," bukannya menanggapi pertanyaan menantunya, Zantisya justru bicara pada Arjuno.
"Kamu saja yang melihat Safir, Dek. Sejak kemarinkan ..."
"Mas saja. Aku bisa bertemu dengan Safir setelah nanti di pindahkan ke ruang perawatan," ucap Zantisya yang terdengar memaksa Arjuno.
Deg!
Seluruh tubuh Divya seketika tersa bergetar saat mendengar ucapan Zantisya. Degup jantungnya semakin bekerja cepat karena perasaannya semakin tidak enak. Entah apa yang akan Zantisya bicarakan padanya.
"Kalau begitu aku masuk dulu," ucap Arjuno sambil mengusap punggung Zantisya sebentar. Arjuno tahu kalau saat ini Zantisya sedang kecewa. Sedang menahan rasa marah karena mengetahui perbuatan Divya. Meski begitu, Arjuno berharap kalau Zantisya tidak sampai lepas ucapan. Semua ini terjadi juga pasti ada alasannya.
"Bu-bunda ..." panggil Divya sampai tergagap.
__ADS_1