Duka Pernikahan

Duka Pernikahan
BAB 101 Lusa ke Jakarta


__ADS_3

Divya melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang. Ingin sekali Divya melaju lebih cepat lagi. Tapi sayangnya jalanan nampak padat kendaraan.


Perempuan yang sudah bergelimangan uang di akun pribadinya dari hasil kerja kerasnya membantu Reina. Tidak ada hal yang di butuhkan Divya dari orang lain, karena Divya memang mandiri sejak dulu dan juga cantik. Divya selalu cepat dalam menyelesaikan pekerjaan yang Reina berikan. Maka dari itu, Divya punya kuasa tersendiri saat akan menjual hasil rancangan Reina. Sepenuhnya Reina percaya dengan anak sulungnya tersebut, jika sudah berkaitan dengan bisnis fashion.


Tidak ada materi yang Divya butuhkan dari pasanan hidup Divya. Karena usianya yang memang sudah dewasa dan mapan, tentu membuat Divya lebih membutuhkan tentang cinta dan kasih sayang. Lebih mudahnya adalah tentang hubungan ranjang.


Pernikahan Divya dan Safir sudah beberapa bulan. Mereka memang sudah melakukan beberapa kali. Tapi sayangnya sampai saat ini Divya belum tahu rasanya sebuah kenikmatan duniawi dari laki-laki yang Divya cintai tersebut.


Sepertinya kejadian di Paris itu benar-benar menimbulkan masalah besar bagi keduanya. Membuat Divya juga tidak berani lagi memaksakan kehendaknya. Divya jelas tidak ingin jika apa yang pernah terjdi di Paris kembali terulang lagi. Divya benar-benar takut kehilangan Safir. Namun, untuk mendapatkan apa yang Divya butuhkan, maka Divya selalu memancing Safir. Menggunakan pakaian se*ksi setiap kali mereka berada di dalam kamar. Terutama saat malam hari.


Sudah ada perubahan dari diri Safir. Karna secara perlahan, sepertinya Safir mulai percaya diri lagi untuk menyentuh Divya. Karena akhir-akhir ini, Safir selalu membicarakan sesuatu dengan Divya sambil tiduran bersisihan. Sekarang, Divya hanya perlu bersabar sampai Safir sendiri yang menginginkan dirinya.


Yang berjanji akan bertanggung jawab dengan hubungan mereka adalah Safir. Yang Safir yakini berusaha baik untuk mendapatkan kebaikan dalam rumah tangganya juga adalah Safir.


Begitu mobil sudah memasuki garasi, Divya segera keluar dari sana dan segera memasuki rumah. Buru-buru Divya menuju kamar, karena sore sudah berganti petang. Divya sangat berharap kalau Safir belum pulang. Tapi sepertinya tidak mungkin.


Klek!


Baru saja Divya membuka pintu kamarnya, kedua mata Divya sudah di suguhi dengan lelaki yang menggunakan sarung dan juga baju kurta. Terlihat sekali kalau Safir baru saja menjalankan ibadah.

__ADS_1


"Fir."


"Dari mana saja kamu? Kenapa jam segini kamu baru pulang, Di?"


Air muka Safir terlihat datar dan juga kecewa pada harapannya sendiri. Ini bukan masalah cemburu atau tidak. Tapi Divya sama sekali tidak memberi Safir kabar kalau akan pulang telat seperti sekarang. Maka sekarang, Safir menahan rasa kecewanya dan ingin tahu apakah Divya akan berkata jujur.


Divya menahan rasa paniknya. Ia melangkah pelan untuk mendekati Safir yang berdiri di ujung ranjang.


"Kan aku tadi sudah bilang kalau aku membuat janji dengan Lusi," ucap Divya kemudian memberikan senyuman pada Safir. Mana mungkin Divya mau berkata jujur, kalau Safir pernah marah dengannya perkara Dafa.


Sedangkan kini, kuku ibu jari Safir sampai menekan jarinya yang lain karena pada akhirnya, Divya memilih untuk tidak berkata jujur.


"Sebenarnya aku sudah menuju pulang ke rumah lebih awal, Fir. Hanya saja jalanan macet, jadi jam segini aku baru pulang. Maaf ya."


Pada akhirnya, Divya tetap memilih berbohong karena tidak ingin jika Safir mengetahui semuanya. Karena selama ini, Divya memang tidak pernah bicara pada Safir jika tidak sengaja bertemu dengan Dafa.


"Ok," ucap Safir pasrah. Hak Divya mau membohongi dirinya. Tidak masalah bagi Safir. Hanya saja, jika seperti ini entah bagaimana caranya hubungan mereka kedepannya.


Safir meraih kantong plastik berisi kue pancong yang ada di atas meja. Bukan untuk di berikan pada Divya, karena kini Safir justru keluar kamar untuk memberikan makanan tersebut pada Art.

__ADS_1


"Apa pekerjaannya sedang ada masalah? Apa karena aku yang pulang telat?" gumam Divya. Sedangkan kini, hati Divya itu mulai resah sendiri. "Kenapa juga sih aku tadi lupa waktu saat bicara dengan Mas Dafa?"


Bagaimana mungkin Divya tidak terhipnotis dan lupa waktu saat bicara dengan Dafa. Karena Divya merasa nyaman dan nyambung saat mengobrol dengan Safir.


Divya hanya bisa menghela nafasnya pelan. Sekarang tujuan Divya adalah kamar mandi.


Reina dan Hendri sedang pergi ke luar kota selama satu minggu kedepan. Jadi malam ini, Safir dan Divya makan malam hanya berdua saja. Tidak ada perbincangan di antara keduanya. Karena mereka memilih fokus dengan menu makan malam mereka saja.


"Lusa ada pekerjaan penting enggak?" pada akhirnya, Divya lebih dulu membuka pembicaraan. Memutus keheningan di antara mereka berdua.


"Enggak tahu."


"Aku ada pekerjaan penting di Jakarta, kamu ikut ya? Sekalian ketemu dengan trio S. Rindu sekali aku dengan Shanum. Emmm, sekalian kita bulan madu tipis-tipis. Ya?"


Safir menghela nafasnya dalam. Ia akan mencoba untuk mengulang lagi. Siapa yang tahu kalau dengan mereka pergi ke Jakarta, membuat hubungan mereka bisa membaik. Lagi pula, hati Safir tersentuh karena Divya mengatakan trio S. Safir juga sangat merindukan 3 keponakannya tersebut.


"Mama sedang ke luar kota, memangnya tidak masalah kalau kamu ke Jakarta?"


"Masih ada sekreraris Mama. Lagian aku ada pekerjaan penting. Jadi tidak akan masalah. Bagaimana?"

__ADS_1


__ADS_2