
"Bagaimana?" tanya Divya saat sudah bertemu dengan Lusi.
"Senang sekali aku, Di. Rasanya duniaku kembali lagi," ucap Lusi dengan air muka yang begitu senang.
Sejak sudah menikah, Lusi memang tidak di perbolehkan kerja lagi. Suami Lusi berpikir untuk apa istrinya kerja kalau dirinya saja sudah lebih berkecukupan untuk meghidupi Lusi. Yang terpenting Lusi fokus dengan urusan keluarga, terutama untuk anak mereka.
"Tuhkan, apa aku bilang. Perempuan itu harus tetap mandiri sekalipun punya suami yang kaya raya. Kita tidak pernah tahu bagaimana kehidupan kedepannya kan? Jika sesuatu hal yang tidak diinginkan terjadi, maka kita akan tetap bisa berdiri tegak karena sudah terbiasa mandiri secara finansial. Diam-diam saja Lusi dari suami kamu, kalau memang tidak diizinkan."
"Aku sudah bilang sama suami aku, Di. Biar berkah rezeki yang aku dapat nanti. Awalnya dia memang enggak setuju, karena takut aku cuekin dia. Lalai sama urusan anak. Tapi setelah aku jelaskan, dia jadi kasih izin. Tapi tetap saja, dia nuntut keluarga aku nomor satu."
"Posesif banget sih suami kamu. Sulit untuk bebas mencari kesenangan," ucap Divya menilai suami Lusi.
"Enggak sulit kok, Di. Sekarang saja buktinya aku bisa nongkrong sama kamu. Yang penting kamu jangan kasih aku target penjuala ya, Di. Akukan hanya amatiran dibidang ini."
"Santai saja lagi, Lus. Yang beli koleksi Mama aku hanya yang mampu-mampu saja kan?" ucap Divya bercanda. Tapi memang benar adanya. Karena rata-rata fasihon yang di buat Reina untuk kalangan menengah keatas.
"Eh, itu Dafa kan?" tanya Lusi sambil menunjuk ke arah lelaki yang sedang berbincang dengan lelaki juga.
"Mana?" tanya Divya sambil mengikuti arah tunjuk tangan Lusi. Divya langsung membalas lambaian tangan Dafa saat Dafa membalas tatapannya. "Sering banget aku enggak sengaja ketemu sama dia. Aneh banget enggak sih?" tanya Divya.
"Jodoh kali."
"Sembarangan kamu."
"Ups, sorry. Lagian ya Di. Dafa tu loh lumayan ganteng, ya walaupun masih jauh ganteng Safir. Tapi apa dulu kamu enggak tertarik dengan dia?"
"Enggaklah," ucap Divya yakin.
__ADS_1
"Masih gamon sama Fahmi ya?" tebak Lusi.
"Apaan sih. Masa lalu sudah enggak perlu di bahas-bahas lagi, Lus," ucap Divya dengan air mukanya yang berubah menjadi kesal.
"Sorry, aku hanya tebak saja."
"Hai, apa aku boleh gabung?" tanya Dafa setelah mendekati kedunya.
"Eh, Dafa silahkan," ucap Lusi sambil bergeser tempat duduk, agar Dafa duduk di depan Divya.
"Terima kasih."
"Sudah sejak tadi kalian di sini?" tanya Dafa. Wajahnya kini berubah senang karena kembali bertemu dengan sang pujaan hati.
"Lumayan. Kamu?" tanya kembali Divya.
"Kelas private anakku sepertinya sudah mau selesai. Sorry ya Di, Dafa, aku duluan," ucap Lusi setelah melihat jam tangannya. Ia segera membereskan barang pribadinya yang ada diatas meja.
Sejak Lusi pergi lebih dulu, Divya juga melihat jam berapa saat ini. Karena Divya memperkirakan kalau Safir belum saatnya untuk pulang, maka Divya memilih untuk saling bicara dengan Dafa. Divya pikir, hanya sebentar saja, tapi siapa yang menduga kalau setelah obrolan mereka selama setengah jam, Safir menelfon Divya dan mengetahui semua ini.
"Safir," gumam Divya. Sekalipun terkejut tapi Divya segera meraih tasnya dan mendekati sang suami. "F-fir, aku bisa jelaskan semuanya," ucap Divya sampai tergagap. Ia meraih tangan Safir agar mendengar apa yang sudah pasti membuat Safir salah paham.
"Kita bicara di rumah," ucap Safir. Ia menarik tangannya secara paksa agar terlepas dari genggaman Divya.
Divya berusaha menenangkan hatinya yang kalut. Ia mengikuti Safir dan mereka segera memasuki lift.
"Fir, tolong jang ..."
__ADS_1
"Sudah aku bilang, kita bicarakan di rumah."
Safir benar-benar ingin marah. Satu, dua, atau tiga kali Divya membohongi dirinya terkait Dafa masih tidak masalah. Safir pikir, anggap saja impas karena dirinya juga merasa bersalah pada Divya. Tapi entah kenapa sekarang rasanya Safir sudah tidak mau lagi kalau Divya terus berbohong padanya.
Safir sudah mengemudikan mobilnya untuk pulang ke apartemen. Begitu juga Divya yang berusaha untuk mempercepat laju mobilnya agar mereka segera sampai rumah bersama-sama.
"Bagaimana ini?" gumam Divya.
*
Setelah pulang dari kantor, Reina terus menyibukkan diri di dapur. Perempuan tersebut rasanya ingin meluangkan waktunya yang sibuk untuk pekerjaan yang jarang sekali Reina lakukan. Semua pekerjaan Reina cepat selesai, karena sebelum pulang Reina sudah meminta Art untuk mempersiapkan semua bahan yang akan Reina olah.
Karena malam ini Vian makan diluar bersama dengan klien, maka Reina berniat memberikan kejutan pada Divya dan Safir agar mereka bisa makan bersama di apartement.
Sampai pada akhirnya, Reina dan Hendri sudah berada di depan aparteman anak mereka. Sudah 3 kali mereka menekan bel, tapi tidak ada yang membukakan pintu.
"Sepertinya anak-anak belum pulang, Sayang."
"Aku coba telfon Divya dulu, Mas," ucapnya sambil merogoh ponsel.
"Kenapa, Ma," tanya Divya setelah menerima panggilan dari Reina.
"Di, kalian ada dimana? Apa belum pulang?"
"Ini Di dan Safir sedang menuju pulang. Sudah dulu ya Ma," ucap Divya dan langsung mematikan panggilan suara sepihak.
"Anak-anak sedang menuju pulang, Mas. Kalau begitu kita langsung masuk saja," ajak Reina karena memang sudah tahu sandi apartement Safir dan Divya.
__ADS_1