
Sopir sudah melajukan mobil dengan kecepatan sedang. Sepanjang jalan, Queen hanya terus menatap keluar mobil. Gadis cantik tersebut hanya diam merasakan luka hati yang terasa ia buat sendiri.
Queen sengaja meninggalkan rumah lebih awal karena dirinya tidak ingin bertemu tatap dengan semua orang yang ada di rumah. Padahal tadi Queen sudah berusaha membuat kedua matanya agar tidak sembab karena dirinya usai menangis saar sebelum tertidur pulas. Tapi nyatanya, kemampuan bermake upnya kurang menutupi apa yang ingin Queen tutupi.
Queen sadar betul, tidak seharusnya semalam dirinya menangis hanya karena mendengar perbincangan kecil yang terjadi diantara Safir dan Divya. Tapi tidak bisa dipungkiri kalau Queen merasa cemburu. Rasa itu hadir begitu saja mendekap hati Queen. Memporak-porandakan keteguhan selama hampir dua bulan ini. Hanya seperti itu saja sudah mampu merapuhkan hati Queen. Lalu bagaimana jika Queen terus melihat kemesraan yang terjadi diantara Safir dan Divya.
'Salahku dimana sebenarnya,' gumam hati Queen. Ia kembali menahan matanya yang terasa perih. Queen tidak mungkin menangisi hal yang seharusnya tidak boleh seperti ini.
Mendengar dering ponsenya, membuat Queen merogoh tasnya. Queen segera menerima panggilan suara yang ternyata dari Vian.
"Iya Kak."
"Apa terjadi sesuatu? Kenapa kamu pergi dari rumah lebih awal. Tidak pamit dengan Oma juga lagi," tanya Vian yang kini sangat mengkhawatirkan adiknya.
"Queen buru-buru, Kak. Tapi tadi Queen pamit dengan Maira kok."
"Ada apa? Bilang sama Kakak," ucap Vian yang masih ingin menyelidiki adiknya. Vian yakin kalau ini masih ada kaitannya dengan Safir lagi.
"Enggak ada apa-apa, Kak. Queen benar-benar ada jadwal kuliah."
"Baiklah. Jaga diri baik-baik."
"Tentu Kak."
*
Setelah selesai sarapan, Safir menemani Divya untuk menemui klien di sebuah restoran yang sejak semalam sudah di reservasi. Karena ingin pergi berduaan saja, membuat Safir membawa salah satu mobil yang ada di rumah.
"Ada yang menarik? Ini semua rancangan Mama aku yang ada sesuai sistem. Ini hanya stok saja. Tapi kalau memang tidak ada yang cocok, bisa langsung temui Mama untuk menyampaikan seperti apa konsep yang diinginkan," ucap Divya saat klien tersebut sedang melihat semua koleksi Reina di sebuat ipad.
__ADS_1
"Aku menyukai ini, tapi apakah untuk warnanya bisa di sesauikan dengan keinginan aku?"
"Bisa. Selama stok bahan yang di butuhkan ada, sudah pasti bisa. Bagaimana?"
"Aku mau ambil baju ini untuk akad dan untuk keluarga yang seperti ini, lalu untuk bridesmaidnya yang ini," ucapnya sambil menunjukkan pilihan.
"Baik. Lalu kapan saya bisa membuat janji dengan semuanya untuk membuat ukuran."
"Besok bisa kok. Tapi kalau ada yang langsung stor ukuran saja bagaimana? Karena keluargaku yang lain ada di luar negeri."
"Tidak masalah."
"Ok, Baiklah."
Setelah segala macam perjanjian dan juga transaksi yang nantinya akan di lakukan selesai di bicarakan. Dan menyepakati jam temu besok, klien tersebut memilih meninggalakn Divya lebih dulu.
"Pergi kemana dia ya?"gumam Divya sambil melihat kesana kemari, mencari keberadaan Safir. Karena sejak tadi. Safir memilih meninggalkan Divya dan klien agar lebih leluasa membicarakan pekerjaan mereka.
*
"Iya, maaf ..." Queen sampai memperhatikan wajah lelaki yang sudah mendekatinya.
"Queen adiknya Divya kan?" tanyanya untuk memastikan lagi.
"Iya benar. Eh, maaf, Kak Fahmi kan?" tanya Queen yang tadi sempat pangling dengan wajah lelaki tersebut. Wajar saja, karena mereka memang sudah sejak lama tidak saling bertemu.
"Betul. Alhamdulillah kamu masih ingat aku Queen. Bagaimana kabar kamu?" tanyanya sambil mengulurkan tangan.
"Aku baik, Kak," ucap Queen sambil menyatukan telak tangannya. Queen tersenyum ramah karena sudah pasti Fahmi paham dengan hal ini. "Kakak bagaimana kabarnya?"
__ADS_1
"Aku baik. Aku tadi sempat pangling loh Queen saat lihat kamu. Sudah canyik ya sekarang, menggunakan jilbab seperti ini," puji Fahmi kagum. Tidak bisa di pungkiri kalau kedua mata Fahmi nampak berbinar menatap Queen.
"Terima kasih Kak. Kakak ada keperluan apa datang ke sini?"
"Owh, aku baru saja mengantar adik ipar aku kuliah. Kamu kuliah atau kerja di sini?"
"Aku kuliah Kak. Jadi Kakak sudah menikah?" tanya Queen antusias.
"Alhamdulillah sudah. Kamu?"
"Aku masih fokus kuliah Kak. Oh iya, Kak Di pasti suka kalau tahu Kakak ada di Jakarta. Kak Di juga sekarang sedang di Jakarta."
"Owh, benarkah?"
"Heem. Mau aku hubungi sekarang? Biar Kakak juga bisa ketemu dengan kawan lama kan?" tawar Queen sambil merogoh ponselnya. Queen yakin Divya akan sangat senang mengetahui keberadaan Fahmi. Karena dulu saat mereka masih duduk dibangku SMA. Divya dan Fahmi cukup dekat hubungan pertemanannya.
"Tidak perlu. Aku hanya ingin mengobrol dengan kamu. Ada restoran di dekat sini, nyantai di sana yuk?" ajaknya ramah, seolah mereka sudah sangat dekat.
"Eh, mana bisa begitu Kak," ucap Queen yang jadi tidak enak sendiri.
"Kenapa? Pasti karena aku sudah menikah ya? Tenang saja, kita mengobrol di sana sambil menunggu kedatangan istri aku. Bagaimana?"
"Boleh kalau begitu. Aku jadi bisa berkenalan dengan istri Kakak deh."
"Benar. Oh iya, sudah ada yang menjemput atau belum? Kalau belum, ayo kita satu mobil saja."
"Aku sudah ada yang jemput sejak tadi Kak. Itu mobilnya," tunjuk Queen pada salah satu mobil yang sejak tadi sudah bersiap membawa Queen pulang. "Kita pergi sekarang. Kakak duluan saja."
Kini mobil yang ditumpangi Queen sudah melaju mengikuti mobil yang di kemudikan Fahmi. Hingga tidak lama kemudian, mereka sudah sampai restoran yang di maksud Fahmi.
__ADS_1
Dari parkiran, Queen dan Fahmi jalan berdampingan sambil saling mengobrol. Hingga kini langkah kaki mereka terhenti saat baru saja memasuki restoran, karena keduanya bertemu dengan dua orang yang mampak terkejut dengan kedatangan mereka.
"Fahmi."