
"Kenapa kamu bohong sama aku, Di?" tuntut Safir. Sekarang ia sangat membutuhkan penjelasan dari Divya.
"A-aku minta maaf, Fir," ucapnya dengan suara yang terdengar bergetar dan juga ketakutan. Divya yang sejak tadi tidak jauh dari pintu, membuatnya segera mendekati Safir.
"Aku tahu Di, aku ini banyak kurangnya. Tidak bisa sesuai dengan keinginan kamu. Tapi tidak seperti ini caranya. Aku masih takut mati, Di. Aku sudah membuat kedua orang tuaku kecewa karena aku mengikuti maumu agar kita tidak menyampaikan kedekatan kita sejak lama. Aku merasa belum mendapatkan maaf dari kedua orang tuaku. Jadi tolong, kita bicarakan baik-baik agar kita menemukan solusinya," sungguh Safir jadi merasa ilfeel pada hubungan mereka. Lalu bagaimana kedepannya mereka bisa melakukan hal itu lagi jika Safir juga jadi semakin tidak percaya diri. Padahal jika boleh di bandingkan, duras ketahanan Safir sudah lebih lama dari biasanya saat terakhir kali mereka berhubungan. Lalu bagaimana dengan kedepannya.
"Aku sungguh minta maaf, Fir. Aku mendapatkan saran tersebut dari Santi. Aku pikir dengan begitu, waktu berduaan kita lebih berkualitas. Kalau aku tahu akan seperti ini, mana mungkin aku berani melakukan hal nekat, Fir," jelas Divya untuk membela dirinya. "Aku sungguh takut kehilangan kamu."
"Apa yang kamu bilang tadi Di?" tanya ulang Safir untuk memperjelas pendengarannya.
"Yang mana?"
"Kamu mendapatkan saran dari Santi?" pertanyaan Safir itu hanya di angguki pelan oleh Divya. "Jadi kamu membicarakan urusan ranjang kita dengan orang di luar sana?" sentak Safir tidak tanggung-tanggung.
__ADS_1
Seketika itu juga, kedua mata Divya melebar bersamaan dengan bibir yang terkatup. Ia baru menyadari kalau dirinya sudah terlalu jauh berucap. "Bukan maksud aku membicarakan urusan ranjang kita, Fir. Aku hanya ingin mendapatkan solusinya saja."
"Untuk mendapatkan solusi tidak dengan cara seperti ini, Di. Kita bisa bicarakan baik-baik. Kita bisa pergi ke dokter agar aku tahu masalahku apa. Karena selama ini aku merasa normal. Mana aku tahu kalau akhirnya akan seperi ini. Kalau kamu membicarakan ke orang lain, sekalipun Santi itu sahabatmu, itu tidak pantas Di. Astaghfirulaaahhh ... Bisa-bisanya kamu menyebar aibku seperti ini."
"Fir, aku berani jamin kalau Santi tidak akan membicarakan ini dengan orang lain. Karena aku hanya cerita ke Santi saja. Sumpah demi apapun," ucap Divya berusaha meyakinkan Safir.
"Aku sudah tidak punya muka di depan orang tua kita, sekarang aku jadi malu karena orang lain juga tahu."
Divya dengan cepat meraih tangan Safir. Ia mencium punggung tangan lelaki tersebut. "Aku minta maaf. Sungguh, aku hanya ingin mencari solusi saja. Aku janji, lain kali aku tidak akan mengulangi hal seperti ini lagi. Tolong maafin aku, Fir."
Setelah acara undangan pernikahan selesai, Yusuf dan Nissa yang awalnya ingin pulang lebih awal, mereka menambah dua hari untuk liburan di Kota Semarang. Tentunya mereka berdua ingin menghabiskan waktu bersama dengan Queen dan juga Vian. Terutama dengan Vian, karena mereka sudah sangat lama tidak saling bertemu.
Setelah puas keliling Kota Semarang, hari ini mereka pulang ke Jakarta. Yang pastinya semua barang pribadi Vian sudah di angkut ke Malang. Sedangakan bekakas dan yang lainnya Vian berikan pada teman satu kerjaannya agar bermanfaat. Sebenarnya Vian ingin sekali membawa gerobaknya pulang ke Malang. Merasa kalau gerobak tersebut adalah hasil perjuangannya selama ini. Tapi di berikan pada temannya juga akan jauh lebih bermanfaat.
__ADS_1
Sepanjang jalan menuju Jakarta, perasaan Vian semakin tidak enak sendiri. Ia lebih banyak berdiam diri karena sebentar lagi ia akan bertemu lagi dengan Zen dan Ruby setelah sekian lama. Rasanya Vian belum siap. Tapi jika tidak memaksakan diri dan berdamai dengan keadaan, maka selamanya ia hanya akan merasa bersalah terus menerus. Hingga pada akhirnya, mobil yang sudah melaju cukup kencang menerjang jalanan tol, kini sudah memasuki halaman rumah Yusuf.
"Alhamdulillah ..." ucap syukur semua orang. Satu persatu, mereka segera keluar dari dalam mobil.
"Shakaaa ... Shakiii ... Shanuuummm ..." Teriak Queen setelah keluar dari mobil.
"Salam Queen, salam," peringatan Yusuf pada cucunya yang sudah akan melarikan diri.
"Oh iya. Assalamualaikuuummm ..." Salam Queen sambil lari cepat. Rasanya Queen sudah tidak sabaran lagi menemui ketiga sepupunya tersebut.
Sedangkan Yusuf hanya bisa menggelengkan kepalanya pelan melihat tingkah pecicilan Queen. Tapi hatinya sangat lega karena kini Queen terlihat sangat ceria.
Nissa yang baru saja akan mengsejajarkan langkah kakinya dengan Yusuf, ia langsung balik badan karena tidak melihat Vian keluar dari dalam mobil.
__ADS_1
"Vian, ayo."