
Semua orang tua pasti memberikan pendidikan yang terbaik untuk anak-anak mereka. Baik pendidikan formal, maupun informal. Dan setiap orang tua, memiliki versi terbaiknya masing-masing untuk setiap anak. Begitu juga dengan ketiga anak Reina dan Hendri.
Apa yang kurang dari pendidikan yang di dapatkan dari Divya, Vian, dan Queen. Saat masih kecil. Ketiganya memang lebih dekat dengan Nissa ketimbang Reina. Karena Reina yang memang tetap berkarir dan Hendri yang masih menjadi sekretaris Yusuf kala itu. Sekalipun sibuk, baik Reina dan Hendri selalu membagi waktu untuk anak-anak. Karena jika mereka sudah di rumah, maka keduanya hanya akan fokus pada ketiga anak mereka saja.
Baik Reina maupun Hendri, keduanya membagi kasih sayang mereka secara utuh dan adil agar tidak menimbulkan rasa iri satu sama lain. Terutama untuk Divya dan Vian yang hanya berjarak 1 tahun. Reina dan Hendri selalu mengembangakan apapun yang di sukai anak-anak mereka. Ingin privat ini dan itu, selama itu baik dan bermanfaat, maka semua keluarga akan mendukung. Bagaimanapun caranya, semuanya di perlakukan sama rata. Namun, tetap saja, sebagus-bagusnya orang tua mendidik anaknya, pada akhirnya anak akan tetap memiliki kepribadian dan tabiat yang mungkin tidak di ketahui orang tuanya.
Dari ketiga anak Reina itu, semuanya selalu Nissa ajarkan untuk urusan dapur. Tidak pandang lelaki dan perempuan, semuanya harus bisa mengetahui pekerjaan sebagai cara untuk bertahan hidup. Namun, dari ketiganya, Divya dan Vian pekat seperti Reina yang memang tidak menyukai pekerjaan dapur. Tersisa Queen yang sepertinya menyukai segala hal yang di ajarkan oleh Nissa.
Maka sekarang, jika Divya tidak bisa memasak, itu karena memang Divya mempunyai dunia yang ia senangi sendiri selain pekerjaan dapur.
Sedangkan Zantisya sendiri hanya membatin karena antara Divya dan Queen sangat pekat perbedaannya. Tapi Zantisya juga tidak bisa menyalahkan Divya, karena memang menantunya itu lebih cenderung ke pekerjaan kantoran.
__ADS_1
"Jika memang tidak tahu, jangan malu untuk bertanya Di."
"Baik, Bunda."
"Sebelum di parut, kulit wortelnya di bersihkan terlebih dulu," ucap Zantisya sambil memberikan contoh. "Kumpulkan dulu bahan sayuran yang akan di buat bakwa," Zantisya mengambil sayur kol, sedikit kecambah, daun bawang. "Nah kalau sidah seperti ini, baru di iris begini," dengan cepat Zantisya melakukan pekerjaannya. "Bi tolong di terusakan itu sayurannya," perintah Zantisya yang kini mau mengajari Divya secara sekilas.
"Baik Bu."
Divya jadi tertegun. Iya jadi ingat saat di luar negeri kalau ia menghubungi Reina selalu mengatakan ingin makan masakan Reina. Sekalipun Reina tidak suka pekerjaan dapur, tapi Reina punya beberapa jenis andalan masakan terenak hasil olahan Reina. Divya akui ucapan Zantisya benar adanya.
Pada akhirya, semua pekerjaan di lakukan Zantisya sendiri. Waktu sudah semakin sore. Bukan saatnya Zantisya untuk memberikan tutorial masak memasak pada menantunya. Yang ada menu tidak segera matang dan mereka tidak segera makan malam nantinya.
__ADS_1
*
Setelah selesai membersihkan diri, Safir keluar dari kamar mandi dengan tubuh yang berbalut handuk. Safir berdiri di depan kaca. Melihat pantulan seluruh tubuhnya. Safir menyentuh otor-ototnya yang mulai menghilang, karena memang berat badan Safir berkurang sejak dari sebelum menikah. Hingga kini dirinya baru saja keluar dari rumah sakit.
"Kurus sekali aku ini," gumamnya sambil melihat lengan tangannya. Kemudian Safir mengusap rambutnya yang masih lembab. "Harus rajin olahraga lagi ini."
Merasa puas melihat dirinya sendiri, Safir segera menuju lemari untuk mengambil pakaian ganti. Baru saja ia membuka pintu lemari kaca, pandangan Safir yang awalnya terarah pada tumpukan baju, kini kedua matanya teralih pada sebuat ruang rahasia yang ada di dalam lemari tersebut.
Hati Safir bergetar. Kedua matanya tiba-tiba terhipnotis oleh dunianya sendiri. Tanpa pikir panjang lagi, Safir membuka ruangan kecil dan mengambil kotak mungil yang ada di sana.
"Apa aku lupa memindahkan cincin ini di ruangan kerja itu?" gumamnya mencoba mengingat saat Safir membua kotak kecil tersebut dan melihat benda mungil yang ada di dalamnya. "Eh, di kantor atau di mobil ya?" Safir berusah mengingat, tapi sayangnya tidak bisa, karena kini dirinya justru tersenyum senang. "Astaghfirullah Safiiiirrr ..." Pekiknya sambil menyadarkan diri dan menutup kotak mungil tersebut.
__ADS_1