Duka Pernikahan

Duka Pernikahan
BAB 92 Ponsel Baru


__ADS_3

Trio S sudah tidur sejak jam 7 malam. Jam tidur ketiga balita tersebut memang cukup teratur, walau terkadang sesekali juga terjadi drama terlebih dulu. Hal yang sudah biasa di tangani oleh Ruby dan Zen.


Meskipun belum waktunya tidur, tapi sepertinya semua orang ingin istirahat lebih awal. Terlebih lagi, Yusuf dan Nissa sedang ada acara undangan. Sedangkan Zen dan Vian belum pulang ke rumah. Dan tadi yang menemani Ruby menidurkan ke tiga anaknya adalah Queen.


Begitu para balita sudah tertidur, Queen lebih dulu meninggalkan Ruby dan anak-anak. Sekalipun belum mulai kuliah, tapi hari ini Queen cukup lelah juga. Saat tadi Ruby kuliah, Queen membantu Nissa dan Yusuf menjaga tiga balita. Siapa yang menduga kalau dua di antara ketiga anak kembar Zen dan Ruby tersebut kelebihab aktif dari biasanya. Menbuat Queen yang sok mengambil alih menjaga trio S, menjadi sangat lelah. Namun, meski begitu Queen sangat senang. Jujur, seharian ini Queen bahkan tidak mengingat masalah pribadinya, sekalipun untuk sesekali Queen memegang ponselnya. Dan sekarang, saat Queen sudah berada di dalam kamar, Queen justru melihat foto-foto yang seharusnya tidak ia lihat lagi.


"Sulit sekali ya?"


Lamunan Queen lebur saat ia melihat satu-satunya foto selfinya bersama dengan Safir, ketika Ruby datang. Queen spontan mematikan layar ponselnya dan ia merasa gugup karena Queen dapat memperkirakan kalau Ruby melihat semuanya.


"Aku tadi sudah ketuk pintu dulu. Tapi kamu sepertinya enggak denger, jadi aku masuk aja langsung. Maaf ya," tutur Ruby karena Queen masih terlihat terkejur.


"Maira."


"Enggak perlu di sembunyikan. Aku sudah melihat semuanya," ucap Ruby sambil duduk di tepi ranjang. "Iklasin adik aku ya Queen. Dia memang bukan jodoh kamu. Meski kamu kesulitan, tolong usahakan dan ikhlaskan semuanya."

__ADS_1


Selama ini Qyeen memang enggan mengakui perasaannya untuk Safir pada Ruby. Tapi memang pada dasarnya Ruby peka sekalipun Queen tidak menjelaskan.


"Aku sudah berusaha kok."


"Aku tahu," ucap Ruby sambil mengangguk pelan. "Tapi kalau usaha jangan setengah-setengah, Queen. Kalau seperti ini kapan kamu bisa ikhlas? Ini hanya akan menyakiti kamu sendiri. Kamu sudah memilih jalan ini, jangan sia-siakan usahamu."


"Aku hanya tidak bisa melepaskan semuanya secepat itu, Mai," ucap Queen dengan kedua mata yang nampak berkaca-kaca. "Aku butuh waktu. Tapi aku yakin kok, bisa melupakan semuanya, tapi pelan-pelan. Ya?'


"Queen."


"Aku suka Safir sejak SMA. SampaiĀ  saat ini aku hanya suka dia. Waktuku dan keseharianku habis cuma sama dia. Perasaanku seperti enggak tersisa karena aku terus menyukainya. Tapi ..."


"Tolong biarkan aku dengan duniaku sendiri. Aku janji akan menghapus semuanya," ucap Queen sambil merenggangkan pelukan mereka.


"Itu hanya akan membuat kamu semakin sulit, Queen. Kamu hanya akan nyaman dengan perasaanmu sendiri. Aku punya sesuatu buat kamu."

__ADS_1


"Ini?" Queen tertegun saat Ruby memberikan sebuah kotak ponsel baru.


"Sudah aku beri nomor baru di sana. Nomor semua orang yang ada di rumah ini juga sudah aku simpan di ponsel ini, termasuk nomor Kak Re dan Mas Hen. Mana," pinta Ruby sambil menadahkan tangannya.


"Mai," Queen semakin erat menggenggam ponselnya. Ia belum rela kalau Ruby mengambil semua hal kenangan yang tertinggal. Segalanya yang Queen miliki sendirian selama ini.


"Kamu berhak bahagia kedepannya, Queen. Safir bukan jodoh kamu, jadi lepaskan semuanya mulai sekarang. Bukankah ini tujuan kamu membohongi semua orang? Maaf kalau aku terlalu memaksa kamu. Tapi percaya sama aku. Insya Allah cara ini akan membantu kamu. Aku enggak ingin kamu terluka lebih lama lagi dan lebih dalam lagi."


"Mai."


"Queen."


Dengan berat hati, Queen memberikan ponselnya pada Ruby. Untuk sesaat, Ruby dan Queen seolah saling rebutan ponsek yang masih di genggam erat oleh Queen.


"Percaya sama aku, Queen."

__ADS_1


Meskipun berat, tapi kini Queen melepaskan ponselnya. Menyerahkan semua kenangannya pada Ruby yang entah akan di apakan.


"Besok siabg aku mau ke toko roti. Mau ikut?"


__ADS_2