Duka Pernikahan

Duka Pernikahan
BAB 103 Pesan Ruby


__ADS_3

Safir yang baru saja menaiki anak tangga, spontan Safir balik badan saat mendengar suara mobil datang. Sekarang, Safir di buat terkejut karena yang ia lihat adalah Queen. Terlebih lagi Queen dengan penampilan yang menggunakan baju dress dan juga jilbab. Penampilan yang membuat Queen nampak anggun dan semakin indah saat di pandang. Padahal dulu Safir dan Queen juga pernah beberapa kali pergi dengan penampilan Queen yang tertutup. Hanya saja sekarang berbeda. Karena auranya juga jelas terasa berbeda.


Menatap Queen membuat hati Safir terasa hangat dengan sendirinya. Ada rasa hati yang tiba-tiba terasa terobati karena menahan rasa rindu. Rasa yang bahkan tidak bisa Safir ungkapkan kebenaran hatinya.


Menatap Queen, membuat Safir sadar, kalau selama ini Queen bukannya sedang berada di Australia, tapi sembunyi di Jakarta.


Sesuai dengan perkiraan hati Safir, ia yakin kalau Queen mana mungkin memutuskan begitu saja untuk kuliah sejauh itu. Ia sangat paham dengan Queen yang manja dan belum pernah bepergian seorang diri tanpa dampingan keluarga.


Kalau saja tidak ingat status dan kayakinan yang membatasi sebuah hubungan, mungkin sekarang Safir langsung lari dan memeluk gadis yang menguasai hatinya. Safir ingin sekali mengutarakan semuanya. Tapi Safir tersadar, karena itu jelas tidak mungkin.


'Kenapa kita harus bertemu lagi? Disaat aku masih seperti ini. Di saat aku masih menyesali dan menahan semuanya. Bagaimana ini? Aku sungguh tidak ingin menyakiti kamu lagi,' gumam hati Safir yang mulai gundah.


'Selama ini, kamu tidak tahu apapun tentang hati aku. Maka aku tidak masalah jika harus berpura-pura lagi. Aku bisa mengobati hatiku dengan caraku sendiri. Ayo Queen, tunjukkan kalau kamu sudah ikhlaskan semuanya dan kamu terlihat baik-baik saja,' gumam hati Queen yang sedang menguatkan diri dan perasaannya. 'Bodoh sekali, kenapa hati ini merasa lega karena melihatnya.'


"Queen," panggil Ruby yang membuat kaitan dua pasang mata yang terus terpaku itu terputus begitu saja.


"Kak By," panggilnya saat balik badan dan menatap saudara kembarnya tersebut. Safir langsung menjabat tangan Ruby saat saudara kembarnya itu mendekat.


"Kenapa datang ke sini enggak kasih kabar dulu? Dadakan banget," ucap Ruby. Tapi matanya melirik Queen untuk memberi sinyal agar Queen segera masuk.


"Divya ingin kasih kejutan ke Oma dan Opa, jadi kami enggak kasih kabar."

__ADS_1


Ruby menghela nafasnya pelan. Bingung mau menanggapi bagaimana karena semuanya juga sudah terlanjur terjadi dan keduanya juga sudah saling bertemu. Kalau saja tadi Queen belum terlanjur bertemu dengan Safir, Ruby sudah pasti meminta Queen kembali meninggalkan rumah ini.


"Assalamualaikum."


"Waalaikum salam," jawab Ruby dan Safir bersamaab.


"Padahal aku tadi mau titip sesuatu Queen, tapi kamu malah sudah terlanjur pulang," ucap Ruby berbohong sambil mengedipkan matanya pada Queen.


"Kamu sih telat kasih tahunya. Mau aku antar pergi sekarang?" tawar Queen. Wajahnya sudah terlihat canggung dan juga bingung mau bereaksi seperti apa. Sedangkan sekarang Safir memilih menunduk. Ingin terus menatap Queen, tapi hal itu akan menjadi boomerang untuk hatinya sendiri.


"Enggak perlu, aku minta tolong Mas Zen saja. ya sudah sana masuk, kamu pasti lelah setelah pulang kuliah," perintah Ruby untuk memutus kecanggungan yang sedang terjadi saat ini.


Sungguh, aura Queen jadi sangat berbeda. Sampai Safir tidak berkedip saat melihat punggung Queen yang semakin menjauh. Membuat deru jantung Safir rasanya sulit untuk di kendalikan.


"Datang ke sini lama? Kenapa bawa koper sampai dua begini?" tanya Ruby yang keheranan sendiri.


"Enggak kok. Satu koper baju kami berdua dan yang satu lagi koper dari rumah. Bunda bawain makanan."


"Beneran?" tanya Ruby sampai terpekik karena terlihat begitu senang. Wajah Ruby bahkan sangat antusias seolah sekarang Ruby mendapatkan makanan langka. "Yes, aku bisa makan masakan Bunda. Ayo masuk," ajak Ruby sambil meraih satu koper yang di bawa Safir. Tentunya yang Ruby ambil adalah koper yang berisi makanan.


"Kak."

__ADS_1


"Ya," Ruby langsung berhenti dan kembali melihat Safir.


"Bukannya dia pergi ke Australia? Kenapa jadi disini?" karena rasa penasaran, pada akhirnya Safir memberanikan diri untuk bertanya.


"Terjadi urusan bisnis yang sudah kami rencanakan sejak lama."


"Bisnis apa? Kok aku enggak tahu," ucap Safir spontan saja. Karena merasa selama ini Queen banyak cerita padanya.


"Aku enggak perlu menjelaskan banyak hal tentang itu, karena kamu juga enggak perlu tahu. Tapi yang pasti, Queen sekarang lanjut kuliah di sini."


"Tidak ada kabar apapun yang aku dengar. Ini sudah hampir 3 bulan. Apa Mama Reina dan Papa Hendri juga tidak tahu tentang hal ini?" tanya Safir yang masih ingin menyelidiki semuanya.


"Tahu. Kenapa?"


"Tidak apa-apa, Kak. Hanya saja ..."


"Tutup rapat-rapat tentang hati kamu di depan Queen, Safir. Bersikaplah biasa saja seolah kamu memang tidak mengetahui apapun tentang perasaan Queen," tuntut Ruby memaksa setelah memotong ucapan Safir.


"Kak By tahu semaunya?" tanya Safir yang jelas bingung. Ia sampai menatap Ruby dengan sangat serius.


"Tentang Queen yang bukan saudaraku saja aku tahu. Apalagi kamu," ucap Ruby yakin. "Kamu sudah dengan pilihanmu sendiri. Pilihan yang kamu ambil sejak lama bahkan tanpa sepengetahuan kami. Seandainya saja kamu menganggap aku ada dan jadi teman curhat kamu. Mungkin perasaan kamu tidak akan sampai seperti sekarang ini, karena aku yang akan mengarahkan hati kamu yang sebenarnya. Apapun jawaban yang sudah kamu dapatkan, abaikan itu semua. Syukuri saja apa yang kami pilih. Dan tolong, jangan sakiti sahabat aku satu-satunya. Ayo masuk."

__ADS_1


__ADS_2