
"Loh, ini mau kemana?" tanya Nissa saat melihat Queen datang dengan membawa tas jinjing berukuran sedang. Queen terlihat seperti seseorang yang akan bepergian jauh.
"Malam ini Queen tidak bisa pulang ke rumah karena mau lembur di toko, Oma. Queen harus membuat beberapa pesanan kue yang belum Queen kerjakan," jelas Queen kemudian memberikan senyuman kecil pada Nissa.
"Kan Oma sudah bilang, jangan ambil orderan yang membuat Queen harus bekerja lembur. Queen dan Ruby itu harus mengutamakan kuliah kalian masing-masing. Kalau memang bisa di cansel, lakukan saja Queen," Nissa mulai mengomel karena Queen sepertinya mulai melanggar pesan yang sudah Nissa buat. Nissa hanya tidak ingin karena pekerjaan yang hanya untuk sampingan jadi membuat Queen harus kerja ngoyo.
"Tidak bisa seperti itu, Oma. Orang sudah terlanjur pesan dan Queen sudah setuju. Seharusnya memang kemarin sudah Queen kerjakan, makannya malam ini Queen harus lembur. Queen harus tanggung jawab dengan pekerjaan Queen."
"Ya sudah, pokoknya jangan terlalu banyak menerima orderan kalau memang Queen kesulitan mengerjakan. Waktunya istirahat, ya harus istirahat. Ini yang pertama dan yang terakhir Queen lembur di toko."
"Iya, Omanya Queen yang cantik," ucap Queen menurut sambil bergelayut manja di lengan tangan Nissa.
"Orang cucunya mau sukses kok dilarang ini dan itu. Sesekali lembur demi mengerjakan sesuatu itu ya wajar. Biarkan saja. Itu juga nantinya baik untuk Queen sendiri. Biar jadi pengalaman," Yusuf yang baru saja datang tentu membela sang cucu.
"Oma juga tahu, Opa. Tapi ini ..."
"Weeesss ..." Yusuf menghentikan kekhawatiran Nissa yang berlebihan terhadap cucu-cucunya. "Tidak apa-apa sesekali dengan hal baru. Yang penting tidak setiap hari dan Queen harus jaga kesehatan, biar enggak di cerewetin Oma," ucap Yusuf yang berakhir jadi meledek.
"Opa," karena kesal, Nissa memukul lengan Yusuf pelan.
"Siap. Opa," ucap Queen sambil memberikan hormat. "Dan satu hal lagi, besok Queen dan teman-teman mau keluar kota," ucap Queen sekalian memberitahu. "Besok seharian Queen akan full kuliah. Jadi Queen tidak sempat pulang ke rumah. Jadi Queen pamitan lebih awal, karena sorenya kami berangkat bersama-sama."
"Lohkan, kok ya memberitahu kami dadakan seperti ini toh Queen," Nissa mulai protes lagi Karena selama dua bulan disini, Queen memang selalu bermalam di rumah. Sekalipun, belum pernah Queen menginap diluar sana. "Lusa Kakakmu juga mau pulang."
"Owh, Kakak lusa sudah mau pulang?" tanya Queen saat melihat Divya yang baru saja datang dengan Safir. Dan seperti biasanya, Divya selalu menggandeng tangan Safir.
"Iya, kami lusa pulang karena urusan Kakak hanya tinggal besok sore saja."
Queen mengangguk dan tersenyum kecil. Queen hanya sesaat melihat Divya tanpa mau melihat Safir. "Karena Queen lusa tidak dirumah, Queen doakan Kakak dan Kakak ipar selamat sampai tujuan," sengaja Queen menyebut Safir dengan Kakak ipar agar hatinya tersadar dengan dugaan yang belum tentu benar. Prasangka yang sejak semalam memenuhi pikirannya.
"Terima kasih, Queen," Divya mendekati Queen dan memeluk adiknya sebentar.
Safir memperhatikan keduanya. Rasanya Safir sangat merasa bersalah pada Divya karena sudah membuatnya masuk kedalam situasi hatinya yang seperti ini. Dirinya juga menjadi merasa bersalah pada Queen, karena pagi ini Safir merasa kalau Queen sedang berusaha untuk menjauhi dirinya.
Setelah sarapan, Queen segera berpamitan dengan semua orang lebih dulu. Diikuti dengan Ruby yang kini mengikuti Queen keluar rumah.
__ADS_1
"Queen, tunggu dulu Queen."
"Kenapa, Mai?"
"Kamu mau tidur dimana sebenarnya?" tanya Ruby untuk memastikan. Karena alasan yang diberikan Queen pada Nissa dan Yusuf tidaklah benar. Ruby tahu tanggal berapa saja Queen akan membuat pesanan kue yang sudah masuk daftar sejak beberapa hari yang lalu.
"Di hotel. Jangan khawatir, karena disana juga aman untuk aku," ucap Queen pelan, kemudian ia menghela nafasnya dalam. "Untuk kejadian semalam, aku dan Safir tidak melakukan apapun selain makan. Aku bingung kenapa kamu dan Safir justru menyembunyikan aku dari Kak Di. Aku ingin tahu penjelasan dari kamu tapi aku juga tidak ingin tahu lebih lanjut. Aku tidak perduli dengan itu, tapi kamu percaya sama aku kan, Mai?"
Ruby mengangguk cepat. "Aku percaya sama kamu. Aku yakin kamu dan Safir tidak akan melakukan hal yang salah karena sejak dulu hubungan kalian dan yang Safir tahu kalau kalian adalah sahabat. Safir hanya spontan saja melakukan semalam karena dia takut kalau Kak Di salah sangka."
Queen terus memperhatikan air muka Ruby dengan sangat lekat. Kemudian ia menunduk dengan tatapan sayunya. "Kamu benar, Mai. Safir pasti tidak ingin Kak Di salah sangka," ucap ulang Queen. "Aku lega sekarang, karena kamu percaya sama aku. Karena aku rasa Kak Di mengetahui keberadaanku, semalam."
"Maksud kamu?"
"Kak Di semalam masuk ke kamar aku. Tapi aku pura-pura tidur karena aku takut. Aku merasa kalau semalam posisiku seperti perempuan simpanan yang takut ketahuan istri sahnya. Aku takut sekali, Mai," jelas Queen sambil mengutakan isi hatinya dengan kedua mata yang menjatuhkan buliran bening.
Sedangkan Ruby jelas terkejut. Kenapa bisa Divya terkesan mencurigai Queen yang sedang bersama dengan Safir semalam. Ruby jadi mengira-ngeira keadaan. Tapi Ruby berusaha mengelak karena kini Ruby memeilih memeluk Queen sebentar, untuk membuat Queen kembali tenang.
"Jangan dipikirkan lagi ya? Semuanya akan baik-baik saja. Segera pulang kalau Kak Di dan Safir sudah kembali ke Malang."
Mobil yang dikemudikan Sopir sudah melaju dengan kecepatan sedang. Sepanjang jalan, Queen kembali melamun karena memikirkan semuanya lagi.
Semalam Queen tidak bisa tidur karena Queen sedang menilai tindakan Safir dan Ruby. Begitu juga dengan Divya.
Satu hal yang Queen simpulkan dari kejadian semalam. Tapi Queen tidak ingin mempercayai dugaannya sendiri.
"Apa usahaku sampai sejauh ini akan jadi sia-sia? Apa sebaikanya aku memang kuliah diluar negeri saja? Kenapa jadi seperti ini?"
Queen hanya bisa menunduk. Menangis tertahan untuk melegakan hatinya yang kacau sejak semalam. Begitu sampai di sebuah hotel, Queen segera menuju kamar. Tanpa perlu mengurus check in, karena ini adalah hotel yang di kelola Zen. Begitu masuk kedalam kamar, yang Queen lakukan adalah tidur. Queen akan mengistirahatkan tubuh dan terutama otak dan juga hatinya. Agar Queen bisa mengarungi mimpi terlebih dahulu.
*
"Nda buat apa?" tanya Ruby setelah memasuki dapur. Semua orang sudah meninggalkan rumah untuk melakukan aktivitas mereka masing-masing.
Sedangkan si kembar, ada bersama dengan Yusuf di ruang mainan. Tenang terkendali kalau Yusuf yang memperhatikan 3 balita disana. Boleh dibilang, Yusuf adalah pawang ketiga cucunya yang mungil nan menggemaskan.
__ADS_1
"Nyicil buat kue, untuk Bunda dan juga Kak Re. Lusa kan Divya dan Safir kembali ke Malang."
Ruby hanya mengangguk sambil meninggikan lengan bajunya. "Apa yang bisa By bantu, Nda?"
"Wes enggak usah. Sana sama anak-anak. Mumpung enggak kuliah kan?"
"Anak-anak maunya sama Ayah. Tadi By yang temani main, tapi saat Ayah datang, By di cuekin," ucapnya yang terdengar mengadu pada Nissa.
Nissa justru terkekeh geli melihat anak menantunya yang kini mencebikkan bibirnya. "Dimana-mana cucu itu selalu dekat dengan Opa dan Omanya. Insya Allah By juga akan merasakan hal seperti itu."
Ruby hanya mengangguk. Tangannya segera bekerja bersama dengan Art lainnya yang sedang membantu Nissa membuat kue nastar.
"Eh, Bi. Semalam kan aku nonton drama. Ada dua perempuan dan mereka bersahabat. Nah, yang satunya sudah menikah kan. Terus suatu ketika si lelaki itu jalan dengan sahabat istrinya. Tapi mereka hanya jalan karena kebetulan bertemu saja. Di saat itu, si lelaki itu tidak sengaja melihat keberadaan istrinya. Si lelaki memberitahu si perempuan kalau istrinya datang. Nah si perempuan itu justru bersembunyi karena tidak ingin ketahuan. Ih bagaimana sih ya ceritanya," ucap Ruby yang justru membuat para Bibi disana menjadi bingung sendiri.
"Pye toh Mbak By ini maksudnya?" tanya Art yang masih kebingungan.
"Kemungkinan si perempuan yang lari tadi ,menyukai suami sahabatnya sendiri," celetuk Nissa yang sejak tadi ikut mendengarkan cerita Ruby yang menurutnya muter-muter tidak karuan.
"Ah itu juga yang By pikir, Nda. dramanya masih ongoing lagi, makanya By masih penasaran sekali. Mana setelah itu si istri langsung melacak keberadaan sahabatnya lagi. Si istri sepertinya curiga kalau suaminya sedang selingkuh dengan sahabatnya. Padahal enggak."
"Itu artinya, si istri tahu kalau sahabatnya memiliki perasaan dengan suaminya."
"Kenapa begitu Nda?" Ruby jadi sangat penasaran dengan penjelasan Nissa.
"Karena setelah bertemu dengan suaminya, yang si istri lakukan adalah melacak keberadaan sahabatnya. Artinya si istri tahu kalau sahabatnya memiliki perasaan dengan suaminya."
"Betul. By pikir tadi juga begitu," ucap Ruby pelan.
"Duuuhhh Mbak By kebiasaan kalau habis nonton drama, pasti jadi galau seperti ini," ucap Art yang mulai meledek Ruby.
*
Sore harinya, setelah mandi dan Queen merasa lapar, Queen segera menuju restoran hotel. Sengaja Queen keluar kamar karena Queen ingin menghirup udara bebas.
"Queen kan?" tanya seseorang
__ADS_1
"Eh. Aris."