Duka Pernikahan

Duka Pernikahan
BAB 159 Duka Pernikahan


__ADS_3

Tanpa memberikan jawaban apapun, Safir langsung meninggalkan Divya begitu saja. Membuat semua orang yang menunggu diluar beralih menatap ke arah Safir. Sedangkan Safir sendiri melihat Queen yang duduk termenung.


Keadaan ini benar-benar sudah serba salah. Bagi Queen, cara ini bukanlah tindakan yang tepat. Tapi mau bagaimana lagi kalau memang ini adalah permintaan Divya.


Sedangkan Safir menolak karena merasa diri yang ingin memperbaiki diri dan keadaan. Safir ingin membuang rasa traumanya. Gagal dalam pernikahan sudah menjadi tamparan tersendiri untuk Safir. Terlebih lagi Divya adalah pilihannya sendiri.


Safir sudah gagal menjadi suami dan kepala rumah tangga. Dirinya sudah gagal mengurus tanggung jawab yang sangat besar. Lalu bagaimana mungkin Safir mau kembali mengurus tanggung jawab sebesar itu.


Safir sudah melukai seorang perempuan. Karena masalah yang ada, juga membuat Safir berpikir kalau itu sepenuhnya bukan hanya salah Divya saja. Tapi juga salahnya. Mungkin kalau hari itu Safir menuruti kata hatinya dan memilih bersikap egois, semua ini tidak akan pernah terjadi. Mau disesali seperti apapun, semuanya sudah terlanjur. Yang Safir pikirkan saat ini, dirinya jangan sampai kembali menyakiti perempuan lain. Terlebih lagi, semuanya akan berkaitan dengan kekurangan yang Safir miliki.


"Nda masuk dulu," ucap Nissa karena tidak mungkin membiarkan Divya sendirian didalam sana.


"Bicarakan baik-baik," ucap Yusuf kemudian ikut memasuki ruang perawatan.


"Mau bicara dengan kami?" tawar Hendri  sambil menepuk pelan punggung Safir.


Kini Safir bicara dengan kedua orang tua Divya bersama dengan orang tuanya juga. Pembicaraan lima orang di sana cukup serius sehingga membuat Zen dan Vian sejak tadi sibuk mengurus si kembar. Karena saat ini Ruby sedang menemani Queen.


"Maaf, Safir rasa kalau Mama dan Papa sudah tahu kan perihal apa yang diminta oleh Divya?" tanya Safir menatap Reina dan Hendri serius. Hanya sesaat, karena setelah itu tatapan Safir menjadi redup. "Maaf, Safir tidak bisa."


"Fir, tolong dipikirkan lagi, Nak. Selama menjalani pegobatan, selama 2 minggu terakhir ini, yang Divya pikirkan adalah membuat Safir dan Queen bersatu. Jadi kami mohon, turuti keingian Divya. Anggap saja itu sebuah permintaan maaf yang sangat tulus atas segala perbuatannya."


"Safir juga salah. Dan kami sudah saling memaafkan. Itu saja sudah cukup dan tolong jangan  buat anak bungsu Mama dan Papa terjebak dengan lelaki seperti Safir. Mama dan Papa tahu betul kenapa Safir menolak. Problem apa yang ada didiri Safir. Apa yang sudah terjadi, maka Safir juga tidak ingin mengulanginya lagi."


"Fiiirrr ..." Panggil Zantisya yang berusaha untuk membujuk.


"Bunda tolong jangan bujuk Safir. Apa Bunda tega melihat gadis itu akan hidup tidak bahagia dengan Safir? Bunda sayang kan sama Queen? Jadi tolong selamatkan saja Queen dari Safir. Dan tolong Bunda dan Ayah bantu jelaskan pada Mama dan Papa. Safir enggak bisa."


Meskipun cinta itu nyata dihati Safir untuk Queen. Tapi cinta saja tidak bisa menjadi pertimbangan Safir. Karena yang utama adalah kedepannya untuk kehidupan Queen bagaimana.


Pembicaraan lima orang di sana cukup lama, karena seolah mereka tidak bisa menemukan titik terang. Apalagi Safir yang tidak mudah untuk di bujuk.


Sampai pada Akhirya, Safir menoleh untuk melihat tangannya yang terasa digenggam oleh seseorang.


"Queen," gumam Safir. Ia menatap mata Queen yang sudah sembab dan wajahnya juga mulai terlihat pucat.


"Selama kita sekolah, kuliah, dan kerja bareng, kamu selalu turuti apa yang aku bilang dan apa yang aku mau. Karena kita sejak dulu adalah sahabat kan?" tanya Queen sambil mentap Safir sendu. "Sampai sekarang kamu masih anggap aku ini sahabat kamu kan, Fir?"


"Ya."


"Kalau begitu, ayo kita menikah saja?" ajak Queen yakin dengan perasaan yang sebenarnya masih bingung. Tapi menurutnya ini adalah jalan yang tepat agar tidak mengulur waktu lagi. Queen tidak ingin kehilangan Divya. Tapi melihat Divya yang terus menahan rasa sakit, itu justru membuat Queen juga merasa sakit.

__ADS_1


"Ini bukan cara yang tepat, Queen."


Queen semakin erat menggenggam tangan Safir karena Safir akan melepaskan genggaman tangannya. "Untuk yang lainnya, kita bicarakan nanti saja. Kita menikah saja dulu. Ya!" pinta Queen memohon.


Yang ada didalam pikiran Queen saat ini adalah Divya. Ia melakukan semuanya bukan karena dirinya mencintai Safir. Akan sangat egois kalau saat ini Queen memanfaatkan keadaan. Baik buruknya nanti akan Queen tanggung. Yang terpenting saat ini adalah Divya.


"Kamu minta mahar apa dariku?"


"Berapa uang tunai yang ada didompetmu saat ini? Berikan semuanya dan jadikan itu maharnya."


Seolah semuanya memang sudah dipersiapkan, karena setelah Safir setuju, seorang petugas KUA setempat yang memang sudah di jemput Vian saat Safir dan kedua orang tua Safir datang, kini telah ikut memasuki ruangan perawatan.


Meskipun ini adalah pernikahan siri, tapi ijab kabul akan tetap dilakukan dengan disaksikan oleh salah satu petugas KUA. Berharap nantinya ini bisa menjadi bukti untuk kepengurusan surat-surat nikah kedepannya.


Setelah rukun nikah sudah terpenuhi, maka ijab kabul akan segera dilakukan. Divya sendiri sudah sangat senang karena apa yang telah ia inginkan akan terwujud.


'Ya Allah ya tuhanku. Hamba sangat berharap ini adalah keputusan yang tepat. Tolong hindarkan diri ini dari rasa takut. Hamba sungguh tidak ingin menyakiti seorang perempuan lagi. Setelah ini, tolong bimbing langkah kaki ini,' kata hati Safir.


"Silahkan, ijab kabulnya segera dilaksanakan."


Hendri segera mengulurkan tangannya. Saat itu juga Safir menjabat tangan Hendri. Lelaki yang akan melepas masa dudanya itu sampai mengeluarkan keringat dingin. Karena pikiran Safir yang banyak memperkirakan sesuatu hal.


"Safir Al Ghani bin Arjuno Andrewiyoko."


"Saya nikahkan dan jodohkan engkau dengan putri kandung saya, Queenza Reindri Anna Wijaya binti Hendri Artha Wijaya dengan emas kawin berupa uang sebesar Rp 515.000 di bayar tunai," ucap Hendri lantang dan semakin kuat mencengkram tangan Safir.


Hendri memang terlihat tegar. Seolah dirinya kuat menghadapi semua musibah yang sedang menimpa keluarganya. Tapi saat ini hati Hendri rasanya bergejolak. Untuk kedua kalinya Hendri menikahkan anak perempuannya yang lain. Namun, pernikahan ini bersama dengan lelaki yang sama. Entah takdir apa yang ada pada kedua anak perempuannya. Hendri bahkan tidak bisa memaknai kata hatinya saat ini. Apalagi jika dirinya harus menghadapi kisah setelah ini.


"Saya terima nikah dan jodohnya Queenza Reindri Anna Wijaya binti Hendri Artha Wijaya dengan emas kawin berupa uang sebesar Rp 515.000 di bayar tunai."


Mendengar ucapan Safir yang hanya membutuhkan satu tarikan nafas saja, sudah bisa menjadi bukti bahwa Safir bersanding dengan perempuan yang tepat.


"Bagaimana saksi?"


Seluruh orang yang ada di ruangan tersebut langsung mengucapkan kata sah. Ucapan itu terdengar serentak. Tapi suaranya tidak kuat.


Melihat semuanya, Divya tersenyum senang bersamaan dengan air mata yang jatuh tanpa bisa ia cegah. Ia bahagia karena telah menyatukan dua hati yang saling cinta. Meskipun saat ini Divya sadar bahwa dirinya juga mencintai Safir, tapi hal ini membuat Divya jauh merasa lebih baik.


Setelah doa selesai dibacakan. Safir segera mendekati Queen. Gadis yang duduk diantara Reina dan Nissa. Safir memberikan mahar dan diterima oleh Queen. Hati keduanya terasa bergetar, saat Queen menjabat tangan Safir dan mencium punggung tangan Safir. Rasa hati yang entah seperti apa bentuknya. Tapi kini tangan Safir menyentuh puncak kepala Queen dan membacakan doa.


"Allahumma inni as’aluka min khoirihaa wa khoirimaa jabaltahaa ‘alaih. Wa a’udzubika min syarrihaa wa syarrimaa jabaltaha ‘alaih."

__ADS_1


Artinya : "ya Allah, sesungguhnya aku mohon kepada-Mu kebaikan dirinya dan kebaikan yang Engkau tentukan atas dirinya. Dan Aku berlindung kepada-Mu dari kejelekannya dan kejelekan yang Engkau tetapkan atas dirinya."


Hati Queen bergetar mendengar doa yang bermakna baik untuk hubungan mereka kedepannya. Hanya saja, Queen kembali menyadarkan dirinya kalau ini mereka lakukan untuk Divya. Ini bukan pernikahan karena mereka yang saling jatuh cinta.


Setelah selesai membaca doa, Safir dan Queen hanya saling bertatapan sebentar. Tanpa mendaratkan kecupan di kening pengantin perempuan seperti pada umumnya. Karena kini semua orang beranjak, saat mendengar suara Divya yang memanggil Queen.


"Kakak."


Dengan semua orang yang ada diruangan tersebut, rasanya Divya sudah meminta  maaf dan sudah saling banyak berinteraksi, terutama dengan kedua orang tua. Sekarang yang Divya inginkan hanya adik bungusnya.


"Sini, Kakak mau peluk kamu," pinta Divya dan Queen pun menurut. "Selamat ya, atas pernikahan kamu sama Safir. Kakak yakin kalau setelah ini kalian akan menemukan kebahagiaan."


Entah kebagaiaan apa yang Divya maksud. Karena Queen sendiri sadar kalau hal itu tidak mungkin. Bagaimana bisa rumah tangga itu bahagia jika Safir tidak mencintai Queen.


"Terima kasih, karena Queen sudah mengabulkan permintaan Kakak. Kakak sudah banyak melukai hatinya, Kakak sudah banyak melakukan kesalahan padanya dan juga Queen. Kakak minta maaf sama Queen. Segala kesalahan dan hati yang buruk ini, Kakak benar-benar minta maaf."


Deg!


"Kakak," Queen jelas tidak bisa memahami Divya. Kenapa bisa Divya berucap seperti ini. Kesalahan apa yang Divya maksud sebenarnya. Tapi Queen tidak mau mengambil pusing tentang hal itu. Karena semakin lama ucapan Divya semakin pelan. Kalau saja Queen tidak menajamkan pendengarannya, mungkin Queen tidak akan mendengar ucapan Divya dengan benar.


"Tolong maafkan Kakak ya?"


"Queen enggak perduli dengan kesalahan Kakak apa. Queen enggak mau tahu soal itu. Yang Queen mau Kakak segera sehat," ucap Queen sambil mengeratkan pelukannya. Padahal saat ini Queen merasakan kalau pelukan Divya sudah mengendur. "Kakak sudah tinggalin Queen selama 2 bulan, tanpa kabar dari kakak langsung," tutur Queen sambil menangis. "Kakak bikin Queen khawatir, buat Queen kangen. Pokoknya Kakak harus mengganti waktu 2 bulan Kakak yang sudah abaikan Queen. Jangan diam saja dong Kak. Kakak harus janji sama Queen."


"Queen," panggil Hendri karena petugas kesehatan sudah datang.


"Sebentar Pa. Queen mau lepasin kalau Kak Di sudah janji sama Queen."


Sesuai dengan perkiraan Dokter, alat yang terhubung dengan tubuh Divya sudah tidak berfungsi lagi. Mengecek denyut nadi dan juga nafas serta gerak mata, memang sudah tidak ada respon sama sekali. Pada dasarnya, hanya sebuah keajaiban kalau Divya bisa sadarkan diri. Mengingat cidera yang dialami Divya memang cukup parah.


"Innalillahi wa innailaihi raajiun. Jam menunjukkan pukul 14.30 wib, pasien atas nama Divya Reindri Anna Wijaya kami nyatakan telah meninggal dunia. Kami turut berduka cita untuk keluarga yang ditinggalakan."


"Innalillahi wa innailaihi raajiun," ucap seluruh keluarga secara bersamaan.


Brug!


"Queen."


Luruh sudah tubuh Queen. Meski ini sudah diperkirakan, tapi tetap saja Queen belum siap menerima kenyataan ini.


Bagaimana mungkin hidupnya terasa terbalik seperti ini. Entah hari apa sebenarnya saat ini. Kenapa bisa dirinya harus menikah. Sebuah hubungan yang seharusnya di sambut baik dengan penuh kebahagaiaan. Tapi hari ini adalah hari dimana mereka harus menghadapi duka. Queen rasanya tidak kuat. Sampai semuanya terasa gelap dan suara orang tidak terdengar lagi oleh Queen.

__ADS_1


Safir segera menggendong Queen untuk ia bawa ke sofa.


__ADS_2