
Seperti janji yang sudah di ucapkan oleh Arjuno. Sore ini dirinya mengajak istri dan anaknya untuk menjenguk Reina. Terkecuali Arfan yang memang sengaja di tinggal di rumah. Ini akan ada pembahasan masalah orang dewasa dalam berumah tangga. Jadi Arjuno tidak ingin jika Arfan sampai mengetahui hal-hal yang sedang Safir hadapi.
Awalnya, Safir tidak ingin ikut. Safir belum siap jika nanti dirinya harus bertemu dengan Divya. Tapi mau bagaimana lagi. Karena tidak mungkin juga dirinya tidak ikut. Akan terlihat tidak pantas jika nantinya dua keluarga membicarakan masalah yang sedang terjadi.
Selain itu, Safir juga belum meminta maaf pada Reina secara langsung, terkait janji yang pernah Safir buat pada Reina.
Mereka datang ke rumah sakit tanpa memberitahu Hendri terlebih dahulu. Namun, siapa yang tahu kalau ternyata Reina sudah di bawa pulang sejak siang tadi. Dan kini, mereka harus segera sampai di kediaman Hendri dan Reina.
"Assalamualaikum," salam Arjuno dan yang lainnya ketika mereka sudah sampai di kediaman Hendri.
"Waalaikum salam," jawab Art yang ada disana. "Monggo Bapak, Ibu, Mas Safir, silahkan masuk."
"Terima kasih, Bi," ucap Safir.
Sepertinya kabar pertengkaran Safir dan Divya sudah menjadi rahasia seluruh orang yang ada di rumah ini dan juga seluruh keluarga yang ada di Malang, Tidak akan mungkin masalah yang terjadi bisa di tutup rapat, sedangkan Reina sampai masuk rumah sakit dan juga Divya yang kini sedang di bawa Vian untuk melakukan pengobatan.
"Sebentar ya, Mas. Saya panggilkan Bapak dan Ibu dulu."
Sekalipun belum resmi bercerai menurut hukum. Tapi Safir sudah sungkan untuk langsung masuk saja ke dalam rumah itu seperti bisanya. Hingga tidak lama kemudian, Hendri dan Reina menemui tamu yang datang.
__ADS_1
Di dalam ruang keluarga, terdengar sedikit ramai. Kemungkinan besar kalau keluarga Reina sudah berkumpul di rumah ini.
"Kenapa tidak langsung di ajak masuk saja toh Fir Ayah dan Bunda, di dalam ada banyak keluarga kita," ucap Reina yang terlihat tetap bersikap seperti biasanya. Sungguh, Reina dan Hendri kini sedang menahan malu berhadapan dengan besan mereka karena perbuatan anak mereka.
"Bagaimana keadannya sekarang?" tanya Zantisya setelah saling berjabat tangan dengan Reina.
"Sudah baikan. Terima kasih loh Bu, sudah berkenan datang kesini."
"Saya justru tidak enak hati karena takut mengganggu waktu Ibu Reina yang sedang istirahat."
Hanya sesaat mereka saling berbincang. Karena sekarang, semua orang yang ada di ruang tamu itu terliihat sangat serius.
Pada akhirnya, apa yang pernah Reina takutkan telah terjadi. Karena sejak awal Reina berpikir yang Safir sukai adalah Queen. Tapi mau bagaimana lagi jika takdir anak mereka memang harus melalui jalan yang seperti ini. Karena kejadian kemarin, membuat semua rahasia menjadi terungkap dengan jelas.
"Mama dan Papa menerima kembali Divya. Terima kasih karena Safir sudah pernah hadir di kehidupan anak Mama. Dan Kami mohon maaf atas segala yang terjadi kemarin," Reina sampai menghentikan ucapan yang belum selesai karena mengingat semuanya begitu menyakitkan. "Ucapan Divya kemarin benar-benar kelewatan. Karena Divya tidak ada, maka Mama sebagai orang tuanya mewakili Di untuk meminta maaf pada Safir dan Pak Arjuno dan Bu Tisya. Saya yakin kalau Bun Tisya dan pak Arjuno sudah tahu perihal kejadian kemarin. Kami sebagai orang tua Divya benar-benar meminta maaf."
"Semuanya sudah terjadi. Kita orang tua tidak bisa mengendalikan apa yang dialami anak-anak kita Bu Reina. Jadi saya juga minta maaf kalau anak saya masih banyak kekurangan selama menjadi suami Divya," ucap Zantisya.
Melihat wajah Reina yang masih nampak pucat, membuat hati Zantisya juga ikut merasa sakit. Memikirkan diri jika dirinya yang ada di posisi Rena, sudah pasti dirinya juga akan syok berat atas tingah laku anak mereka.
__ADS_1
"Sekalipun Safir sudah bukan menjadi suami Divya lagi, kami harap hubungan keluarga kita masih terjalin dengan baik," ucap Hendri penuh harapan.
"Kami juga mengharapkan hal yang sama," ucap Arjuno.
Setelah perbincangan pribadi mereka sudah selesai, keluarga Reina yang lainnya juga ikut menimbrung.
Kesempatan tersebut, di manfaatkan oleh Safir untuk mengambil barang pribadinya yang ada di kamar Divya. Sangat beruntung Safir tidak banyak membawa pakaian dan juga barang pribadinya ke rumah ini. Sehingga Safir tidak perlu berlama-lama di dalam kamar tersebut. Setelah semuanya selesai, Safir segera turun. Waktu sudah semaki malam. Membuat Safir dan keluarga memilih untuk segera pulang.
*
Masalah pribadinya tidak ingin membuat Safir terpuruk. Sekarang, Safir hanya ingin terus memperbaiki diri. Fokus dengan keluarga dan juga fokus dengan usahanya yang harus ia kembangkan agar semakin berkembang dengan baik. Berharap suatu saat nanti, usaha Safir ini bisa terus bertambah.
Untuk urusan perceraian, dari pihak Safir dan Divya sudah sama-sama menyerahkan seluruhnya pada pengacara mereka. Tidak ada mediasi dalam perceraian mereka. Karena hubungan Safir dan Divya juga sudah tidak bisa di selamatkan lagi. Yang terpenting bagi Safir hubungan antar keluarga masih terjalin baik. Walau mungkin tidak bisa sedekat dulu. Biar bagaimanapun apa yang terjadi antara Safir dan Divya tidak menuntut kemungkinan menjadi sebuah batas yang membuat keluarga merasa saling tidak enak hati dan jadi canggung sendiri.
"Mas, ada undangan pesat pernikahan di Jakarta," ucap Yusman setelah baru saja keluar dari ruang kerjanya dan berpapasan dengn Safir.
"Dari Jakarta? Siapa Pak?"
"Owner Pak kumis. Beliau mantu dan mengundang kita, Mas. Bukan hanya undangan saja yang sampai ke kantor. Tapi tadi juga Pak Kumis menelpon saya."
__ADS_1