
"Assalamualaikuuummm ..." salam Safir dan Queen yang baru saja sampai rumah. Keduanya segera memasuki rumah begitu keluar dari dalam mobil.
"Bundaaa ..." panggil Queen sambil lari dan meninggalkan Safir begitu saja.
Safir yang membawa tas jinjing dan juga koper berisi pakaian Queen, hanya bisa menggelengkan kepalanya dan tersenyum samar. Hal seperti ini memang kebiasaan Queen. Bertingkah apa adanya didepan Zantisya dan juga Arfan. Bahkan, Queen juga tidak sungkan untuk bicara dengan Arjuno ataupun mengajukan pendapatnya. Tentunya dengan sikap Queen yang sopan jika sedang bersama dengan orang tua. Safir kembali menyeret koper dan segera menuju lantai atas.
"Kakaaakkk, ayo main game sama Arfan Kaaak," teriak Arfan saat mendengar suara Queen.
"Besok saja ya Fan. Kakak mau istirahat dulu," ucap Safir saat melihat Arfan.
"Siapa yang mau ajakin Kakak," ucapnya dengan air muka lugu. Arfan ajak Kak Queen main game. Sudah lama Kak Queen enggak datang ke rumah kita."
"Owh," ucap Safir pasrah.
Safir meneruskan langkah kakinya menaiki anak tangga. Begitu masuk kedalam kamar, Safir merebahkan tubuhnya diatas ranjang. Ia ingin mencari informasi lokasi apartemen yang paling dekat dengan kantornya saja. Dan yang sudah pasti, bukan apartemen yang pernah Safir tinggali bersama dengan Divya.
*
"Queen bantu apa Bun?" tanyanya yang baru saja memasuki dapur. Ia melihat Zantisya yang barus saja selesai membuat puding jagung.
"Tidak ada yang perlu dibantu. Bunda hanya membuat puding saja. Yang memasak juga Bibi. Maaf ya, Bunda enggak masakin kalian yang baru datang."
"Tidak apa-apa, Bun."
"Eh, mau ngapain Mbak?" tanya Art yang sedang sibuk masak."
"Aku bantuin ya Bi?"
"Ndak perlu, Mbak. Mbak dan Mas Safir baru juga datang, sebaiknya istirahat saja. Saya sebentar lagi juga selesai masak."
"Sudah, istirahat sana," ucap Zantisya.
"Kak, ayo main game sama Arfan saja," ajaknya yang baru saja datang.
__ADS_1
"Faaan, Kak Queen baru pulang kesini kok sudah diajak main game. Biar Kakaknya istirahat dulu," ucap Zantisya agar Arfan tidak mengusik Queen.
"Queen enggak capek kok Bun. Ayo main," ajak Queen sambil menarik tangan Arfan.
Zantisya tersenyum melihat anak dan menantunya yang kini meninggalkan dapur. Tidak bisa Zantisya pungkiri, kalau hatinya sekarang jauh lebih tenang karena Safir dan Queen bisa bersama. Bukan hanya ikatan hubungan persahabatan lagi. Tapi sebagai suami istri.
'Bunda harap Safir segera berterus terang tentang perasaan dan juga keadaan dirinya. Bunda juga berharap hal itu bisa mendapatkan solusi dan Queen menerima keadaan Safir.'
Hingga malam harinya, setelah makan malam, Safir menemui Yusman yang datang ke rumah ini.
Karena Safir sudah memberitahu Queen kalau sudah mengantuk, agar Queen lebih dulu memasuki kamar dan istirahat.
Beberapa jam kemudian, karena pembicaraan pekerjaan Safir dan Yusman sudah selesai. Yusman segera berpamitan untuk pulang.
"Queen sudah tidur Bun?" tanya Safir karena diruang tamu hanya tinggal Zantisya dan Arjuno.
"Iya. Tadi keatas bareng dengan Arfan. Orang nguap terus, makanya Bunda suruh tidur duluan. Kasian kalau nahan ngantuk."
"Owh," Safir hanya mengangguk saja. "Ya sudah, Safir keatas duluan ya Bun. Selamat malam Bunda, Ayah."
"Sepertinya Safir belum terbuka dengan Queen," tebak Arjuno karena sejak tadi saat diruang makan, Arjuno sesekali memperhatikan cara interaksi Queen dan Safir. Padahal Queen terlihat berusaha mendekat. Tapi sepertinya Safir masih menahan diri.
"Sepertinya begitu, Mas. Ya sudah lah Mas, Safir juga pasti masih berat hati untuk kembali menikah. Walau pada kenyataannya dia memiliki hati ke Queen. Aku yakin, secara perlahan Queen bisa membuat Safir mengungkapkan isi hatinya."
*
Klek!
Baru saja Safir memasuki kamar yang sudah menggunakan lampu temaram. Tapi kini Safir harus melihat Queen yang tidur disofa.
'Kenapa dia tidur disana?' gumam hati Safir.
Sekarang tujuan Safir adalah kamar mandi. Begitu selesai membersihkan diri, Safir mendekati Queen yang tidur meringkuk dan menggunakan selimut yang ada diatas ranjang.
__ADS_1
"Queen," panggil Safir sambil menepuk pelan kaki Queen.
Sebenarnya Queen belum tidur. Tapi dirinya mengabaikan panggilan Safir. Dan sekarang, Safir berinisiatif menggendong Queen untuk Safir pindahkan keatas ranjang.
"Perasaan makannya banyak. Tapi kenapa dia ringan sekali," gumam Safir.
"Ngapain kamu gendong aku?" tanya Queen yang sudah tidak bisa untuk berpura-pura lagi. Tapi sebisa mungkin Queen terlihat terkejut karena perbuatan Safir.
"Tidur diranjang. Kenapa kamu justru tidur disofa," ucap Safir enteng sambil merebahkan tubuh Queen.
"Saat kita tidur di rumah Mama, kamu tidur di sofa kan? Sekarang giliran aku yang ikut tidur dirumah Bunda dan aku juga yang harus tidur di sofa."
"Badan kamu nanti sakit semua kalau tidur disofa. Kamu ambil selimut lagi dilemari ya. Aku yang tidur disofa," ucap Safir sambil merebahkan tubuhnya dan menggunakan selimut.
Tatapan Queen pada Safir sudah penuh dengan akal yang akan Queen lakukan selanjutnya. Ia segera beranjak dan mendekati Safir.
"Awh," pekik Safir karena terkejut. Bagaimana tidak, jika Queen sekarang menyelipkan tubuhnya disofa. Dan sekarang mereka justru saling berhadapan.
"Sudah aku bilang, aku yang tidur disofa karena ini kamarmu," ucap Queen. Ia tersenyum kecil, kemudian memejamkan matanya.
Rasanya Safir sampai kesulitan bernafas. Setiap di dalam kamar, Safir selalu disuguhi Queen yang cantik dan tidak menggunakan jilbab. Dan sekarang, jarak wajah mereka sangat dekat.
"Kamu mau apa sebenarnya?"
"Tidur."
"Sudah aku bilangkan, kamu tidur dikasur sana."
"Aku maunya disini. Itu kasurmu, jadi silahkan kamu yang tidur disana."
Safir menggelengkan kepalanya pelan. Untuk mengusir pikirannya yang jadi tertarik dengan Queen.
"Fiiirrr ..."
__ADS_1
Safir yang sudah tidak tahu mau melakukan apa, ia segera bangun dan kembali menggendong Queen.
"Apa kamu enggak masalah kalau tidur denganku diranjang yang sama?"