
"Bagaimana pekerjaan kamu tadi Fir?" tanya Hendri untuk memulai pembicaraan lebih dulu. Merasakan kalau dirinya pernah menjadi menantu di awal pernikahan dulu, merasa canggung pada Yusuf untuk memulai perbincangan, kini membuat Hendri lebih dulu membuka pembicaraan dengan Safir.
"Kami tidak jadi melakukan transaksi, Pa. Harganya tidak cocok," jawab Safir sengaja berbohong. Ia hanya tidak ingin mengatakan semuanya sejujur-jujurnya karena menghindari obrolan yang berkaitan dengan Queen.
Hendri mengangguk pelan. Safir pasti memiliki pertimbangan yang matang kenapa tidak melakukan apapun untuk mendapatkan tanah tersebut. Padahal jika di ingat lagi, reaksi wajah Safir saat berpamitan tadi begitu sangat senang dan semangat. Terlihat jelas kalau selama ini Safir mengincar lokasi tanah itu.
"Kenapa Ma?" Hendri merasa bingung karena sejak tadi Reina terus saja membolak balik ponsel. Wajah Reina bahkan nampak seperti sedang menunggu kabar dari seseorang.
"Queen, Pa. Kok belum kasih kabar ya sejak tadi? Dia hanya kasih kabar saat sudah sampai Surabaya."
"Kalau belum memberi kabar ya artinya belum sampai. Jangan resah sendiri. Queen pasti kasih kabar kalau sudah sampai Ma."
Pada dasarnya Hendri juga sejak tadi sedang menunggu kabar dari Queen. Tapi Hendri terlihat tenang dan tidak panik seperti yang Reina lakukan sekarang. Wajar, seorang ibu memang terkesan berlebihan kalau sudah berkaitan dengan anak. Apalagi baru kali ini Queen jauh dari mereka.
"Owh iya, kalian mau merencanakan bulan madu kemana? Biar Papa yang urus semuanya untuk kado pernikahan kalian."
Merasa tidak memiliki kendali apapun untuk persiapan acara pernikahan anaknya, Hendri tentu tidak ingin melewatkan hal yang bisa ia berikan untuk kebahagiaan anaknya itu. Mungkin di sinilah letak kesempatan yang bisa Hendri manfaatkan.
Bukannya segera menjawab, kini Safir dan Divya hanya saling memandang. Mereka memang pernah membicarakan tempat bulan madu yang mereka inginkan. Tapi sampai sekarang belum ada keputusan. Mengingat lagi urusan pekerjaan Divya yang belum ada kelonggaran.
"Gimana?" Reina ikut bingung melihat kedua anaknya tersebut.
"Sebenarnya kami sudah memiliki opsi Ma, Pa. Hanya saja belum kami putuskan karena urusan kantorkan belum renggang."
"Urusan kamu itu bisa di serahkan ke asisten kamu dulu, Di. Nanti Mama juga akan handle sebagian. Jangan memikirkan pekerjaan dulu. Nikmati saja dulu masa bulan madu. Mumpung momennya masih pas. Kalau di tunda-tunda, nanti terkesan bukan bulan madu tapi kalian pergi jalan-jalan," tutur Reina memberikan saran. "Safir tidak ada masalah di pekerjaan kan?"
__ADS_1
"Tidak ada Ma. Mungkin Safir bisa mengajak Divya pergi setelah peresmian kantor."
"Sudah jadi? Kapan rencanaya?" tanya Hendri.
"Sudah hampir selesai Pa. Karena sekarang sudah mulai di bersihkan semua ruangan. Dan beberapa furnitur juga baru besok datang ke kantor. Kemungkinan minggu depan baru di resmikan."
Mereka berkumpul di ruang keluarga hanya sebentar. Karena Reina dan Hendri tidak ingin menyita waktu Safir dan Divya lebih lama lagi. Saling paham saja, karena sudah di pastikan kalau mereka pasti inginnya berduaan terus.
"Jadi kamu ingin kemana?" tanya Safir saat mereka sudah memasuki kamar Divya, Keduanya juga secara bergantian membersihkan diri terlebih dahulu. Bahkan kini Safir merasa lega karena Divya sedang menata beberapa pakaian yang ia bawa dari rumah.
"Emmm kemana ya? Kamu inginnya kemana?" tanya balik Divya yag masih bingung.
"Aku menuruti kamu saja inginnya di mana."
Safir yang sejak tadi duduk di tepi ranjang, kini dirinya hanya bisa mencengkram kuat selimut yang ia duduki. Ia sedang berusaha menjauhi Queen. Melupakan apapun yang berkaitan dengan Queen. Menghindari pembahasan terkait Queen. Tapi apa sekarang yang baru saja di ucapkan oleh Divya. Perempuan tersebut seolah sengaja mencari momen yang pas agar dirinya kembali bertemu dengan Queen.
"Di, kita kan mau honeymoon. Bisa tidak kalau pikirkan hal itu hanya untuk waktu kita berdua saja? Urusan Queen, bisa kamu tanyakan ke Mama atau kamu sendiri yang tanya pada Queen. Sekarang Queen juga pasti inginnya menikmati waktu liburannya di sanakan? Mungkin sekarang dia juga masih memutuskan akan kuliah di mana. Sebaiknya kita jangan ganggu waktunya."
Divya tersenyum sambil menutup pintu lemari karena pekerjannya telah selesai. Setelah itu, ia mendekati Safir. "Kamu inginnya berduaan terus ya?"
Safir menengadahkan wajahnya. Ia menatap Divya yang berdiri di depannya dan tersenyum begitu manis. 'Ini saatnya kan? Ayo lebih berani melakukan banyak hal dengan istri kamu sendiri. Semuanya pasti akan berlalu,' kata hati Safir. Tekatnya hanya satu, melupakan semua kenyataan hati yang telah di berikan jawaban. Safir yakin, jika dirinya memperlakukan Divya dengan baik, maka hatinya akan beralih sepenuhnya pada Divya. Tuhan adalah sang pembolak balik hati manusia. Dan Safir yakin akan hal itu. Suatu saat nanti, Safir yakin kalau dirinya hanya akan mencintai Divya.
"Tentu. Bukankah ini yang kita inginkan selama ini?" ucap Safir. Setelah itu ia menarik tangan Divya. Membuat perempuan tersebut terkejut karena kini tubuhnya sudah mendarat pada pangkuan Safir.
"Fiiirrr ..."
__ADS_1
Jantung Divya sudah berdegup kencang. Apa lagi sekarang ia melihat tatapan Safir yang terdapat minat di sana. "Aku sedang bulanan. Kamu enggak lupa kan?"
Safir tersenyum samar sambil mengalihkan helaian rambut Divya ke belakang telinga. "Yang bisa di lakukan bukan hanya itu saja kan?" tanyanya kemudian menyatukan bi*bir mereka.
Divya memejamkan kedua matanya. Ia juga mengalungkan kedua tangannya pada leher Safir. Dirinya seolah di sihir oleh wajah tampa Safir dan perlakuan lembut yang kini ia terima. Hanya saja hati Divya masih terasa dongkol, kenapa juga momennya tidak pas karena dirinya masih bulanan.
Sesapan lembut itu mereka lakukan. Saling membalas seolah menyalurkan rasa cinta penuh minat yang mereka inginkan. Nafas Divya terasa tercekat di rongga dada. Apalagi sekarang Safir sudah merebahkan tubuhnya di atas ranjang.
"Fiiirrr ..."
Sepontan saja Safir menghentikan perbuatannya yang kini sudah menyesap leher Divya. Mendengarkan rintihan Divya justru suaranya terdengar lain di telinga Safir.
'Sial,' umpatnya dalam hati.
"Kenapa?" tanya Divya saat Safir mengangkat wajahnya. Rasanya Divya tidak ikhlas saat Safir menghentikan perbuatannya. Apalagi saat ini tangan Safir sudah mau menurunkan lengan baju tidur yang Divya kenakan. Divya jadi ingin menikmati tubuhnya yang di manjakan Safir. Selama tidak melakukan hal itu, bukankah tidak masalah jika Safir bersenang-senang dengan tubuh bagian atasnya.
"Kalau terlalu jauh, aku takut tidak bisa menahan diri," ucap Safir sambil mengancing baju tidur Divya. Ia tersenyum samar, "Kita tidur sekarang ya?"
"Loh, mau kemana?" tanya Divya saat melihat safir beranjak.
"Mematikan lampu."
Siapa yang bisa menduga, jika ternyata Divya terbiasa tidur dengan keadaan lampu kamar terang benderang seperti ini. Membuat Safir pasrah melihat lampu kamar yang menyorot mereka berdua. Safir bahkan menego Divya untuk menggunakan lampu temaram. Karena Safir terbiasa tidur dengan keadaan lampu padam dan terkadang temaram. Tapi ternyata lampu temaram di kamar Divya itu sudah lama mati karena rusak. Mungkin karena terlalu lama tidak di gunakan.
'Ini bagaimana caranya aku bisa tidur?' kata hati Safir. Sejak tadi tangannya terus menepuk punggun Divya yang sepertinya belum lelap. Perempuan yang tiduran di lengan tangan Safir, karena kini mereka saling berpelukan.
__ADS_1