Duka Pernikahan

Duka Pernikahan
BAB 39 Pesta Pernikahan


__ADS_3

Sudah sejak tadi Divya dan Safir di make up sedemikian rupa agar keduanya nampak seperti raja dan ratu malam hari ini. Keduanya juga menggunakan sepasang pakaian yang begitu nampak serasi. Setelah di pastikan kalau keduanya sudah terlihat menawan dan juga berpenampilan sempurna, keduanya segera di antarkan menuju ruangan acara.


Seluruh tamu undangan satu persatu sudah mulai datang. Ikut menghadiri dan memeriahkan pesta pernikahan malam hari ini. Yang datang malam ini banyak dari kolega bisnis Arjuno dan kedua orang tua Divya. Yang sudah pasti adalah kolega bisnis dari DS Group. Mengingiat ini adalah acara pernikahan pertama untuk cucu pertama dari keluarga Dzuhairi Sucipto. Sedangkan sebagian lagi adalah rekan bisnis Safir dan juga teman-teman Safir dan juga Divya.


Ada beberapa tamu undangan yang naik ke atas pelaminan untuk memberikan ucapan selamat, dan memberikan kilasan doa yang baik untuk keduanya. Ada juga tamu undangan yang naik ke atas pelaminan untuk meminta foto bersama. Mengabadikan setiap momen penting dengan teman dekat Divya. Tentu Divya yang banyak memiliki teman dekat.


Sebagian tamu undangan lagi ada yang asik berbincang dengan dua keluarga besar yang memiliki acara malam hari ini. Ada juga yang sedang menikmati segala macam menu makanan yang sudah di hidangkan.


Sedangkan Queen, Gadis tersebut memilih memasuki ruangan acara setelah pesta sudah berlangsung sejak 1 jam yang lalu. Kedatangan gadis cantik yang menggunakan gaun pesta berwarna pink tersebut tentu mencuri perhatian banyaknya tamu undangan yang terpana melihat Queen. Terutama para lelaki muda yang nampak berbinar saat melihat Queen.


Kecantikan Queen yang terpancar jelas membuat banyak orang saling berbisik. Yang mengetahui kalau Queen adalah anak Reina dan Hendri jadi memikirkan rencana untuk bicara dengan Reina dan Hendri untuk menawarkan perjodohan. Siapa yang tahu soal takdir. Memangnya siapa juga yang tidak ingin masuk menjadi keluarga Dzuhairi Sucipto.


Kedua mata Queen menatap kesana kemari. Ia mencari keberadaan Ruby dan ketiga saudara sepupunya tersebut. Entah ada di bagian sebelah mana mereka berada. Membuat Queen terus berjalan mencari Ruby.


"Hai, Queen."

__ADS_1


Mendengar sapaan dari suara lelaki yang suaranya cukup familiar, membuat Queen langsung menoleh. "Hai, Aris," Queen tersenyum ramah. Ia langsung menjabat tangan Aris.


Aris yang sudah lama menaruh hati pada Queen tentu terpesona dengan gadis tersebut. Apalagi Queen kini menggunakan gaun yang membuat Queen terlihat begitu manis.


Aris juga jadi merasa bangga sendiri. Dirinya yang termasuk dari salah satu lelaki muda yang tertarik dengan Queen tentu bangga karena hanya dirinya saja yang tanpa pikir-pikir mendekati Queen.


"Kalau saja Safir tidak sedang berada di atas pelaminan, aku sudah pasti tidak berkesempatan untuk berjabat tangan dengan kamu," ucap Aris menyindir. Mengingat selama ini tidak ada yang berani mengajak Queen bersalaman karena adanya Safir yang selalu bersama Queen. Sepertinya, hanya Aris saja lelaki yang berani membuat janji pada Queen agar mau menemuinya dan Aris bisa mengutarakan isi hantinya yang entah sudah berapa kali dan selalu di tolak oleh Queen.


Queen tersenyum samar sambil melepaskan jabatan tangan mereka. "Dia memang seperti itu. Biarkan saja. Dan jangan di ambil hati ya."


"Apa ada yang salah sama aku?"


"Kamu cantik."


Queen terkekeh pelan. "Jangan memujiku seperti itu. Karena aku tidak ingin jika nantinya kamu kembali menembakku lagi."

__ADS_1


"Kalau boleh, aku ingin mencoba lagi. Siapa tahu malam ini adalah peruntunganku," ucap Aris serius tapi ia balut dengan tawa pelan.


"Jangan mencoba sesuatu hal jika kamu sudah tahu hasilnya bagaimana, Aris. Oh ya, silahkan menikmati menu yang ada. Aku mau mencari Maira dulu."


"Queen. Ayo foto dengan Safir dan juga Divya. Siapa tahu dengan aku membawamu foto dengan pengantin, bisa membuatmu sedikit membuka hati untuk aku."


Padahal baru saja Queen akan meninggalkan Aris. Tapi kini Queen kembali menatap lelaki tersebut. "Mitos dari mana itu? Jangan mempercayai hal-hal yang tidak akan mungkin."


"Siapa tahu kan jika mitos itu berpihak padaku. Ayo," ajaknya yang terdengar menantang. Aris maju satu langkah agar mereka bisa lebih dekat lagi. "Kamu baik-baik saja kan Queen?"


Queen terkejut dengan pertanyaan yang baru saja di ajukan Aris. Sungguh menggetarkan hati, seolah Aris bisa merasakan apa yang ia rasakan saat ini. Bukankah ini aneh? Orang terdekatnya saja tidak peka dangan dirinya, atau mungkin pura-pura tidak peka. Lalu kenapa bisa Aris yang jelas bukan siapa-siapa justru memahami dirinya.


"Aku selalu baik. Memangnya aku kenapa?"


"Kalau begitu, tidak ada alasan yang membuatmu menolak ajakanku kan?"

__ADS_1


__ADS_2