
Tidak cukup hanya foto bertiga, karena Queen juga foto berdua dengan Divya dan juga Safir. Ini bukan permintaan Queen. Karena yang meminta Queen foto dengan Safir adalah Divya sendiri. Kalau saja posisi mereka tidak di atas pelaminan, Queen pasti memilih menolak permintaan Divya. Namun, siapa yang menduga saat Queen dan Safir sedang berdiri sejajar untuk di foto, banyak orang yang justru salah fokus dengan keduanya. Queen yang nampak anggun menggunakan gaun pesta berwarna pink dan hiasan kepala berwarna putih, justru nampak begitu serasi dengan Safir yang menggunakan pakaian serba putih juga.
Setelah selesai, semua keluarga inti juga mulai mengambil foto bersama lagi. Karena untuk foto tadi pagi, tidak ada Queen di antara semua orang.
Hingga sampailah pada puncak acara pesta, karena malam sudah semakin larut, maka satu persatu juga para tamu undangan mulai meninggalkan tempat acara.
Awalnya Queen terus bermain dengan trio S sebelum sepupunya itu di bawa pulang Zen dan Ruby karena sudah waktu jam tidur. Setelah itu Queen asik bersenda gurau dengan Arfan. Awalnya Queen ingin pulang lebih dulu bersama Zen. Mengetahui kalau ternyata besok Queen akan pergi ke Australia, membuat Arfan menyita waktu Queen. Wajar, karena hubungan keduanya sangat dekat.
"Kalian sebaiknya segera istirahat. Yang di sini tinggal teman-teman Mama dan Papa," ucap Reina setelah menghampiri Safir dan Divya.
"Baik, Ma," ucap keduanya kompak.
"Ma, Queen pulang sama sopir lebih dulu ya. Queen harus tidur cepat biar besok enggak ketinggalan pesawat," ucap Queen saat baru saja Safir dan Divya meninggalkan Reina.
"Boleh, sayang," ingin rasanya Reina meminta anaknya tersebut untuk berpamitan dengan Divya lebih dulu. Tapi rasa tidak tega yang selalu Reina pendam selam satu bulan ini lebih mendominasi. Membuat Reina membiarkan Queen. Dengan apa yang ingin Queen lakukan. "Hati-hati ya. Mama akan pulang juga setelah teman-teman Mama juga pulang," Reina mengusap rambut Queen pelan.
__ADS_1
"Kenapa?"
Divya jelas bingung karena langkah kaki Safir yang terhenti. Bagaimana mungkin Safir tidak berhenti jika ia dengan jelas mendengar ucap Queen. Rasanya sangat mendominasi karena Safir ingin bicara dengan Queen. Tapi statusnya telah membuat jarak di antara mereka. Ini juga karena kesalahannya sendiri.
"Tidak apa-apa. Ayo."
Baru saja Safir mengajak Divya untuk melanjutkan langah kaki mereka, tapi kini Queen melangkah lebih dulu melewati mereka.
Queen memang sengaja melewati mereka berdua tanpa sapaan yang ingin Queen lakukan. Tapi siapa yang mengira jika saat Queen lewat, bersamaan dengan seorang pegawai yang berpapasan dengan Queen. Membuat Queen sedikit meminggirkan langkah kakinya agar berjarak dengan pegawai dan tanpa sengaja punggung tangan Queen bersentuhan dengan punggung tangan Safir.
Deg!
"Ngapain sih pakai berpapasan dengan pegawai? Bikin jantungan saja," gerutu Queen sambil menyentuh dadanya dan mempercepat langkah kakinya.
"Kamu kenapa lagi sih Fir?"
__ADS_1
Sungguh, benar-benar berbeda rasanya. Saat dulu tangan Safir tidak sengaja bersentuhan dengan Divya, detak jantung Safir tidak sampai bergemuruh sampai seperti sekarang. Membuat Safir kembali menghela nafasnya lagi. Sadar diri, ituah yang sedang Safir bisikkan pada hatinya.
"Sepertinya aku butuh istirahat, Di."
Kini keduanya segera menuju kamar mereka. Ruangan khusus pengantin baru yang sudah di persiapkan sedemikian rupa. Bahkan kedatangan keduanya di sambut oleh dua pegawai yang berdiri di depan kamar mereka. Begitu keduanya datang, salah satu pegawai membukakan pintu lalu kedua pegawai memberikan ucapan selamat dan mempersilahkan masuk.
Kamar yang di dominasi dengan warna putih itu begitu terlihat indah. Apalagi dengan hiasan bunga mawar merah yang berbentuk hati di atas ranjang. Lalu dua handuk yang di bentuk sedemikian ruap seolah seperti angasa yang sedang berciu**man dan membuat bentuk love.
Divya tersenyum senang melihat kamar pengantin ini. Ia memejamkan kedua matanya dan menghidup aroma terapi yang membuat kesan romtais memenuhi kamar tersebut.
Berbeda dengan Safir. Wajahnya sudah mulai tertekan. Bukankah puncak pernikahan yang paling di tunggu-tunggu adalah momen sakral malam pertama. Momen yang pernah Safir pikirkan saat yakin kalau dirinya akan memperistri Divya. Lalu apa yang terjadi sekarang. Hatinya benar-benar kalut karena masih di bayangi wajah Queen saat akad nikah akan di selenggarakan.
'Aku harus apa sekarang?'
"Fir ... Fir ..." Divya bingung karena sejak tadi dirinya melihat Safir terus menunduk dan memejamkan kedua matanya. "Safir."
__ADS_1
"Iya," Safir sampai terkejut karena lengan tangannya di tepuk hingga cukup keras oleh Divya.
"Kamu kenapa sih. Dari tadi kok sering diem melamun. Sejak saat ijab kabul sampai sekarang seperti ada yang kamu pikirkan. Ada apa?"