Duka Pernikahan

Duka Pernikahan
BAB 121 Obat Bius


__ADS_3

Hari ini, pagi harinya Queen sengaja datang ke toko untuk menyelesaikan pekerjaan yang sudah masuk kedalam daftar list. Beruntung karena Ruby memiliki karywan yang memang sudah di training dengan baik sehingga untuk ukuran kue dasarnya dan soal rasa tidak berbeda jauh. Queen hanya perlu menghias saja. Karena memang untuk mendekorasi kue ulang tahun atau yang lainnya memang membutuhkan ketrampilan dan kreatifitas tersendiri.


Saat waktu sudah siang, Queen pergi ke kampus hingga sore hari. Jika kemarin Queen mengatakan pada semua orang kalau sore ini dirinya akan keluar kota bersama dengan teman-teman yang lainnya, tapi kini Queen sudah kembali ke hotel. Karena memang tidak ada acara apapun yang harus di datangi oleh Queen.


Baru saja memasuki kamar hotelnya, Queen langsung merebahkan tubuhnya di atas ranjang. Kedua matanya hanya menoleh kekiri dan kekanan. Rasanya sangat tidak enak sendirian seperti ini. Rasanya Queen ingin cepat pulang. Kalau lelah begini, melihat ketiga sepupunya sudah membuat hati Queen senang karena tingkah lucu mereka dan membuat lelah Queen hilang dengan sendirinya.


"Hanya tinggal malam ini kok kamu bermalam disini. Besok pulaaaanggg ..." ucap Queen semangat sambil bangun untuk menuju kamar mandi. Karena besok, Divya dan Safir sudah saatnya pulang ke Malang.


Setelah selesai membersihkan diri dan melakukan urusan pribadi Queen, segera ia bersiap untuk menuju restoran. Niat hati ingin makan di kamar saja, nyatanya Queen memilih keluar kamar agar tidak terlalu memelas karena makan seorang diri. Terbiasa makan dengan keluarga, tentu membuat Queen merasa kurang nikmat jika hanya sendirian.


"Hai Queen. Boleh aku duduk bersama kamu disini?" tanya Aris, kemudian tersenyum senang.


Queen terkejut. Ia hanya bisa menghela nafasnya pasrah. Padahal Queen tidak ingin diganggu siapapun, karena Queen ingin seorang diri menikmati makanannya nanti. Tapi mau bagaimana lagi. Queen tidak enak hati untuk mengusir orang yang sudah terlihat ramah dengannya. Bukan maksud hati Queen mau memberi celah untuk Aris. Hanya saja, Queen tidak ingin membuat Aris malu di depan banyak orang karena ia minta untuk mencari tempat lain.


"Silahkan, Aris."


"Terima kasih ya," ucap Aris senang.


Sebelum mengajak Queen untuk berbincang, Aris memilih untuk memesan makanan terlebih dahulu. Aris memang sengaja sejak tadi menunggu Queen. Karena Aris memang ingin makan berdua dengan Queen seperti ini.


"Malam ini kamu punya waktu senggang? Ada film korea genre family di bioskop," tawar Aris yang ingin sekali berhasil mengajak Queen jalan. Aris sangat tahu film apa yang sangat disukai Queen.


"Maaf, Aris. Malam ini aku ada pekerjaan yang harus aku selesaikan."

__ADS_1


"Kamu kuliah sambil kerja?"


Queen hanya tersenyum kecil karena merasa tidak nyaman pembicaraan in berlanjut lebh jauh. Tapi karena pekerjaan sudah Queen jadikan sebagai alasan, maka Queen harus sedikit menjawab, agar Aris mengerti.


"Begitulah. Oh iya, aku permisi sebentar ya?"


Aris tahu, kalau saat ini Queen masih terus menjaga jarak dengannya. Entah dengan cara seperti apa lagi Aris mendapatkan kesempatan dari Queen. Pikiran Aris jadi tertuju pada niat terselubung yang ingin melancarkan keinginannya semalam.


Beberapa menit kemudian, pesanan makanan Queen sudah di sediakan di atas meja. Bersamaan dengan milik Aris. Hati Aris terus membisik. Akankah dirinya mau melakukan ide yang sejak semalam telah ia pikirkan matang-matang. Karena kalau semuanya berhasil, sudah pasti Queen akan memintanya untuk bertanggung jawab.


Degup jantung Aris semakin bekerja cepat. Ia segera merogoh sebuah obat bius tetes. Agar perbuatannya tidak dicurigai siapapun, Aris menggenggam obat tersebut kemudian ia mengaduk minuman dingin Queen sambil meneteskan obat sesuai dengan takaran yang telah Aris baca.


"Maaf karena aku harus menggunakan cara ini, Queen. Kalau saja kamu menerima ajakanku. Mana mungkin aku senekat ini."


"Customer memang sesuka hati mengubah tempat bertemu," gerutu Divya saat kini dirinya berada di dalam mobil yang dikemudikan oleh Safir.


"Ya sudahlah. Yang terpentingkan tetap ketemu," sambil menanggapi Divya, Safir harus fokus dengan jalanan suang ini.


"Tapi kalau kita bertemu di hotel DS yang awal, jarak tempuhnya lebih cepat, Fir. Lihatlag sekarang, kita harus menempuh perjalanan hampir 1 jam. Ini belum dengan macetnya," omel Divya yang masih ingin meluapkan isi hatinya.


"Kamu ini sudah lama bekerja. Sudah biasa bertemu dengan berbagai macam klien kan? Aku yakin hal seperti ini bukan kali pertamanya buat kau kan? Sabar."


"Iya sih. Tapi tetap saja aku jengkel."

__ADS_1


Sampai pada akhirnya, mobil yang dikemudikan Safir sudah sampai tempat tujuan. Benar saja, karena jarak tempuh yang di lalui Safir dan Divya selama 1 jam lebih.


"Hotel ini sudah di ambil alih sama Om," ucao Divya memberitahu.


"Benarkah?"


"Heem. Hanya saja nama hotelnya yang memang sengaja tidak di ganti."


Safir hanya mengangguk saja. Ia tidak igin tahu lebih jauh tentang apapun harta milik Zen dan keluarga. Dan kini keduanya segera memasuki hotel, dan segera menuju lift untuk menuju tempat tujuan mereka.


Kedatangan Divya dan Safir di sambut baik oleh keluarga dari klien yang akan memesan gaun pengantin dan yang lainnya. Setelah saling bertegur sapa, tanpa basa basi karena Divya tidak ingin mengulur waktu lebih lama lagi, membuat Divya segera mengurus semua yang harus Divya selesaikan.


Sejak tadi Safir hanya duduk. Menunggu urusan Divya sambil bermain ponsel. Hingga satu jam kemudian, pekerjaan Divya masih saja belum selesai. Karena Safir merasa bosan, akhirnya Safir memilih keluar dari ruangan tersebut. Safir memasuki lift bersamaan dengan beberapa orang lainnya.


Pintu lift kembali terbuka, tapi Safir masih tetap tenang karena Safir ingin sampai kelantai dasar. Karena beberapa orang yang masuk kedalam lift, membuat Safir menepikan tubuhnya dibagian pinggir dan kebelakang.


"Queen," gumam Safir yang takut salah melihat. Hanya melihat punggung perempuan tersebut saja sudah bisa Safir tebak kalau itu adalah Queen. Kini Safir jadi menduga kalau kemarin Queen membohongi semua orang.Tapi sekarang Safir bingung, kenapa Queen terlihat jalan sempoyongan dan seperti menahan sakit pada kepalanya. "Aris?" gumamnya lagi. Pintu lift belum tertutup karena ada seorang pengunjung hotel yang memang menggunakan kursi roda kala memasuki lift ini. "Kenapa dia mengikuti Queen?"


Dari dalam lift, Safir bisa melihat Queen yang kini sedang membuka pintu kamar hotel. Di saat itu juga Aris lari seperti akan ikut memasuki kamar Queen. Bersamaan dengan itu, pintu lift tertutup sempurna.


"Tolong buka pintu liftnya, saya mau keluar," ucap Safir saat pintu lift tertutup sempurna dan kini lift sudah bergerak turun.


"Kalau mau keluar kenapa tidak sejak tadi, Bang?"

__ADS_1


__ADS_2