
Jam sudah menunjukkan pukul 13.00 wib. Sebuah mobil kini baru saja sampai di halaman Villa yang di tempati Divya dan Vian selama dua bulan ini. Divya segera lari karena mengetahui kalau itu adalah Art yang dikirim Reina untuk mengantarkan makanan yang di minta Divya.
Kemarin Divya memang menghubungi Reina dan Hendri melalui video call. Kalau Divya sangat ingin makan masakan Reina. Kalau saja saat ini Weekend, sudah pasti Reina dan Hendri sendiri yang datang dan membuat semua masakan yang diminta Divya di Vila saja. Sekaligus masak bersama seperti yang sudah Reina dan Divya lakukan selama dua bulan ini.
Dua bulan ini memang waktu yang sangat berharga bagi Reina. Rasa kesalnya seolah luruh karena Divya yang menunjukkan perubahan. Naluri seorang ibu seolah menguasai hati Reina. Mana mungkin dirinya bisa marah pada anaknya sendiri sampai berlarut-larut.
"Mama ... Bibi sudah datang, Terima kasih ya sudah antarain masakan Mama kesini," ucap Divya senang sambil menjinjing salah satu tempat makanan dari mobil.
"Iya, Kak. Selamat makan yang banyak ya. Seperti biasa, malam sabtu besok Mama dan Papa datang kesana. Ya!"
"Di, tunggu ya Ma. Ya sudah, Mama pasti sedang bayak pekerjaan karena tidak ada Di kan?"
__ADS_1
"Tidak apa-apa. Sudah, jangan pikirkan pekerjaan Mama disini. Sekarang yang terpenting Di sehat dulu. Setelah itu baru bantu Mama lagi ya?"
"Iya, Ma!" ucap Divya semangat. "Sudah dulu ya Ma. Di mau makan siang," ucapnya karena ingin mengakhiri panggilan videonya.
Tanpa menunggu waktu lebih lama, Divya dan Vian yang memang belum makan siang karena menunggu kedatangan Artnya, kini keduanya segera menikmati makanan tersebut. Rasanya keduanya jadi rindu untuk makan bersama keluarga besar.
"Kakak disini dengan Bibi dulu atau mau ikut Vian tebus obat? Obat Kakak sudah habis."
"Kakak jangan kemana-mana dan tetap disini dengan Bibi ya? Vian hanya tebus obat saja setelah itu pulang."
"Iya, jangan khawatir berlebihan seperti itu, Aku juga tidak akan kabur dari sini kok."
__ADS_1
Setelah merasa yakin, Vian segera bersiap. Sebelum meninggalakan Vila, Vian memberikan pesan pada Art dan juga sopir untuk tidak pergi kemanapun agar tetap menjaga Divya. Bahkan Vian juga meminta keduanya untuk menginap semalam agar besok pagi baru keduanya kembali ke Malang.
"Bi, aku tidur siang dulu ya, Bibi nanti saja cuci piringnya. Lebih baik Bibi istirahat."
"Baik, Mbak."
Divya segera menuju lantai atas. Dimana kamarnya berada. Dengan perut kenyang seperti ini, tentu saja membuat Divya terserang rasa kantuk dengan sangat mudah. Sayup-sayup, kedua mata Divya seolah terhipnotis begitu saja.
Sampai tidak lama kemudian, kedua mata Divya harus terjaga karena merasakan sesuatu hal yang mengusik tubuhnya.
'Safir,' gumam hati Divya karena merasakan sentuhan tangan yang sedang mengusap kakinya. Hal-hal mendamba yang ingin sekali Divya dapatkan. Tapi dengan cepat Divya kembali tersadar, Saat dirinya merasa tidak mungkin kalau Safir melakukan ini padanya. Membuat Divya dengan terpaksa membuka kedua matanya.
__ADS_1
"Ka-kamu!" pekik Divya yang terkejut. Seketika itu rasa kantuknya hilang begitu saja di ganti dengan rasa takut. Divya spontan saja mundur agar kakinya tidak di sentuh oleh lelaki yang tidak Divya mau. "Bagaimana bisa kamu ada disini?"