
Meskipun Queen sudah memasuki kamar lebih dulu, nyatanya Queen masih belum bisa tidur juga. Pikirannya terus berkelana. Memikirkan obrolannya dengan Safir. Rasanya Queen belum puas bicara seperti tadi. Melihat reaksi wajah Safir yang berbinar, membuat wajah Safir semakin terlihat tampan. Belum lagi cara tatapan Safir yang mampu menghangatkan hatinya. Dan yang masih membuat Queen ingin tahu, ucapan Safir yang terakhir kali yang belum Safir selesaikan.
"Queen, kamu mikir apalagi sih?" gumamnya sambil memukul keningnya sendiri.
Queen merasa bersalah karena terus memikirkan lelaki yang sudah menjadi kakak iparnya. Tapi mau bagaimana lagi kalau hati dan pikiran Queen dipenuhi dengan nama Safir. Apalagi sekarang Safir berada di dalam rumah yang sama.
Untuk mengalihkan segala pikirannya, Queen memilih membaca buku. Tidak lama, karena setelah itu Queen memilih memainkan ponselnya. Karena tidak juga terserang rasa kantuk, Queen memilih menonton drama korea. Berharap rasa kantuk segera menyerang dirinya.
Sepertinya usaha Queen tidak membuahkan hasil. Sampai berjam-jam sudah berlalu, tapi tetap saja Queen tidak bisa terlelap.
"Sepertinya aku harus makan yang banyak deh. Kalau perut kenyang pasti akan mengantuk dengan sendirinya," gumam Queen sambil beranjak. Queen segera meraih jilbabnya dan keluar dari kamar.
Kini, siapa yang bisa menduga jika Queen justru bertemu lagi dengan lelaki yang sejak tadi membuat Queen tidak bisa tidur, disaat tengah malam begini. Kaki Queen ingin melangkah pergi dari sana. Namun, nyatanya kini Queen balik badan dan kembali menghidupkan lampu utama ruang makan, karena Safir sendiri yang memintanya untuk menganggap seolah disana Queen hanya seorang diri.
Queen mengambil nasi dan juga beberapa lauk di lemari penyimpanan. Setelah itu, Queen meletakkan makanan di atas meja di depan Safir, tepatnya di seberangnya Safir.
"Kamu mau makan juga?"
"Tidak. Makanlah."
Tanpa pikir panjang lagi, Queen segera menikmati menu yang sudah Queen ambil. Sudah lama rasanya mereka tidak makan berdua seperti ini. Lebih tepatnya Safir yang selalu menemani Queen makan. Membuat Safir mengulas sebuah senyuman kecil karena segala hal yang Safir rindukan kini mulai kembali lagi.
"Apa ada masalah?" tanya Queen. Rasanya sangat tidak nyaman, jika mereka tidak terlibat obrolan. Apalagi yang Queen tahu, Safir selalu tidur tepat waktu. Kalaupun terbangun, pasti lebih dari jam 3 pagi. Queen tahu karena Safir sendiri yang memberitahu.
__ADS_1
"Tidak ada," walau rasanya Safir ingin membicarakan sesuatu hal dengan Queen. Tapi masalahnya dengan Divya tidak untuk disebar luaskan. Apalagi ini dengan Queen.
Queen hanya mengangguk pelan. Queen memilih lanjut untuk menghabiskan makanannya agar dirinya segera pergi dari sana.
"Apa kamu belum kenyang?" tanya Safir saat baru saja Queen akan melahap suapannya lagi.
"Sudah. Kenapa?"
"Boleh aku meminta sisa makananmu itu?"
"Hah!" Queen sampai tercengang dan menghentikan suapan yang sudah menempel pada bibirnya. Belum percaya dengan apa yang baru saja Queen dengar.
"Lihat kamu sejak tadi makan, sepertinya enak."
"Stop," ucap Safir saat Queen akan melahap suapannya lagi. "Aku mau makanan punya kamu, termasuk itu," ucap Safir sambil menunjuk sendok yang hampir masuk kedalam mulut Queen.
"Tapi ini bekas makannya aku, Fir," Queen semakin bingung sendiri. Aneh memang. Kenapa Safir tidak mau ia ambilkan nasi sendiri dan justru meminta makananya.
"Habiskan saja kalau kamu memang belum kenyang," ucap Safir kemudian meneguk habis segelas susu yang memang sudah dingin.
Queen memang sudah kenyang. Karena tinggal sedikit, maka Queen harus menghabiskan semuanya. Sayang kalau harus di buang begitu saja. Tapi melihat Safir, kenapa dirinya jadi tidak tega sendiri. Tidak ada pilihan lain, Queen meletakkan sendoknya di piring dan menyodorkan di depan Safir.
"Mau aku tambah nasinya?"
__ADS_1
"Tidak perlu. Ini saja sudah cukup," Safir tersenyum dan segera menikmati sisa makanan yang ada. "Ternyata enak sekali."
"Tentu saja. Karena yang aku ambil itu lauk masakan, Oma. Mau masak apapun kalau Oma yang membuat, sudah pasti enak, Fir," ucap Queen bangga pada Nissa. Entah kenapa, tiba-tiba suasana jadi mencair dengan sendirinya.
Safir hanya tersenyum samar. "Benar, masakan Oma memang selalu enak. Tapi yang kali ini berbeda enaknya," ucap Safir sambil terus menatap piring yang sudah tersisa makanan dan tinggal satu suapan saja.
"Biar aku yang cuci," ucap Queen saat Safir beranjak membawa piring bekas makan beserta gelas bekas susu.
"Biar aku saja. Oh iya, terima kasih karena sudah merelakan makanan kamu untuk aku."
"Tidak masalah. Lagi pula aku juga sudah kenyang. Justru aku yang seharusnya berterima kasih."
Karena Safir yang mencuci piring bekas makanan mereka berdua, kini Queen membereskan beberapa lauk kedalam lemari penyimpanan makanan.
Untuk sesaat, Safir melihat punggung Queen. Ia tersenyum samar disaat hatinya merasa sedih sendiri. 'Kenangan malam ini tidak akan pernah aku lupakan. Sepulang dari sini, dan aku kembali pergi honeymoon. Disaat itu aku harus melupakan kamu dan aku harus melepaskan semua perasaanku. Maaf,' bisik hati Safir yang merasa terluka.
Karena pekerjaan mereka sudah selesai, kini keduanya memutuskan untuk menuju lantai 3. Niat hati Safir, dirinya akan melalui tangga saja dan membiarkan Queen menggunakan lift seorang diri. Hal ini untuk menghindari kalau saja Divya bangun dan mendapati mereka keluar dari lift secara bersamaan.
Baru saja Safir akan membiarkan Queen menuju lift seorang diri. Karena kini mereka sudah berada di depan anak tangga menuju lantai atas. Tapi secara tiba-tiba Safir balik badan dan menarik Queen untuk bersembunyi.
"Ad ... Hemp," pertanyaan yang akan Queen ajukan langsung terhenti karena dengan cepat Safir membekap mulutnya.
"Sssttt ... Kita naik tangga sepelan mungkin dan jangan sampai mengeluarkan suara," bisik Safir membuat Queen mengangguk patuh. Tapi baru satu langkah mereka akan menaiki anak tangga, keduanya justru terkejut karena melihat seseorang.
__ADS_1