Duka Pernikahan

Duka Pernikahan
BAB 49 Transaksi Tanah


__ADS_3

"Terima kasih ya Pak," ucap Safir sebelum dirinya keluar dari dalam mobil. Karena kini mobil yang sejak tadi di kemudikan sopir sudah sampai di kediaman orang tuanya. "Bapak pulang saja. Nanti saya ke lokasi dengan mengendarai mobil saya sendiri."


"Baik, Mas."


Begitu keluar dari dalam mobil, Safir langsung berlarian kecil untuk memasuki rumah. Ia nampak buru-buru karena harus mengambil kunci mobilnya terlebih dahulu.


"Bundaaa ..." Panggilnya sekilas sambil menaiki anak tangga saat melihat Zantisya yang baru saja keluar dari ruang keluar.


"Loh, loh Fir. Kok sudah pulang saja?" untuk sesaat Zantisya celingukan mencari keberadaan Divya. Merasa aneh karena ia tidak melihat keberadaan menantunya tersebut. "Divya mana?" tanyanya sambil menaikan volume suaranya karena Safir mungkin saja sudah memasuki kamarnya.


"Di rumah, Bun," jawabnya sambil berteriak lagi.


Zantisya sampai heran sendiri. Rasanya Safir tidak pernah berbicara sambil berteriak seperti ini. Ini bukan masalah sopan tidak sopannya, karena biasanya Ruby memang seperti ini. Sedangkan Safir lebih terbiasa menghampiri Zantisya terlebih dahulu baru menanggapi ucapan.


"Apa karena menikah bisa mengubah dia seperti ini? Secepat ini?" gumam Zantisya kemudian tersenyum samar. "Apa secinta itu Safir sama Divya?" gumamnya lagi menilai keadaan anaknya tersebut.


Begitu usai mengambil kunci mobil, Safir bergegas turun. Ia mencari keberadaan Zantisya yang entah ada dimana.


"Bunda," panggilnya saat menemukan Zantisya yang sudah berada di halaman samping.


"Iya."


"Bunda tahu, Pak Samsul yang mau jual tanahnya itu?"


Untuk sesaat Zantisya mengingat kembali saat Safir dan Queen pernah bercerita padanya dan juga Arjuno. "Owh Pak Samsul yang tanahnya ingin sekali kamu beli itu? Kenapa?"


"Beliau sekarang ngajakin Safir ketemuan. Doain tanah itu kebeli Safir ya Bun. Biar Safir bisa memulai usaha baru yang sudah kami rencanakan."

__ADS_1


Zantisya mengangguk pelan. Hatinya sedikit cercolek oleh penuturan Safir. Bahkan tanpa sadar, Safir masih saja ingat kalau ide itu telah mereka rencanakan selanjutnya. "Tentu. Apapun yang terbaik untuk anak Bunda, pasti akan Bunda doakan."


Sudah mendapatkan doa baik dari orang tua, membuat Safir segera berpamitan untuk segera pergi. Ia menuju parkiran mobil. Baru saja sampai, langkah kaki Safir terhenti karena hanya dengan melihat mobilnya saja, ia jadi ingat Queen. Kendaraan roda empat yang begitu banyak kenangan mereka berdua.


Memang bukan kenangan romantis sepasang kekasih. Tapi dengan mobil tersebut, mereka berdua akan cepat sampai ke tujuan mereka. Menyelesaikan kuliah dan juga urusan pekerjaan. Belum lagi Queen yang suka sekali bercerita dan membicarakan hal-hal yang menurut Safir terkadang tidaklah penting, disaat Safir sedang mengendarai mobil.


'Aku ingat kamu lagi,' gumam hati Safir. Ia tersenyum samar saat hatinya kembali menyesali keadaan. Tapi tidak lama kemudian, Safir menggelengkan kepalanya. Ia berusaha mengelak hatinya agar tidak terbawa perasaan oleh hati yang sudah tersadarkan.


"Kenapa, Mas?" tanya sopir yang baru saja menghampiri Safir.


""Tidak apa-apa Pak. Saya pergi dulu ya Pak," ucapnya yang langsung memasuki mobil.


Safir berusaha mengelak perasaannya saat ini. Ia harus bisa abai dan sekarang pikirannya harus fokus pada pekerjaan.


"Bissmillah. Semoga tanah itu bisa aku dapatkan," ucap Safir sebelum melajukan mobilnya. Setelah itu, Safir mengirim pesan pada Yusman agar mereka bisa bertemu di lokasi peternakan saja.


Sampai pada akhirnya, Safir telah sampai di lokasi peternakan. Banyak pegawainya yang kini sedang memberikan pakan pada hewan peliharaan. Dan ada juga yang kini sedang membersihkan kandang. Ada juga para petani yang sengaja datang untuk mengambil kotoran sapi atau kambing untuk membuat pupuk kandang.


Meskipun kotoran, kalau memang bisa bermanfaat untuk orang lain, maka Safir memperbolehkan untuk mengambil secara langsung. Terutama untuk para petani yang sengaja menanam sayuran organik. Tentu salah satunya menggunakan pupuk kandang.


"Sudah sampai dari tadi Pak?" sapa Safir sambil mendekati Yusman.


"Baru beberapa menit yang lalu, Mas."


"Hah, deg-degan sekali saya Pak. Tanah ini benar-benar sudah saya incar sejak lama."


"Semoga saja ya Mas, harga yang di tawarkan pas dan cocok."

__ADS_1


"Mahal kalau sesuai dengan pasaran mah saya enggak apa-apa Pak. Yang penting rencana ini bisa cepat terlaksana."


Tidak lama kemudian, Samsul si pemilik tanah juga datang. Lelaki bertubuh gempal tersebut langsung menghampiri Safir dan Yusman.


"Selamat siang, Pak Samsul," sapa Safir dan Yusman bersamaan. Keduanya bergantian mengajak Samsul untuk bersalaman.


"Siang," kedua mata Samsul nampak celingukan karena sepertinya sedang mencari seseorang.


"Perkenalkan Pak Samsul, saya Yusman yang semalam telah membalas pesan Bapak. Dan ini Mas Safir, yang berniat membeli tanah yang ingin Bapak tawarkan."


"Loh kok jadi Anda? Bukannya nomor yang saya hubungi itu adalah nomornya Queen?" air muka Samsul mulai tidak enak saat menatap Safir dan Yusman.


"Benar Pak. Yang Bapak hubungi itu memang nomor yang dulu di gunakan Mbak Queen saat masih bekerja dengan Mas Safir. Karena sekarang Mbak Queen sudah tidak bekerja lagi dan saya yang menggantikan, jadi nomor yang dulu di pegang Mbak Queen, sekarang saya yang pegang."


Melihat Samsul terus membicarakan Queen, membuat perasaan Safir jadi tidak enak sendiri. Ia mulai negative thinking karena sepertinya jalan keinginan kali ini tidak akan mudah.


"Jadi bukan Queen yang mau membeli tanah saya?" tuntutnya agar lebih jelas lagi.


"Bukan Pak. Sekalipun saat ini ada Queen, memang saya yang akan membeli tanah Bapak."


"Kalau beitu maaf, saya tidak jadi menjual tanah saya."


Jedeeerrr ...


Ucapan Samsul benar-benar tidak ingin Safir dengar. Bagaimana mungkin tanah yang memang berniat akan di jual, sekarang Samsul jadi berubah pikiran.


"Kenapa begitu Pak? Bukannya Bapak ingin menjualnya makanya Bapak menghubungi kami?" tanya Safir butuh penjelasa.

__ADS_1


"Sekalipun kamu yang mau membeli tanah saya ini, pastikan saya bertransaksi secara langsung dengan Queen."


__ADS_2