
Setelah makan malam, hanya sebentar Queen ikut berkumpul di ruangan keluarga. Bahkan sebelum Zen dan Ruby mengajak si kembar untuk tidur, Queen sudah lebih dulu memasuki kamarnya.
Selama hidupnya, sepertinya baru kali ini Queen merasa sampai 2 bulan lamanya tidak mendengar suara Divya secara langsung. Queen jadi penasaran, apa yang sebenarnya membuat pertengkaran diantara Divya dan Safir. Sehingga membuat Divya menjauh seperti ini.
Seolah ada dinding yang begitu tinggi, yang kini sedang di bangun oleh Divya. Membuat Queen seolah tidak bisa melewatinya. Itulah yang sampai saat ini masih Queen rasakan. Berjarak dengan Divya tanpa tahu apa alasannya.
"Tumben sekali Kak Vian video call sampai beberapa kali," gumam Queen setelah dirinya meraih ponsel. Queen segera menghubungi Vian kembali sambil mendaratkan tubuhnya diatas ranjang. "Halo Kak."
"Iya. Sedang makan ya tadi, kok enggak cepat angkat telepon?" tanya Vian setelah menerima panggilan dari adiknya itu.
"Iya, Kak. Tadi Queen memang sengaja tidak bawa hp saat turun. Tumben Kakak video call, Queen? Biasanya kalau diajak seperti ini Kak Vian selalu mengaku sibuk," ucap Queen sambil memasang wajahnya yang kecewa.
"Enggak usah masang wajah jelek begitu. Nih, Kak Di kangen katanya," ucap Vian sambil memberikan ponselnya pada Divya.
__ADS_1
Selama tinggal di villa, Divya memang tidak Vian bolehkan untuk menggunakan ponsel pribadi Divya. Vian tidak ingin karena terlalu banyak interaksi dengan banyak orang diluar sana, membuat Divya tidak fokus untuk kesehatannya sendiri. Maka segala fasilitas internet yang dinikmati Divya sehari-hari tetunya menggunakan ipad. Beruntungnya Divya menuruti apa yang Vian dan dokter ucapkan.
Deg!
Degup jantung Queen seketika tergugah. Ia terkejut, karena pada akhirnya Divya berkenan juga untuk bicara dengan dirinya. Hati Queen rasanya bergetar karena merindukan Kakanya tersebut. Membuat kedua mata Queen langsung berkaca-kaca. Apalagi saat layar ponselnya berubah menjadi wajah Divya.
"Hai, Queen," sapa Divya kemudian tersenyum pada adiknya itu.
"Kakaaakkk ..." panggil Queen kencang karena tidak menyangka. Bahkan Queen sampai menangis karena tidak percaya kalau saat ini dirinya bisa berbicara dengan Divya lagi.
"Bagaimana keadaan Kakak sekarang? Kakak baik-baik saja kan? Kakak sama Kak Vian sebenarnya tingga dimana sekarang? Kenapa selama dua bulan ini Kakak enggak kasih kabar sama Queen? Queen takut terjadi sesuatu hal sama Kakak," ucapnya kemudian mengusap air matanya yang meleleh.
Sejak dulu hingga saat ini, meskipun Queen adalah pribadi yang ceria. Tapi tidak bisa pungkir kalau gadis tersebut sangat cengeng.
__ADS_1
Segala pertanyaan Queen yang beruntun justru membuat hati Divya semakin terasa sakit dan begitu sangat nyeri. Dirinya sudah memperlakukan Queen dengan tidak baik. Tapi Queen selalu memikirkan dirinya. Benar kata Vian, akan lebih baik kalau dirinya diam tanpa perlu membahas apa yang sudah ia perbuat pada Queen. Dari pada nanti dirinya kehilangan perhatian Queen yang seperti ini. Biarlah Divya kembali egois. Karena sekarang dirinya tidak ingin memiliki masalah apapun lagi dengan adiknya itu.
Divya tersenyum kecil disaat hatinya sangat merasa bersalah. "Satu-satu tanyanya, Queen. Selama disini, Kakak sudah merasa lebih baik. Kakak minta maaf karena selama 2 bulan ini enggak kasih kabar sama Queen. Selama disini, Kakak memilih diam dan merenungi segala kesalahan Kakak. Tapi sekarang Kakak sudah baik-baik saja. Jadi Queen jangan khawatir."
"Queen ingin ketemu Kakak. Kasih tahu Kakak tingga dimana sebenarnya. Kalau Queen libur kuliah, Queen mau lihat Kakak."
"Tidak perlu. Kakak masih ingin menyendiri dulu. Maaf ya, Queen. Sekarang sebaiknya Queen fokus sama kuliahnya Queen dulu. Sebentar lagi juga kita akan bertemu kok. Dan Kakak harap, itu adalah pertemuan yang indah dan yang tidak akan Kakak lupakan."
"Maksud Kakak?" tanya Queen yang tidak paham dengan maksud Divya.
"Pokoknya sekarang Queen cukup fokus dengan kuliah Queen. Capai cita-cita Queen dan kejar kebahagiaan Queen. Kakak akan selalu doakan kebaikan untuk Queen. Kakak minta maaf sama Queen ya?" ucapnya tulus.
"Untuk apa Kakak minta maaf sama Queen? Kakak tidak salah apapun Kak."
__ADS_1
"Entah apapun itu, Kakak minta maaf. Biar bagaimanapun keadaannya, tetap terima Kakak ya?"