Duka Pernikahan

Duka Pernikahan
BAB 157 Meminta Maaf


__ADS_3

Melihat kedatangan Queen dan keluarga lainnya, membuat Divya tersenyum senang. Ia hanya bisa melirik saja tanpa bisa menoleh dengan benar.


"Kakaaakkk ..."


Melihat Divya yang tergeletak diatas bangsal, membuat Queen lari mendekati kakaknya itu. Bukan maksut hati Queen mengabaikan orang tuanya. Karena jika dengan Reina dan Hendri masih setiap hari Queen berkomunikasi. Sedangan dengan Divya, baru saja kemarin malam dan sekarang Queen mendapati Divya yang terbaring seperti ini.


"Kakak kenapa? Kakak sakit apa? Bukankah kemarin malam Kakak masih baik-baik saja di villa. Kenapa sekarang jadi seperi ini?"


Mendapatkan rentetan pertanyaan dari Queen saat sedang mengkhawatirkannya, membaut Divya semakin merasa berdosa. Bisa-bisanya dirinya selama hidup hanya membenci adiknya sendiri. Meski saat ini Divya ingin menangis, tapi ia tahan karena yang Divya tunjukkan adalah senyuman terbaik agar Queen tahu bahwa dirinya akan tetap baik-baik saja.


"Satu-satu dong tanyanya, Queen. Kakak baik-baik saja. Jangan khawatir ya?" ucap Divya pelan.


Rasanya Queen ingin memeluk Divya. Tapi dirinya tidak berani karena takut ada yang sakit dari tubuh Divya, Queen sendiri juga belum tahu apa yang menyebabkan Divya sampai seperti ini.


"Baik-baik saja bagaimana kalau Kakak sakit seperti ini? Apa yang sudah terjadi, Kak?"


"Sudah, jangan khawatir terlalu berlebihan. Sini peluk Kakak."


"Kakak," tanpa pikir panjang lagi, Queen langsung memeluk Divya.Ia menangis karena meluapkan rasa rindu dan juga rasa sedih melihat keadaan Divya yang seperti sekarang ini.


Sedangkan yang lainnya, antara sedih dan juga terharu yang semua orang rasakan. Melihat Divya yang sudah menerima Queen lagi, tentu membuat hati semua orang menjadi sangat senang. Rasa yang sudah campur aduk menjadi satu hingga membuat mereka sulit menjabarkan arti hati mereka saat ini.


"Kakak senang kamu datang kesini. Terima kasih ya?"


"Untuk apa berterima kasih. Kalau Kakak sejak kemarin-kemarin meminta Queen untuk datang, pasti Queen juga akan datang. Queen kangen Kakak. Tapi Queen tidak bisa menemui Kakak selama 2 bulan ini. Jangankan bertemu, saling bertukar kabar saja tidak."


"Maaf."


Cukup lama Queen dan Divya saling berpelukan. Queen beranjak setelah Divya melepaskannya. Setelah itu, bergantian keluarga lainnya yang menghampiri Divya. Hingga saatnya, semua orang keluar dari ruangan tersebut karena Divya ingin bicara berdua dengan Queen.


Ruby dan Zen memilih untuk meninggalkan orang tua yang akan berbica serius. Begitu juga dengan Vian. Mereka juga ingin mendengar semuanya dari Reina. Tapi karena keadaan masih seperti ini. Dan Reina juga sepertinya akan meluapkan pikirannya pada Nissa dan Yusuf, tentu lebih baik mereka membawa si kembar ke taman bermain yang ada di halaman rumah sakit tersebut. Mereka akan mendengar cerita dari Vian saja.


"Nda," Reina langsung memeluk Nissa. Ia menangis karena merasa takut dan pikirannya yang sudah semakin berantakan.


Sedangkan Yusuf kini menepuk punggung Hendri. "Sabar. Insya Allah Di akan segera sehat."


Hendri hanya mengangguk saja dengan tatapannya yang sendu. "Iya, Ayah.


"Nissa sendiri memilih diam dan tetap membalas pelukan Reina. Ia akan membiarkan Reina menangis sampai merasa tenang dan siap untuk bercerita.

__ADS_1


"Jadi bagaimana dengan keadaan Divya?" tanya Yusuf yang sudah penasaran dengan keadaan cucu pertamanya itu.


"Divya ..."


*


Tadi pagi.


"Selamat pagi, Dokter," sapa Hendri dan Reina setelah memasuki sebuah ruangan. Keduanya di panggil seorang petugas kesehatan lainnya bahwa dokter yang bertanggung jawab di ruangan tempat Divya dirawat ingin bertemu dengan mereka.


"Selamat pagi."


Setelah saling bersalaman, Hendri dan Reina segera duduk untuk mendengar penjelasan dokter bagaimana.


"Bagaimana keadaan anak kami, dok?" tanya Hendri yang sudah sangat penasaran.


"Sebelumnya, kami sebagai petugas kesehatan tentu memberikan penanganan yang tepat. Semua tindakan juga sudah di setujui oleh Mas Vian selaku yang bertanggung jawab pada pasien. Apapun yang saya sampaikan ini, mohon Bapak dan Ibu bisa menerima dengan hati yang lapang."


Baru di beritahukan seperti ini saja, degup jantung Hendri dan Reina sudah berpacu kencang. Rasanya mereka tidak siap untuk mendengar semuanya. Tapi bagaimana keadaannya, mereka harus tahu kondisi Divya sebenarnya.


Jika waktu boleh diulang, mungkin Hendri dan Reina akan memperbaiki semuanya. Memanfaatkan waktu mereka selama dua bulan terakhir. Namun, bagaimana lagi jika rasa kecewa dan prihatin serta urusan pekerjaan yang sudah menjadi tanggung jawab mereka, bercampur menjadi satu.


Sebenarnya, perkiraan pemeriksaan ini sudah di sampaikan dokter pada Vian. Hanya saja, Vian memilih diam karena berharap adanya keajaiban.


Cidera pada tulang leher yang cukup parah membuat Divya kesulitan bernafas. Bersamaan dengan patah tulang belakang yang membuat Divya mengalami kelumpuhan.


Keadaan Divya yang dibawa ke rumah sakit kemarin sebenarnya, sudah membuat para medis khawatir. Divya bertahanpun karena bantuan alat yang cukup menunjang. Bahkan perkiraan dokter juga Divya bisa sadar memerlukan waktu yang cukup lama. Tapi siapa yang tahu kalau Divya bisa sadar secepat ini.


Wajar jika keadaan Divya sampai separah ini. Tubuh Divya juga memang belum sepenuhnya sehat. Apalagi saat ini Divya sedang melakukan terapi dan pengobatan lainnya. Dan kejadian kemarin, tubuh Divya harus terjatuh tepat pada kayu yang cukup besar dan juga kokoh. Membuat keadaan Divya seperti sekarang. Andai saja Divya jatuh langsung mendarat di tanah, sudah pasti keadaannya tidak akan seperti ini.


"Anak kami ini sudah sadar loh dok. Lakukan apapun yang terbaik untuk anak kami. Kalaupun Dokter merekomendasikan kami untuk pidah ke luar negeri juga akan kami lakukan. Apa hak dokter bicara seperti ini pada kami?" ucap Reina dengan air mata yang sudah berderai.


"Sayang," Hendri langsung memeluk Reina agar segera tenang. Apalagi dokter sepertinya belum selesai menyampaikan semuanya.


"Haki hanya menyampaikan apa yang memang harus Bapak dan Ibu ketahui. Sekarang saran saya, karena sekarang Mbak Divya sudah sadar, tolong turuti saja apa maunya."


Yang menentukan hidup dan mati adalah Tuhan. Sedangkan dokter hanyalah perantara untuk kesehatan pasien yang sedang membutuhkan pertolongan. Pengalaman yang sudah didapatkan seorang dokter selama bertahun-tahun, tentu membuat dokter tersebut bisa memperkirakan keadaan Divya sekarang dan yang akan terjadi selanjutnya.


"Kami sudah mempersiapkan ruangan perawatan dengan peralatan yang memadai juga. Sebentar lagi pasien akan kami pindahkan. Apa ada yang ingin Bapak dan Ibu tanyakan?"

__ADS_1


Setelah Divya di pindahkan keruang perawatan, baik Reina, Hendri, dan juga Vian, tidak ada yang boleh menangis. Mati-matian mereka menahan rasa perih mata mereka agar bisa berinteraksi dengan baik.


"Di minta maaf sama Mama dan Papa. Di pasti sudah mengecewakan Mama dan papa kan?" ucap Divya pelan. Rasanya sangat berat saat harus bicara. Apalagi nafasnya yang terasa tidak nyaman.


"Yang lalu, biarkan saja berlalu. Kami sudah memaafkan semuanya. Sekarang Di fokus dengan kesehatan Di saja ya. Biar cepat sehat dan kita bisa cepat pulang."


"Apa Mama sudah meminta Queen datang?"


"Sudah! Kemungkinan saat ini Queen, Oma Opa dan yang lainnya sedang melakukan penerbangan."


Divya berusaha menggerakkan tanganya untuk menyentuh dadanya yang terasa sakit. "Tolong minta dia juga datang kesini, Ma. Di mau minta maaf," pintanya sambil memejamkan kedua matanya. "Dan tolong juga minta seseorang lainnya untuk datang kesini. Rasanya Di sudah sangat mengantuk."


*


Bukan hanya Reina yang menangis, tapi juga Nissa ikut menangis setelah mendengar semua cerita yang sebenarnya. Yusuf sendiri sampai menyandarkan tubuhnya. Apalagi saat mengetahui penyebab Divya jatuh dari lantai 2.


"Mata hatus dibayar dengan mata. Kalau sampai hal itu terjadi, aku sendiri yang akan pastikan dia tidak bisa hidup aman selama di dalam penjara."


Klek!


Sudah cukup lama Queen berada didalam ruangan bersama dengan Divya. Kini gadis tersebut sudah keluar dengan wajah yang semakin sembab.


"Mama, Queen harus apa sekarang?"


*


"Safir dimana?" tanya Zantisya setelah anak lelakinya itu menerima panggilan suara darinya.


"Di kantor, Bun. Kenapa?"


"Pulang sekarang dan kita pergi ke Semarang sekarang juga. Divya kecelakaan, Fir."


"Innalihi wa innailaihi raajiun. Kecelakaan apa Bun?"


"Bunda juga tidak tahu. Yang terpenti sekarang kita pergi kesana."


Safir menghela nafasnya pelan. Bukan dirinya tidak prihatin dengan keadaan Divya saat ini. Hanya saja, dirinya juga belum siap jika harus bertemu dengan Divya.


"Maaf, Bunda dan Ayah saja yang datang kesana. Safir pasti doakan untuk kesembuhan Di, Bun."

__ADS_1


"Fir, yang meminta kamu untuk ikut juga itu Bu Reina dan Pak Hendri. Tidak sopan kalau kamu tidak ikut. Bunda tahu kalau saat ini Safir masih enggan untuk bertemu dengan Divya. Tapi coba tahan dulu luka hati Safir dan hormati kedua orang tua Divya."


__ADS_2