
Mana mungkin Safir mengatakan apa yang ada di pikirannya saat ini pada Divya. Sadar kalau Safir sudah menyakiti Queen. Maka sekarang Safir tidak boleh melukai Divya. Perempuan yang sejak awal ia pilih sendiri. Belum lagi ia sudah membuat janji dengan Reina tentang tanggung jawab kedepannya nanti.
"Enggak ada apa-apa," pada akhirnya, berbohong adalah pilihan Safir. "Aku mandi lebih dulu ya."
"Heem. Aku bersihkan make up ku dulu."
Tanpa pikir panjang lagi, Safir bergegas menuju kamar mandi. Ia melepas seluruh pakaian yang ia gunakan. Setelah itu, Safir mengguyur tubuhnya di bawah shower. Air hangat seketika membasahi tubuh Safir. Ia mengusap wajahnya secara kasar. Tubuhnya sedikit membungkuk sedangkan satu tagannya berpegangan pada dinding kamar mandi tersebut.
Setelah sekian lama menunggu momen penting ini. Seharusnya kini dirinya di selimuti rasa bahagia dan begitu menggebu karena rasa ingin memiliki Divya seutuhnya. Tapi nyatanya sekarang isi kepala Safir justru di penuhi dengan nama Queen. Sedangkan hatinya di penuhi dengan rasa bersalah dan menyesal.
Mau menangis saja rasanya tidak pantas. Tapi sekarang Safir benar-benar menangis karena semua jawaban yang telah ia nanti hadir di acara pernikahan. Safir hanya bisa berandai-andai dengan waktu yang sudah tidak bisa di ulang lagi.
Setengah jam lebih Safir berada di dalam kamar mandi. Begitu selesai membersihkan seluruh tubuhnya, ia bergegas segera keluar dari sana.
"Belum selesai?" tanya Safir saat melihat Divya yang masih memperhatikan wajahnya di depan cermin.
"Sudah. Tapi tolong turunkan resleting gaun ini. Terlalu panjang resletingnya. Jadi aku susah membuka sendiri," dengan menahan rasa malu, Divya harus memberanikan diri untuk meminta tolong pada Safir. Lagi pula kalau bukan pada Safir mau minta tolong pada siapa lagi.
Safir segera mendekati Divya. "Maaf ya," sebisa mungkin Safir tidak menyentuh kulit Divya karena setelah ini mereka harus melakukan kewajiban mereka pada Tuhan.
Mungkin jika lelaki pada umumnya akan tertarik saat melihat punggung mulus seorang perempuan yang tercetak jelas di depan mata. Tapi sayangnya, pikiran Safir tidak seperti itu. Ia jadi merasa bersalah sendiri pada Divya. Menyadari kalau semuanya tidak lagi menggunakan hati yang begitu mencintai. Melainkan perasaan bersalah dan rasa tanggung jawab yang menjadi kewajibannya. "Sudah."
"Terima kasih. Aku mandi dulu ya?" ucapnya dengan air muka yang nampak memerah malu.
__ADS_1
"Ya. Aku tunggu kamu biar kita solat bersama."
Begitu Divya memasuki kamar mandi, Safir bergegas ganti baju. Pakaian ganti yang sudah di siapkan di dalam lemari. Safir menggunakan sarung dan juga kaos yang ada di sana.
Tidak lama kemudian, Divya sudah keluar dari kamar mandi. Perempuan tersebut melihat Safir yang sudah menata alat solat dan Safir juga sudah duduk di tempatnya. Divya bergegas menggunakan baju yang memang sudah di persiapkan. Tentunya baju dinas yang sudah ia beli seorang diri. Divya segera menghampiri Safir setelah menggunakan alat solatnya.
"Ayo, Fir."
Kewajiban memang harus di laksanakan dalam keadaan apapun. Tidak ada alasan untuk meninggalkan kewajiban jika bukan karena suatu hal yang begitu darurat. Ini adalah momen pertama kali bagi Safir dan Divya melakukan solat berjamaah dengan pasangan hidup mereka. Begitu sudah selesai, mereka banyak membacakan doa. Bersyukur atas semua acara yang sudah berjalan dengan sangat lancar.
Begitu selesai, Safir balik badan dari posisi duduknya. Dan Divya segera mencium punggung tangan Safir. Helaan nafas Safir pelan tapi sangat frustasi bagi Safir. Bisa-bisanya untuk sesaat bayangan Queen datang lagi. Membuat Safir yang awalnya hendak mencium kening Divya, pada akhirnya Safir urung melakukannya.
Divya sendiri tercengan saat Safir tidak melakukan apapun padanya setelah Solat. Minimal mencium kening atau bi*bir begitu. Tapi Divya memaklumi jika Safir tidak melakukan hal romatis setelah usai ibadah bersama yang telah mereka lakukan. Pasti saat ini Safir merasa canggung.
Safir langsung membuka kedua matanya saat merasakan keberadaan Divya di sampingnya. Suguhan yang Safir lihat adalah pa*ha Divya yang langsung tercetak jelas. Sebagai lelaki normal, tentu saja rasa kelelakian Safir mulai tergugah. Tapi saat saling bertatapan dengan Divya, rasa itu luntur begitu saja. Di ganti dengan rasa yang mengusik hati yang sudah gundah.
"Di."
"Sumpah, Fir. Aku malu banget menggunakan ini," ucapnya berterus terang. "Tapi bagaimana dengan penampilanku sekarang?" Divya tersenyum manis dan menunggu pujian dari Safir.
"Luar biasa."
"Luar biasa? Apa aku tidak cantik?"
__ADS_1
Sekali lagi Safir mengamati wajah Divya yang cantik dan juga terlihat dewasa. 'Apakah selama ini aku hanya mengaguminya. Lalu selama itu, cinta yang seperti apa yang aku rasakan sampai aku ingin sekali menikahinya? Dan tadi pagi, Tuhan meyakinkan hatiku atas jawaban yang aku tunggu sejak satu bulan ini.'
Cup
Lamunan Safir langsung lebur karena Divya dengan berani mengecup bibi**rnya. Entah keberanian model apa yang kini Divya lakukan.
"Kamu terlalu banyak melamun. Memikirkan apa sebenarnya?" tanyanya tanpa menjauhkan wajahnya dari wajah Safir. Sedangkan kini, tangan Divya tetap mencengkram lengan tangan Safir yang Divya gunakan untuk berpegangan.
"Entahlah."
"Lalu kita mau melakukan apa sekarang? Mengobrol terus atau?"
Safir tahu maksud Divya. Karena sejak dulu jika sudah menikah, maka bayangan Safir adalah melakukan hubungan suami istri dengan Divya. Puncak pernikahan yang begitu sakral adalah membuat kesan manis di malam pertama. Tapi semua bayangan yang pernah Safir khayalkan itu rasanya sudah tidak bisa Safir wujudkan lagi. Mungkinkah.
Baru saja Safir ingin membuka mulutnya untuk memberikan tanggapan atas pertanyaan Divya. Tapi Divya yang lebih agresif justru kembali menyatukan bibir mereka. Dua benda lembut yang kini sudah bertemu tanpa celah.
Bukan ini yang ingin Safir lakukan sekarang. Karena Safir awalnya ingin mengajak Divya berbicara. Tapi sekarang bagaimana. Jika pada akhirnya Safir memilih memejamkan kedua matanya dan menuruti maunya Divya.
Sentuhan yang begitu lembut dan juga mendebarkan. Saat Divya berusaha untuk menyesap bibir Safir. Safir juga berusaha untuk melakukan hal yang sama. Namun, tiba-tiba Safir membuka matanya karena ia justru membayangkan Queen.
Safir langsung merebahkan tubuh Divya. Hal itu membuat Divya merasa senang karena mungkin saja malam ini mereka akan menghabiskan malam yang panjang. Setelah hubungan yang cukup lama mereka jaga. Inilah malam yang akan menjadi bukti kalau cinta mereka sudah bersatu sempurna.
"Di ..."
__ADS_1