Duka Pernikahan

Duka Pernikahan
BAB 70 Semarang


__ADS_3

Di Jakarta.


"Untung saja dapat undangan pernikahan di saat By tidak ada jadwal kuliah," ucap Nissa. Pagi ini semua orang sedang berkumpul di ruang makan. "Mungkin kami di sana selama 4 hari. By ngurus trio S sama Bibi dulu tidak apa-apakan?" tidak pernah Nissa dan Yusuf bepergian hingga menginap seperti ini. Kalau saja ini bukan undangan dari rekan bisnis Yusuf dulu. Rekan bisnis yang menjalin hubungan begitu baik dengan Yusuf. Mana mungkin Yusuf tega bepergian lama seperti ini. Mengingat cukup repotnya menjaga si kembar yang semakin aktif saja.


"Pokoknya, begitu acara selesai, kami akan langsung pulang," ucap Yusuf yang baru saja menyelesaikan sarapannya.


"Nda sama Ayah tidak perlu buru-buru. Mumpung ke Semarang, jadi manfaatkan saja waktunya. Kencan mungkin," ucap Zen memberiakn saran. "Kan sama Kak Re dan Mas Hen. Sekalian double date, pasti seru," terangnya. Ia jadi terkekeh sendiri membayangkan dua pasang suami istri yang sudah lanjut usia sedang berkencan di tempat alam terbuka.


"Bocah ini. Ngasih saran itu yang bener Zen," dari dulu hingga saat ini. Kelakuan Zen memang masih sama saja.


"Benar kata Mas, Bu. Mumpung di Jawa tengah, kan bisa menikmati suasa di sana," namanya juga suami istri. Wajar jika Ruby kini mendukung ucapan Zen.


"Sepertinya tidak ada salahnya juga kalau kita pergi jalan-jalan di sana Nda," kini Yusuf sudah mulai terpengaruh dengan saran Zen.


Setelah selesai sarapan, Yusuf menyempatkan diri untuk menggendong ketiga cucunya tersebut. Terutama Shaki yang memang lebih dekat dengan dirinya. Setelah itu, Zen membawa ketiga anaknya menaiki mobil sejenak untuk mengelabuhi ke tiganya agar Yusuf dan Nissa segera melakukan perjalanan jauh menuju Jawa Tengah. Asal ketiganya tidak melihat kepergian Opa dan Omanya, Zen dan Ruby yakin kalau anak mereka tidak akan rewel. Beda cerita lagi kalau di pamitin secara langsung.

__ADS_1


Hanya 30 menit Zen mengajak ketiga anaknya ,mengitari jalan area perumahan tempat tinggalnya tersebut. Hingga kini Zen membawa ketiganya pulang.


Secara perlahan trio S menaiki anak tangga. Namanya juga seorang Papa, Zen akan lebih senang jika melihat anak-anaknya melakukan hal apapun seorang diri jika ketiganya memang sudah bisa. Seperti sekarang ini, Zen berada di belakang ketiga anaknya yang sedang menaiki anak tangga.


"Pelan-pelan saja. Tidak usah buru-buru," ucap Zen mengingatkan anak-anaknya.


Zen tersenyum bangga saat melihat anak-anaknya sudah berhasil menaiki anak tangga dan kini ketiganya lari sambil memanggil Ruby.


"Sudah aku siapin baju kalau Mas mau berangkat ke kantor," ucap Ruby sambil mengambil alih ketiga anaknya yang akan ia jaga seorang diri di ruang mainan.


"Loh kenapa Mas? Aku bisa kok jaga anak-anak. Nanti ada Bibi juga yang akan bantu aku."


"Ingin saja. Jarang-jarang kita momong bocil berduaan begini. Ayo."


*

__ADS_1


Perjalanan dari Jakarta ke Semarang begitu lancar. Dengan melalui jalan tol, membuat jarak terasa lebih dekat. Sekitar pukul 14.00 WIB, Yusuf dan Nissa sudah sampai hotel tujuan. Tempat di mana acara pernikahan akan du selenggarakan esok hari.


Di sana keduanya sudah bertemu dengan Reina dan Hendri yang sudah datang lebih dulu. Padahal baru beberapa hari mereka tidak saling bertemu. Kini mereka sudah saling bertemu lagi.


Untuk menghilangkan rasa lelah, kini semua orang memilih untuk istirahat lebih dulu. Mereka sudah saling membuat janji kalau nanti malam mereka akan pergi makan malam bersama di suatu tempat yang sudah sejak beberapa hari terakhir sudah Reina dan Nissa janjikan.


Sekitar pukul 18.20 wib, dua pasangan suami istri tersebut sudah keluar dari kamar mereka. Keempat orang tersebut turun ke lantai bawah bersama-sama. Sopir Yusuf sudah menunggu di loby hotel dengan mengendarai mobil. Sedangkan sebelum pergi, Reina memberikan pesan pada sopirnya untuk makan di restoran hotel tersebut.


Mobil mewah yang cukup di muati 7 orang tersebut sudah melaju dengan kecepatan sedang sesuai dengan penunjuk arah tujuan mereka saat ini.


"Pelan-pelan saja Pak," ucap Yusuf. Karena kini mereka melalui jalanan di area Universitas. Sekalipun sudah malam seperti ini, masih saja banyak muda-mudi yang berkeliaran. Mungkin saja itu para mahasiswa/i yang kuliah di jam malam.


"Baik, Pak," ucap sopir sambil mengurangi laju kecepatan mobil.


"Stop Paaakkk ..." Pekik Hendri tiba-tiba. Ia sejak tadi sedang melihat ke luar jendela. Hendri pikir, siapa yang tahu ada makanan pinggir jalan yang menarik perhatiannya. Perkiraan sampai lokasi restoran masih setengah jam lagi. Sedangkan perut Hendri sudah terasa lapar.

__ADS_1


"Ada apa Mas?"


__ADS_2