Duka Pernikahan

Duka Pernikahan
BAB 129 Buka-bukaan


__ADS_3

Begitu sampai basement apartemen, Safir dan Divya segera keluar dari mobil mereka dan segera menuju lift agar segera sampai apartement untuk menyelesaikan masalah ini.


Safir melangkah lebih dulu begitu pintu lift terbuka. Ia langsung memasukkan sandi dan segera memasuki apartemen yang baru 10 harian mereka tempati. Rasanya Safir hanya bisa menahan emosinya. Ia meletakkan kantong belanjaan begitu saja di atas sofa.


"Sekarang bilang sama aku, apa tujuan kamu berbohong setiap kali kamu bertemu dengan Dafa? Kalian punya hubungan tertentu?" tanya Safir setelah Divya masuk dan kembali menutu pintu.


"Setiap kali. maksud kamu apa, Fir?" Divya jelas bingung dengan ucapan Safir. Jika seperti ini, seolah Safir sudah mengetahui semuanya.


"Jangan pura-pura tidak tahu apapun ya, Di. Bukankah setiap kali kalian bertemu, kamu selalu bohong sama aku? Pertama, saat kita masih tinggal di rumah Mama. Kamu bilang bertemu dengan Lusi. Kalian memang bertemu, tapi setelah itu bukannya kamu cepat pulang, kamu justru asik dengan Dafa. Lalu saat kita masih di Jakarta, bukankah yang menemani kamu di hotel saat menunggu sopir itu adalah Dafa? Kamu justru memilih berbohong sama aku. Tapi aku masih bisa terima."


"Darimana kamu tahu aku bersama dengan Dafa hari itu?"


"Kamu tidak perlu tahu soal itu. Aku ingin tahu sekarang, kamu ini tidak peka atau bagaimana, Di? Dafa itu suka sama kamu."

__ADS_1


"Tapi aku enggak suka sama Dafa, Fir," bela Divya dan berharap Safir percaya.


Melihat Divya yang bereaksi biasa saja, membuat Safir tersenyum kecil. "Owh, jadi selama ini kamu tahu kalau Dafa suka sama kamu. Tapi kamu memilih pura-pura tidak tahu dan justru memilih berteman seperti itu? Kamu itu sama saja memberikan harapan sama dia," Safir menyentak Divya, kemudian terkekeh, karena menertawakan hubungannya dengan Divya yang banyak menyimpan rahasia. "Semenjak kita pulang dari Jakarta, sudah berapa kali kamu bohongi aku setiap kali bertemu dengan Dafa. Tapi malam ini aku sudah tidak ingin kalau kamu terus membohongi aku, Di."


"Aku bohong karena punya alasan, Fir. Aku enggak mau kamu salah paham dan marah seperti saat kita bertemu dengan Dafa pertama kali."


"Saat itu aku marah bukan karena Dafa, Di. Aku marah sama kamu, karena kamu tidak bisa melihat situasi kita yang sedang berkencan. Aku ingin berduaan sama kamu agar hubngan kita membaik. Tapi apa yang kamu lakukan waktu itu. Hah!"


"Jadi sekarang kamu cemburu dengan Dafa, Fir?"


"Jangan fitnah kamu, Fir," ucap Divya menyentak karena tidak terima atas kecurigaan Safir. "Bukankah kita impas, Fir? tanya Divya sambil tersenyum getir menatap Safir tajam. "Kamu juga sudah banyak berbohong sama aku. Jadi jangan menuduhku seolah kamu itu suci dari kesalahan."


"Apa maksud kamu?"

__ADS_1


"Bukankah malam itu kamu dan Queen makan tengah malam berduaan? Bahkan dengan sangat romatisnya kamu yang menghabiskan sisa makanan Queen?" Benarkan?" tuntut Divya menyentak.


"Dari mana kamu tahu, Di?" tanya Safir yang terkejut. Karena esok paginya, Ruby sendiri yang pergi ke ruangan cctv untuk menghapus rekam jejaknya bersama dengan Queen.


"Karena setelah kamu tidur, aku pergi melihat CCTV. Kalian bahkan kompak sekali. Saat aku keatas mengambil ponsel, aku masuk ke kamar Queen. Dan dia pura-pura tidur."


Deg!


Mendengar penuturan panjang kali lebar dari Divya, membuat Safir mencerna dengan baik semua kata yang perlu ia tandai. Bukankah aneh kalau malam itu Divya pergi melihat Queen. Keculi kalau Divya memiliki niat tertentu atau mengerti semua hal tentang Queen dan juga dirinya.


"Lucu kalian. Kenapa kalian harus bersembunyi hah? kalian punya hubungan di belakang aku? Menyelesaikan perasaan kalian yang belum selesai, begitu?"


Safir lebih dibuat terkejut. Degup jantungnya sudah semakin bekerja cepat karena lanjutan kata Divya.

__ADS_1


"Jadi maksud kamu ...?" bibir Safir sampai tidak berani berucap karena begitu bergetar dan juga terkejut dengan segala ucapan Divya.


"Queen adik aku, Fir. Sekalipun selama ini dia tidak pernah curhat dengan aku, tapi aku tahu persis kalau dia cinta sama kamu. Hahaha ..." Divya tertawa di saat kedua matanya mulai nampak berkaca-kaca. Tapi keangkuhan wajahnya masih terihat begitu jelas. "Mari kita buka semuanya secara gamblang. Bukankah kamu ingin kita saling terbuka? Maka ayo kita lakukan."


__ADS_2