
Beberapa hari kemudian. Pada akhirnya Divya menuruti apa maunya Safir. Mereka benar-benar tidur di dalam ruang kamar dengan pencahayaan lampu temaram. Selama beberapa hari itu pula, Safir akhirnya bisa tidur pulas. Rasanya begitu nyaman saat bisa tidur dengan tenang. Ia bahkan tidak tahu, apakah Divya yang terus memeluk dirinya sudah lelap atau belum saat Safir sudah terbuai mimpi.
Sedangkan Divya, ia terus memejamkan kedua matanya. Ia memeluk Safir cukup erat seolah takut kalau dirinya akan berjarak dengan Safir.
Sampai pada akhirnya, baru beberapa saat mereka berusaha kembali mengulang lagi hubungan yang akan menghasilkan peluh. Divya pikir semuanya akan berjalan dengan lancar dan sesuai dengan imajinasinya. Karena beberapa kali menonton film blue, membuat Divya berpikir kalau hubungan seperti itu bisa bertahan lama hingga mereka berdua puas dan lelah. Namun, siapa yang menduga jika semuanya kembali tidak seperti harapan.
Baru berapa kali Divya melontarkan *******. Baru berapa kali Safir bekerja melakukan tugasnya. Tapi Safir langsung berhenti saat senjatanya sudah lemas. Entah apa yang terjadi pada Diri Safir. Karena pada kenyataannya, ia sudah memusatkan pikirannya pada Divya.
"Sudah lemas lagi?" tanya Divya dengan air muka yang napak kecewa.
"Aku minta maaf Di," apalagi yang bisa Safir ucapkan selain kata itu. Ia langsung keluar dari selumut yang sejak tadi mengurung raga keduanya. Setelah itu, Safir turun dan kembali menuju kamar mandi.
Safir hanya bisa menghela nafasnya pelan. Ia membasahi seluruh tubuhnya di bawah air shower.
"Apakah ini salah satu hukuman yang harus aku terima karena sudah membuat kedua orang tuaku kecewa. Ataukah karena aku yang menyalahi jawaban yang sudah di berikan," Safir mengusap wajahnya secara kasar. Saat imajinasinya sudah terlalu jauh bersama dengan Divya, justru ada nama satu orang yang mengusik dan seolah terus menggagalkan semuanya. "Tapi hidup adalah pilihan. Aku tahu aku sudah menyalahi kebenaran. Tapi ..." Mau di ingat seperti apapun, tetap saja semuanya hanya membuat Safir merasa bersalah. Tangan Safir yang sejak tadi bersandar pada dinding, seolah membuatnya ingin sekali menggenggam kuat dinding tersebut dan membuat celah agar dirinya bisa melarikan diri dari sana. Sampai sudah cukup lama Safir membersihkan diri. Kini dirinya keluar dari dalam kamar mandi.
Padahal Safir sudah bersiap untuk mendapatkan amukan kekecewaan Divya lagi. Namun, siapa yang menduga jika kini Divya nampak sudah terlelap. Membuat Safir bernafas lega.
Safir segera menggunakan bajunya yang ada di tepi ranjang. Setelah itu ia mengganti pencahayaan kamar menggunakan lampu temaram. Tidak butuh waktu lama, Safir sudah terbuai ke alam mimpi.
Ketika suara nafas Safir sudah terdengar teratur. Secara perlahan Divya turun dari atas ranjang. Ia langsung menggunakan pakaiannya yang ada di tepi ranjang. Setelah meraih ponsel, Divya segera menuju ke balkon kamar.
"Halo San," sapa Divya saat temannya Santi sudah menerima panggilan suara darinya.
__ADS_1
"Iya Di. Kenapa?"
"Aku ganggu kamu ya?" tanya Divya saat mendengar suara Santi yang terdengar serak seperti baru bangun tidur. "Kamu baru bangun ya?"
"Sudah bangun dari tadi. Cuma aku masih malas saja turun dari ranjang. Ada apa Di?" mendengar nada suara Divya, sudah dapat di pastikan kalau saat ini Divya sedang kalut lagi.
"San, semuanya tidak sesuai seperti yang ada di film blue."
Mendengar aduan Divya, justru membuat Santi terbahak-bahak. "Ya memang tidak mungkin seperti di film blue dong Di. Aku suruh kalian nonton film begitu biar gairah kalian itu ada. Ada fariasi cara yang bisa kalian coba. Kalau untuk begituan hingga lama ya tidak mungkin lah Di. Main cukup beberapa menit. Opening saja yang sedikit lebih lama. Lecet dong kalau seperti yang ada di film hingga satu jam juga kuat," jelas Santi yang sudah paham degan alur pikiran Divya saat ini. Karena dulu Santi juga sempat berpikir begitu.
"Iya sih. Aku juga tahu soal itu hanya sajaaa ..." Divya menjeda ucapannya karena ragu untuk mengatkan semuanya.
"Kenapa Di?"
Untuk beberapa saat Santi terdiam. "Ada kemungkinan dia menyadari sesuatu tidak ya? Kalau dari cerita kamu betapa nekatnya dia melamar dan menikahi kamu, aku rasa hal seperti ini tidak mungkin terjadi. Kecuali dia memang kelainan Di."
"Duh, aku enggak tahu lah San. Mau kelainan atau apalah, aku inginnya benar-benar bisa gol ke tingkat hubungan yang semestinya. Aku ingin cepat punya anak untuk mempererat hubungan kami."
"Di, punya anak itu butuh kesiapan mental. Dan kesepakatan bersama. Tidak semua orang yang sudah siap menikah itu sudah siap memiliki anak. Apalagi situasi kalian seperti ini."
"Mau bagaimana lagi San. Aku maunya dia selalu sama aku. Dan anak adalah pilihan yang tepat untuk mempererat hubungan kami kan?" ucap Divya yang masih kekeh dengan argumennya sendiri.
"Di, anak itu bukan pilihan yang tepat untuk membuat hubungan menjadi lebih hangat. Buktinya banyak orang di luar sana yang bercerai padahal sudah punya anak. Kalau menurut aku, kalian perbaiki hubungan kalian berdua saja dulu. Kalau urusan pribadi kalain sudah menemukan solusi, nah baru kalian pikirkan selanjutnya."
__ADS_1
"Yah gimana aku bisa membenahi hubungan kami. Kalau dia saja loyo begitu," gerutu Divya yang kembali terdengar kesal karena selalu gagal berhubungan dengan Safir.
"Bagaimana kalau kamu minta dia minum obat kuat? Di jamin deh Di, kalian akan main sampai encok," ucap Santi kemudian terkekeh sendiri.
"Obat kuat ya?" gumam Divya sambil memikirkan semuanya.
Esok paginya. Setelah pagi-pagi sekali Safir dan Divya menyelesaikan urusan pribadi mereka pada sang pencipta, kini kedunya sedang rebahan di atas ranjang sambil memainkan ponsel mereka masing-masing.
"Hari ini kita mau kemana?" tanya Safir sambil melihat daftar wisata yang bisa mereka kunjungi melalui internet.
"Bagaimana kalau kita check out dari hotel dan kita pergi ke Australia."
Mendengar kata Australia, membuat Safir menghentikan pergerakan jarinya. "Untuk apa kita pergi ke sana?"
"Melihat Queen. Sepertinya akan lebih seru kalau kita jalan ada temannya. Kalau dengan Queen nanti akan ada yang bantu fotoin kita, Fir."
"Di, kita datang ke sini untuk bulan madu kan? Artinya untuk kita berdua saja. Jadi jangan libatkan orang lain dalam masa liburan kita. Aku enggak setuju," tolak Safir tegas.
Safir sadar, Queen memilih pergi ke Australia demi untuk menjauhinya dan melupakan semuanya. Queen pasti sekarang sedang menyendiri untuk menenagkan diri. Maka dari itu, Safir tidak ingin merusak waktu baiknya Queen.
"Kenapa?" tuntut Divya.
"Kamu enggak paham apa pura-pura enggak ngerti sih Di?" untuk sesaat, Safir membalas tatapan menuntut Divya. Setelah itu Safir memilih beranjak. Berharap ini akan menghentikan mereka agar tidak membahas Queen lagi.
__ADS_1