
"Apa, Mai?"
Meski sudah dua kali Ruby berucap, tapi tetap saja Queen tidak bisa percaya dengan ucapan sahabatnya itu. Padahal selama ini, mereka dekat dan saling percaya satu sama lain. Tidak ada sesuatu hal dalam persahabatan yang mereka tutupi.
"Safir cinta sama kamu, Queen. Maaf, sebenarnya aku enggak berhak mendahului Safir. Tapi, aku enggak mau kalau kamu pergi karena salah paham. Kalau tadi kamu mendengar semua sampai selesai pembicaraan kami, aku yakin kamu akan percaya dengan ucapanku ini."
"Tapi aku memang enggak percaya, Mai. Bagaimana mungkin? Selama ini, yang Safir cinta hanya Kak Di. Kamu pasti sedang membujukku biar enggak pergi kan?"
Jujur, hati Queen bergetar. Dirinya jadi berharap disaat degup jantungnya semakin tidak beraturan. Ada jiwa yang tiba-tiba berbunga. Tapi Queen berusaha menahan semuanya.
"Semua orang juga tahu, kalau Safir suka dengan kamu, Queen. Semuanya memang sudah salah sejak awal. Tapi keadaan memang serba salah. Karena saat satu bulan sebelum menikah, hati Safir mulai gundah. Bingung sendiri. Mungkin saat itu dia mulai merasa kehilangan keberadaan kamu. Selama aku di Jakarta, yang selalu dengan Safir itu kamu. Aku suruh dia banyak ibadah. Agar hati dan perasaannya tenang. Agar dia juga mendapatkan petunjuk yang memang Safir inginkan. Sayangnya, semuanya ia dapatkan saat akan akad nikah. Aku enggak bisa menjelaskan lebih lanjut. Tapi aku harap, kamu bisa merasakan bagaimana cara pandang Safir ke kamu saat kalian bertemu lagi di Jakarta."
Sejak tadi Queen terdiam. Menyimak dengan baik apa yang Ruby ucapkan. Antara senang, bingung, dan tidak percaya. Semua rasa bergabung menjadi satu. Tapi kalau diingat lagi, Queen bisa merasakan perubahan Safir. Cara pandang Safir yang hangat padanya. Bahkan hingga tadi malam pun saat mereka makan berdua. Meski hanya satu kali, tapi dengan jelas Queen mendapati Safir yang menatapnya dengan pandangan yang berbeda.
"Percaya sama aku, Queen."
"Apa Safir dan Kak Di berpisah gara-gara aku?"
"Bukan. Mereka berpisah karena kesalahan mereka masing-masing. Aku harap, kamu tidak perlu cari tahu soal masalah Safir dengan Kak Di. Bukannya apa-apa, Kak Di sudah enggak ada. Biarkan dia tenang disana tanpa kita perlu membahas hal-hal yang tidak perlu lagi dibahas. Yang terpenting sekarang, kamu percaya sama ucapan aku kalau Safir cinta sama kamu."
Tidak bisa dipungkiri, kalau Queen jadi penasaran dengan masalah Safir dan Divya. Tapi Queen sependapat dengan Ruby, kalau mereka tidak perlu membahas masa lalu. Disisi hati yang lain, Queen jelas takut mengetahui kebenaran yang nantinya hanya akan membuat hatinya sendiri merasa salah dan terluka.
"Kalau begitu, kenapa Safir enggak terus terang sama aku, Mai? Apa susahnya?"
"Ada satu hal kekurangan yang Safir miliki. Dan hal itu yang membuatnya tidak percaya diri dengan kamu."
"Maksud kamu apa Mai?"
"Soal ini, biarkan Safir yang bicara sendiri sama kamu. Urusan kamu menerima dia atau tidaknya nanti, itu juga ada sama kamu."
"Aku mau tahu dari kamu, Mai!" pintanya memaksa. "Kalau enggak, aku pergi sekarang juga dari apartemen," ancamnya.
Diseberang sana. Ruby bingung. Berterus terang salah, karea ini masalah pribadi Safir. Tapi Ruby juga tidak ingin kalau Queen sampai pergi.
"Kita sudah 21 ples kan? Jadi enggak masalah kan ya kalau pembicaraan kita sedikit dewasa."
Mendengar ucapan Ruby, membuat Queen mengerutkan keningnya. Entah apa maksud Ruby sebenarnya. "Ngomomg yang jelas dong Mai."
"Itu, Queen. Safir sepertinya punya kekuranag soal hubungan ranjang karena itunya enggak tahan lama," terang Ruby pelan dan merasa bersalah serta hatinya yang ragu. "Tapi, Safir sudah ikut pemeriksaan dokter, bahkan sampai kepsikolog juga. Semuanya sebenarnya normal. Jadi mungkin masalahnya di Safir sendiri yang tidak fokus. Sungguh aku merasa bersalah sama Safir karena sudah kasih tahu kamu soal ini. Saat nanti, kamu dan Safir saling bicara, tolong pura-pura enggak tahu apapun ya Queen. Tolong," ucap Ruby memohon.
__ADS_1
"Iya."
"Kamu enggak jadi pergi kan?"
"Jadi. Ya sudah, assalamualaikum."
"QUEENZAAA ..." Teriak Ruby kesal.
Tuuut ... Tuuuttt ... Tuuuttt ...
Dengan cepat Queen langsung mematikan sambungan video mereka kemudian ia menonaktifkan ponselnya.
Queen menepikan kopernya. Ia duduk disofa yang ada disana. Queen berusaha menangkan diri dan juga perasaannya yang sedang terkejut.
*
"Queennn ..."
Panggilan Safir begitu keras, hingga suaranya memenuhi ruangan apartemen tersebut. Melihat tidak ada Queen dikamar, membuat langah kaki Safir terasa lemas. Apalagi dimeja rias, terlihat kosong karena tidak ada alat perawatan wajah Queen.
Untuk memastikan sekali lagi, Safir mendekati lemari. Benar saja, sebagian pakaian Queen sudah tidak ada disana. Safir segera merogoh ponselnya. Ia berusaha menghubungi Queen, hingga beberapa kali. Tapi nomor ponsel Queen tidak aktif.
Sedangkan Queen, yang sejak tadi di ruang makan sambil menikmati minuman hangat, jelas terkejut mendengar suara Safir memanggil dirinya.
Kaki Queen terus melangkah menuju kamarnya. Mengikuti Safir yang memanggilnya dengan suara yang begitu keras. Hati Queen jadi merasa kalau apa yang diucapkan Ruby memang benar. Karena sekarang, Safir seperti takut kehilangan dirinya.
Queen masih tetap diam diambang pintu. Ia masih melihat Safir yang sedang berusaha menghubungi dirinya, hingga kini, Safir balik badan dan membuat mereka saling bertatapan.
"Queen," panggil Safir kemudian tersenyum kecil. Menunjukkan perasaan yang begitu lega karena ternyata Queen masih ada disini.
Grep!
Segera Safir mendekati Queen. Dan ia langsung memeluk Queen dengan sangat erat.
"Aku pikir kamu pergi. Aku takut sekali," ucapnya sambil mengeratkan lagi pelukannya. "Aku enggak mau jauh dari kamu lagi. Aku minta maaf karena aku baru sadari semuanya. Semuanya terlambat tapi sekarang kita sudah menikah. Aku cinta sama kamu," ungkap Safir sepenuh hati.
Pada akhirnya, ungkapan yang Queen inginkan dari Safir, sudah Queen dengar. Queen membalas pelukan erat Safir. Ia menangis karena semua ini seolah seperti mimpi. Keinginan yang sudah sekian lama dan baru sekarang tercapai.
"Aku cinta sama kamu, Queen."
__ADS_1
"Aku juga," ucap Queen sambil sesenggukan. "Aku juga cinta kamu, Mas."
Rasa itu seolah lebur begitu saja. Hati mereka rasanya begitu lega karena sudah mengungkapkan semua isi hati mereka. Hingga kini, mereka saling merenggangkan pelukan mereka karena sudah cukup lama.
"Kenapa kamu menangis?" tanya Safir sambil mengusap wajah Queen. "Aku pasti sudah banyak buat kamu menangis. Aku minta maaf."
"Kenapa wajah kamu lebam seperti ini?" tanya Queen sambil menyentuh ujung bibir Safir. "Kamu berantem?"
"Owh, ini hanya terjadi kesalah pahaman saja. Enggak apa-apa."
"Seharusnya kamu lindungin diri kamu, dong Mas. Kenapa biarin wajah kamu dipukul seperti ini?" tuntut Queen semakin khawatir.
"Tidak apa-apa, aku pantas kok dapatin ini. Jangan khawatir."
"Tunggu disini sebentar, aku ambil es batu untuk kompres. Biar enggak semakin sakit."
"Tidak perlu. Ini tidak apa-apa. Mari kita bicara dulu," ucap Safir sambil mengajak Queen duduk di tepi ranjang dan mereka saling berhadapan. Safir mengenggem tangan Queen cukup erat sambil menunduk.
"Jujur, menahan diri bersama orang yang aku sukai itu sulit. Sangat sulit," ucap Safir kemudian menarik nafasnya dalam. Ia seolah meyakinkan diri untuk mengakui semuanya pada Queen. "Aku cinta kamu tapi aku juga tidak mau egois, Queen. Ada hal yang harus aku sampaikan. Dan aku akan terima apapun keputusan kamu. Karena hal itu juga nantinya penting dalam hubungan rumah tangga."
Queen jadi ikut menggenggam tangan Safir. Ia sudah bisa menebak dengan apa yang akan diucapakan Safir sekarang.
Tangan Safir sampai keluar keringat dingin karena rasa takut dan juga gugupnya. Yang Safir khawatirkan adalah jawaban Queen setelah ini.
"A-aku sebenarnya punya kekurangan tentang urusan ran ..."
Cup
Seolah Queen tidak ingin melihat Safir lemah didepannya sekarang ini, maka dengan rasa percaya diri yang begitu berani, Queen mendaratkan kecupan di biir Safir. Perbuatan yang berhasil membuat Safir terkejut dan tertegun.
"Mari kita saling melengkapi. Kamu punya kekurangan, maka aku juga pasti memiliki sisi yang kurang. Maka dari itu, mari kita saling melengkapi kekurang masing-masing."
Dengan jelas Safir melihat keseriusan dari semua ucapan Queen. Padahal Safir ingin sekali mengutamakan semuanya. Tapi kini tangan mereka justru semakin erat saling bergenggaman. Dan membuat wajah mereka saling mendekat.
Dreeettt ... Dreeettt ... Dreeettt ...
"Allahu akbar, Allahu akbar."
Padahal baru saja wajah mereka sudah benar-benar dekat, tapi kini keduanya terkekeh karena medengar alarm waktu sholat dari ponsel Safir.
__ADS_1