Duka Pernikahan

Duka Pernikahan
BAB 74 Khawatir


__ADS_3

"Ma, ini Divya," ucapnya saat Reina sudah menerima panggilan suara darinya.


Bukannya merasa senang karena sang anak menelpon dirinya, tapi kini pikiran Reina nampak tidak menentu karena mendengar suara Divya yang bergetar seperti orang yang sedang menahan tangisan. Begitu keluar dari lift, semua orang memilih menepi karena menunggu Reina yang sedang menerima sambungan telepon.


"Ada apa Di?"


Semua orang jadi menatap Reina karena menyebut nama Divya.


"Divya?" pertanyaan Hendri yang pelan hanya di angguki pelan oleh Reina.


"Safir, Ma. Hiks hiks hiks," sebenarnya Divya tidak ingin membuat orang tuanya khawatir, tapi mau bagaimana lagi. Divya takut terjadi sesuatu hal. Sedangkan saat ini keadaan mereka di luar negeri dan tidak memiliki seseorang yang Divya kenal. Jalan satu-satunya adalah menghubungi orang tua mereka.


"Ada apa dengan Safir, Di?"

__ADS_1


Semua orang yang menatap Reina sejak tadi jadi ikutan khawatir, apalagi reaksi wajah Reina juga terlihat sangat khawatir. Begitu juga dengan Queen. Gadis tersebut semakin lekat menatap Reina karena penasaran dengan apa yang terjadi pada Safir.


"Semalam Safir, Divya bawa ke rumah sakit, Ma. Sekarang Safir di rawat di ruangan khusus. Hiks hiks, Divya takut sekali, Ma."


"Astaghfirullah Diii ... Lalu sekarang bagaimana keadaan Safir?"


"Semalam sempat hilang kesadaran setelah di pindahkan ke ruangan khusus. Tapi beberapa jam yang lalu, Safir sudah sadarkan diri. Divya hanya melihat Safir sebentar di dalam ruangan, Ma. Divya hanya bisa menunggu di luar."


"Setelah ini, Divya akan hubungi Bunda. Divya takut sekali Ma. Bagaimana kalau Bunda dan Ayah marah sama Di?"


"Sakit tidak ada yang tahu, Di. Mana mungkin Ayah sama Bunda marah. Mama sama Papa akan kesana hari ini juga. Segera beri kabar ke mertua Divya, ya," pesan Reina sebelum mengakhiri sambungan telepon mereka. "Mas, kita harus ke Paris sekarang juga. Safir masuk rumah sakit."


"Ya Allah," ucap semua orang yang kini terkejut.

__ADS_1


"Kenapa bisa, Ma? Safir sakit apa? Selama ini dia sehat-sehat saja," rasanya Queen sudah tidak bisa menahan rasa khawatir yang sudah mendera hatinya. Selama Queen mengenal Safir, tidak pernah sekalipun Safir sakit sampai harus di rawat seperti ini. Kecuali hanya sakit demam biasa ataupun batuk pilek.


"Untuk penyebabnya Mama tidak tahu. Semuanya akan Mama tanyakan lagi setelah Mama dan Papa sampai sana. Kakak ketakutan saat ini, jadi kami harus pergi sekarang juga," Reina sungguh tidak bisa membayangkan seperti apa ketakutan Divya saat ini.


"Ya sudah, kalian cepat pulang ke Malang dan segera pergi ke sana," ucap Yusuf agar Reina dan Hendri segera pergi, "Nanti biar Ayah yang bilang kalau kalian ada kepentingan mendadak."


Sungguh hati Reina dan Hendri tidak enak karena harus meninggalkan acara di saat mereka belum menemui pemilik acara. Tapi mau bagaimana lagi, Divya dan Safir lebih membutuhkan mereka saat ini.


"Queen," Vian langsung meraih tangan Queen. Gadis tersebut sepertinya tidak sadar kalau saat ini ia akan mengikuti kedua orang tua mereka yang baru saja berpamitan untuk pulang ke Malang lebih dulu. Vian langsung menggelengkan kepalanya pelan saat Queen menatap dirinya.


Apa yang bisa di lakukan Queen selain menunduk untuk menyadarkan diri kalau dirinya tidak boleh seperti ini lagi. Sedangkan Nissa langsung menghampiri Queen. Ia meraih tangan Queen agar mereka segera memasuki ruangan acara.


"Kita doakan saja agar keluarga kita di sana dalam keadaan baik-baik saja. Untuk yang sakit, semoga segera di berikan kesembuhan. Ayo, kita masuk ke ruangan acara dulu. Anggap saja kalian yang mewakili Papa dan Mama."

__ADS_1


__ADS_2