
"Hai, Di," sapa Amanda setelah keluar dari dalam toilet. Siapa yang tahu kalau ternyata kini Divya juga pergi ketoilet dan sedang membenarkan make up.
"Hai," balas sapa Divya. Ia melirik Amanda yang kini sedang mencuci tangan. Divya menghela nafasnya pelan karena ia ingin mengajak Amanda untuk berbicara. Anggap saja di dalam toilet ini hanya ada mereka berdua saja. "Kapan kamu menikah dengan Fahmi?"
Amanda tersenyum dan menoleh ke arah Divya sebentar. "Sejak dua tahun yang lalu."
"Sudah berapa lama kenal dengannya?" sepertinya Divya semakin penasaran dengan Fahmi. Divya seolah ingin tahu segala hal yang terjadi dengan Fahmi selama 8 tahun terakhir ini.
"Sejak 3 tahunan yang lalu. Kami tidak pacaran. Karena merasa saling cocok, jadi kami memutuskan untuk menikah saja," karena tidak ingin di hujani banyak pertanyaan oleh Divya, Amanda berinisiatif untuk memberikan jawaban yang sudah pasti akan di pertanyaan oleh Divya.
"Apa kalian saling mencintai?"
"Tentu saja, Di. Ada apa sebenarnya? Kenapa aku merasa kalau sekarang kamu sedang melakukan sensus penduduk."
"Aku hanya ingin tahu saja. Apa kamu yakin kalau Fahmi benar mencintai kamu?" tanya Divya yang kemudian tersenyum sinis di pantulan kaca. Karena Divya sejak tadi masih sibuk mempercantik wajahnya.
"Tentu saja. Memangnya ada alasan yang bisa membuat aku meragukan suami aku sendiri?"
"Siapa yang tahu kalau kedatangan kalian ke Jakarta justru membuat suami kamu bertemu dengan cinta pertamanya. Cinta yang tidak bisa dia gapai," ucap Divya yang sengaja mengusik hati Amanda.
__ADS_1
Amanda mengusap perutnya yang membuncit. Sadar kalau sepertinya Divya ingin mengusik mentalnya. Beruntung Amanda tidak akan terpengaruh oleh apapun. Karena sekalipun pernikahan mereka didasari atas rasa saling nyaman, tapi mereka saling jujur dalam banyak hal. Dan pada akhirnya mereka saling mengutarakan perasaan.
"Apa yang kamu maksud Queen? Kalau benar, aku sudah tahu semuanya. Sebelum menikah, kami saling membicarakan apa yang perlu kami beritahukan. Agar hubungan pernikahan kami didasari oleh kejujuran dan kebaikan. Sehingga kami bisa bahagia seperti sekarang. Insya Allah," tutur Amanda lugas dan terdengar begitu yakin.
Divya hanya bisa mencengkram lipstik yang sedang ia pegang. Mendengar semuanya ternyata membuat hati Divya tersinggung. Hubungan pernikahannya seolah tersentil oleh ucapan Amanda.
"Aku juga tahu kalau kamu adalah Kakaknya Queen. Ada masalah apa antara kamu dengan adik kamu, Di?" tanya Amanda yang merasa janggal dengan perangai sekilas Divya.
"Kamu tahu hubungan kami? Artinya kamu tahu siapa aku kan? Apa Fahmi menceritaan aku juga?" tanya Divya. Ia harus menahan malu kalau sampai Fahmi mengatakan persahabatan mereka retak karena perasaannya yang tidak terbalaskan.
"Aku tidak tahu siapa kamu, Di. Tapi tadi, sebelum aku datang kesini, suami aku mengatakan kalau dia bertemu dengan Queen beserta Kakak dan juga iparnya Queen. Artinya kamu adalah Kakaknya Queen karena kalian mirip," ucap Amanda tenang. "Aku rasa kamu dan suami aku memiliki masalah pribadi yang suami aku tidak ceritakan. Jika belum selesai, silahkan bicarakan baik-baik dengan suami aku. Aku bisa kok memberikan waktu untuk kalian. Permisi," pamit Amanda yang sudah tidak ingin berlama-lama dengan Divya.
"Tunggu," ucap Divya yang mampu menghentikan langkah kaki Amanda. "Bukankah kamu bilang sebelum menikah kalian saling membicarakan apa yang perlu kalian bicarkan? Lalu kenapa Fahmi tidak menceritakan tentang aku ke kamu, kalau kami dulu saat sekolah menjadi teman dekat?" tanya Divya yang sedang mencari senjata selanjutnya untuk mengusik hati Amanda.
Jujur, Amanda takut melihat sorot mata Divya. Padahal tadi saat sedang bicara bersama, Divya terlihat seperti perempuan yang lembut dan juga penuh kasih. Tapi siapa yang menduga jika Divya memiliki reaksi wajah yang berbeda sekarang.
"Sayang," panggil Fahmi saat istrinya keluar. "Kamu baik-baik sajakan?"
Sejak tadi Fahmi menunggu sang istri keluar dari dalam toilet. Kalau bukan setiap pengunjung restoran silih berganti memasuki ruangan tersebut, mungkin sudah sejak tadi Fahmi menerobos masuk untuk membawa istrinya keluar. Fahmi takut kalau Divya melakukan hal nekat pada Amanda yang sedang mengandung buah cinta mereka. Karena menurut Fahmi, di balik sikap Divya yang tenang tersipan perangai yang begitu arogan dan juga pendendam.
__ADS_1
"Aku baik-baik saja sayang. Jangan khawatir."
"Divya pasti membicarakan sesuatu dengan kamu kan?"
Amanda mengangguk cepat. "Dia membicarakan Queen."
Fahmi hanya bisa menghela nafasnya secara kasar. Ia sangat beruntung karena sebelum menikah, Dia sempat menceritakan tentang si gadis kecil yang Fahmi sukai sejak sekolah dulu.
"Wajar saja kalau kamu menyukainya. Gadisnya saja secantik dan semanis itu, Pasti kecilnya dulu Queen sangat menggemaskan kan?"
"Sayang."
"Aku tahu sekarang kamu hanya cinta sama aku dan calon anak kita ini."
"Sangat," ucap Fahmi sambil mengusap perut sang istri. "Boleh aku bicara dengan dia dulu?"
"Silahkan. Aku duluan ya."
"Eh, sayang. Sebelumnya aku mau minta maaf karena aku tidak menceritakan soal Divya. "
__ADS_1
"Sudah, aku tidak mau membahas dia lagi. Selesaikan masalah kalian. Selalu ingat aku dan calon anak kita."
"Tentu," ucap Fahmi yakin. "Tapi satu hal yang mau aku minta sekarang. Tolong kamu cari meja lain yang kosong ya?"