
"O-obat kuat?" gumam Safir dengan air muka yang nampak pucat karena baru mengetahui.
Sejak semalam saat Safir sudah sadarkan diri dan bisa di ajak berkomunikasi dengan baik, Divya meminta pada Dokter dan tenaga medis yang bertugas di ruangan tersebut, agar tidak menyampaikan secara langsung penyebab Safir menjadi seperti ini. Karena ia yang merasa bersalah, maka Divya berinisiatif agar dirinya saja yang memberitahu Safir sekaligus meminta maaf atas rencananya tersebut.
Tapi pikiran Divya berubah saat Safir justru memintanya untuk tidak khawatir. Safir yang meyakinkan Divya kalau Safir akan baik-baik saja. Bahkan Safir juga berterima kasih karena Divya sudah membawanya ke rumah sakit, hingga dirinya mendapatkan perawatan yang tepat. Seluruh ucapan Safir membuat Divya bungkam. Membuat Safir mengira kalau keadaan Safir seperti itu karena vitamin yang ia minum. Sekarang, Safir jelas terkejut karena Arjuno justru mengatakan perihal obat kuat.
"Yang tahu alasan Divya memberikan obat tersebut pada Safir secara diam-diam, hanya Divya dan mungkin Safir sendiri. Ayah harap Safir nantinya bisa memberikan pengertian pada Divya kalau dia harus memikirkan baik-baik sebelum bertindak sejauh ini. Ini sangat berbahaya Fir."
Safir semakin menahan rasa kecewanya karena ternyata kedua orang tuanya lebih dulu tahu dari pada dirinya sendiri. Kalau memang Divya salah, bukankah seharusnya sejak awal Divya berkata jujur dan berterus terang.
__ADS_1
"Baik Ayah. Safir akan bicarakan ini baik-baik dengan Divya."
Sampai beberapa jam kemudian, yang rencana awal Safir akan di pindahkan ke ruang perawatan saat sore hari, tapi kini Safir sudah di pidahkan 3 jam lebih awal. Hal ini karena permintaan Safir sendiri. Merasa kalau kedua orang tuanya sudah datang sedangkan sejak tadi Safir belum bertemu dengan Zantisya, membuat Safir ingin cepat pindah dari ruangan tersebut.
"Bunda," seolah seperti anak kecil, Safir sangat senang karena kini dirinya bisa melihat Zantisya secara langsung. Perempuan yang sejak tadi terus mengintip Safir dari balik kaca. Karena Safir sudah di jenguk oleh Divya dan juga Arjuno, membuat Zantisya tidak di perbolehkan masuk walau hanya sesaat. Sekarang, Zantisya sangat merasa lega karena ia bisa memeluk anaknya tersebut.
"Safir sudah lebih baik, Bunda. Sudah tidak ada yang sakit lagi. Maaf karena sudah buat Bunda khawatir," Safir sampai tidak tega melihat kedua mata Zantisya yang nampak sembab. Ia tahu, pasti Zantisya sudah terlalu banyak mengeluarkan air mata.
"Sudahlah. Yang penting sekarang Safir segera sehat. Dan satu hal, lain kali kalau ingin melakukan sesuatu, Safir pikirkan baik-baik terlebih dulu agar Safir tidak salah mengambil tindakan."
__ADS_1
Apakah sekuat itu batin seorang perempuan yang telah melahirkan anaknya, sehingga tanpa di beri tahu pun, seorang ibu akan mengetahui dengan baik keadaan anaknya sebenarnya.
"Baik, Bunda."
Sedangkan Divya, sejak sebelum Safir di pindahkan. Perempuan tersebut hanya bisa menundukkan wajahnya. Ia tidak berani beradu tatap dengan Zantisya apalagi dengan Arjuno. Dan sekarang, dirinya memilih duduk di ujung Sofa. Membiarkan Zantisya meluapkan rindu dan kekhawatiran pada Safir. Walau sebenarnya Divya juga ingin mendekati Safir. Divya ingin meminta maaf dan menjelaskan semuanya. Hingga tidak lama kemudian, ponsel Divya berdering. Sebuah nomor baru kini sedang melakukan panggilan suara padanya.
"Halo."
"Di, ini Mama. Dimana ruangan perawatan Safir? Kami sudah ada di loby rumah sakit."
__ADS_1