
Ruangan perawatan itu sudah dipenuhi dengan suara tangisan. Hidup dan mati memang sudah di tentukan. Meskipun semua orang sudah mempersiapkan hati kalau mereka akan menghadapi takdir yang seperti ini, tapi tetap saja semua ini sangat mengejutkan dan menyiksa hati.
Bukan hanya Queen saja yang kehilangan kesadaran, tapi Reina juga sampai jatuh pingsan. Reina seolah tidak siap menerima kenyataan ini. Divya adalah anak pertama yang hadir didalam rahimnya. Kehadiran Divya yang memberikan kebahagiaan bersama Hendri. Bagaimana mungkin anak yang memberikan banyak kisah, kini sudah pergi meninggalkan dirinya lebih dulu.
Tidak cukup itu saja, karena Yusuf juga sampai meminum obatnya karena dadanya terasa sakit. Cucu pertama yang sangat Yusuf sayang harus meninggalkan dirinya yang usianya memang sudah tua.
Semua orang seolah diberi waktu untuk meluapkan kesedihan. Sampai pada akhirnya semua orang sudah mulai tenang. Tenaga kesehatan segera melepas alat kesehatan yang menempel pada tubuh Divya. Setelah itu Divya segera dimandikan oleh tenaga kesehatan. Diikuti Queen, Reina, Nissa, dan juga Zantisya.
Semua orang seolah membagi tugas, karena sekarang Vian dan Zen sedang menyelesaikan administrasi rumah sakit.
Sedangkan Arjuno mengumpulkan orang-orang yang ada di rumah sakit dan yang berkenan ikut mengsolatkan jenazah Divya.
Semua urusan seolah dipermudah. Cukup banyak yang ikut mengsolatkan Divya di mushola rumah sakit. Setelah itu, semua orang segera menuju bandara. Semua sudah dipersiapkan dan kini semua orang sudah melakukan penerbangan.
Begitu sampai bandara Kota Malang, ambulan juga sudah menunggu di sana. Karena waktu memang sudah petang, semua orang menyelesaikan kewajiban mereka di masjid. Setelah itu perjalanan kemakam dilangsungkan.
__ADS_1
Semua urusan di Malang, Adam yang mengurus semuanya. Bahkan dimakam keluarga Dzuhairi Sucipto itu sudah ditambah penerangan untuk prosesi pemakaman Divya.
Semua berjalan begitu lancar tanpa hambatan sedikitpun. Bahkan para tetangga yang ikut datang kepemakan karena ingin menyaksikan langsung saat Divya dikebumikan.
Yang ikut turun untuk memakamkan Divya adalah Hendri, Vian, Zen, dan Adam. Hendri yang mengumandangkan adzan.
Keadaan hati Hendri sudah tidak bisa di artikan lagi. Begitu juga dengan Reina yang menatap wajah anaknya yang memang sudah memucat.
Anak adalah sumber kebahgiaan orang tua. Tanggung jawab orang tua. Tidak ada orang tua yang ingin memakamkan raga anaknya. Karena semua orang tua, inginnya anaklah yang mengubur raga mereka. Tapi kini Hendri dan Reina harus berada diposisi ini. Memakamkan raga anak pertama mereka secara langsung. Sungguh, takdir memang tidak pernah ada yang tahu. Hidup dan mati memang milik Tuhan semesta alam.
Hingga akhirnya, tinggalah keluarga yang tertinggal di sana. Sebelum mereka meninggalkan area pemakaman, mereka memilih membacakan doa untuk Divya sekali lagi. Barulah semua orang meninggalkan area pemakaman.
Rela tidak rela, tapi semua orang berusaha untuk ikhlas. Memang sudah begini jalan hidup yang harus mereka lalui. Berharap kesedihan seluruh keluarga bisa segera berlalu.
Hendri, Reina, dan yang lainnya sampai rumah bersamaan dengan seluruh orang yang datang untuk membacakan doa, akan pulang. Karena bertemu dengan Hendri dan yang lainnya, maka semua orang memberikan ucapan bela sungkawa. Berharap seluruh keluarga diberikan kekuatan dan ketabahan.
__ADS_1
Bahkan di halaman rumah Reina dan pinggiran jalanan sudah dipenuhi dengan karangan bunga sebagai ucapan bela sungkawa dari berbagai rekan bisnis Reina, Hendri, dan juga rekan bisnis perusahaan DS Group. Karena kabar meninggalnya cucu pertama Yusuf sudah terliput medis sejak tadi sore.
"Ini sudah malam, sebaiknya kalian istirahat," ucap Reina pada Queen dan Safir.
"Iya Ma."
Rasanya ini semua seperti mimpi. Tapi ini adalah masa yang sedang dihadapi keluarganya.
Queen berjalan pelan menaiki anak tangga sambil berpegangan pagar tangga. Diikuti Safir yang berjalan di belakang Queen. Sampai pada akhirnya mereka sampai didepan kamar Queen.
Klek!
Queen menurunkan gagang pintu dan ingin memasuki kamar. Ia menoleh karena sadar dirinya bersama dengan Safir. Tapi sekarang, Queen melihat Safir yang sedang menoleh ke arah kamar Divya.
"Kalau kamu mau tidur di kamar Kak Di, silahkan," ucap Queen dengan suaranya yang pelan dan juga serak.
__ADS_1