
"Kenapa lama sekali?" tanya Yusuf setelah Nissa kembali duduk di sampingnya. "Kamu nangis sayang?" Yusuf jadi khawatir karena melihat kedua mata Nissa yang nampak memerah.
"Siapa yang nagis? Mata aku itu perih karena sepertinya ada sesuatu yang masuk ke dalam mata aku deh. Ini pasti karena aku yang enggak biasa pake make up setebal ini," tuturnya membuat alibi.
"Coba aku lihat," spontan saja Yusuf menyentuh dagu Nissa agar mereka saling berhadapan.
"Ayy, banyak orang. Mata aku sudah enggak sakit lagi kok," ucapnya sambil menyingkirkan tangan Yusuf.
"Nda dari mana? Saatnya kita foto keluarga," ucap Reina yang baru saja turun dari pelaminan. Karena memang sudah sejak tadi seharusnya foto keluarga di lakukan. "Loh, Queen mana?" Reina mulai bingung karena tidak melihat anak bungsunya. Padahal saat ini Reina sudah bisa menebak kalau Queen pasti sedang menenangkan diri.
"Perut Queen mules. Nda minta Queen untuk istirahat dulu."
Reina mengangguk pelan. Tapi hatinya terasa begitu nyeri. 'Maafin Mama, sayang. Queen pasti kesulitan selama ini karena tidak ada yang memahami Queen. Mama ingin melindungi Queen. Tapi Mama tidak ingin jika Queen semakin merasa terluka karena Mama mengetahui semuanya. Maaf karena Mama justru mengorbankan perasaan Queen,' batin Reina penuh sesal.
"Ayo foto bersama dengan keluarga Pak Arjuno," ajak Hendri yang kini menghampiri keluarganya.
Tadi sudah keluarga inti Arjuno yang sudah mengambil foto bersama dengan mempelai pengantin. Sekarang, dua keluarga harus foto bersama. Setelah itu, barulah giliran keluarga inti dari Hendri yang berfoto bersama dengan mempelai pengantin.
"Queen mana Ma?" tanya Divya karena menyadari kalau adiknya tidak ada.
__ADS_1
"Queen sedang istirahat. Perutnya sakit."
"Tuh kan benar. Padahal semalan Divya sudah ingatkan Queen agar tidak terlalu banyak makan rujak serut."
"Siapa yang tahu akan jadi seperti ini. Sudah ayo foto sekarang."
Mendengar jawaban Reina, membuat Safir menunduk sejenak. Sadar diri kalau apa yang terjadi dengan Queen adalah karena dirinya. Menyesalpun sudah percuma. Karena tidak ada yang bisa Safir lakukan guna memperbaiki semuanya, karena ini sudah terlambat.
"Sejak tadi, senyum kamu kenapa enggak ikhlas gitu sih, Fir?" tanya Ruby berbisik setelah pengambilan foto selesai. Sejak tadi, Ruby terus memperhatikan wajah Safir yang berubah suram bagi Ruby.
*
"Queen, Kakak tahu kamu kuat. Kamu bisa melewati ini semua. Ayo bangun sekarang. Hanya tinggal hari ini. Dan besok kita bisa pergi bersama," secara perlahan, Vian kembali menepuk pelan pipi Queen.
Benar saja, tidak lama kemudian Queen mulai mengerjapkan kedua matanya. "Kakak sudah bawa Queen pergi dari hotel ya?" tanyanya karena kini dirinya sudah tidak di ruangan meeting.
Melihat kedua mata Queen yang berbinar dan senyuman tipis yang hadir di wajah yang nampak sendu, membuat Vian jadi merasa bersalah karena tidak langsung membawa Queen pergi dari sana.
"Kita masih di hotel dimana acar berlangsung, Queen."
__ADS_1
Senyum yang tadi hadir, kini langsung redup dari wajah Queen. "Jangan bilang Kakak minta Queen buat masuk lagi ke ruangan itu? Queen enggak mau, Kak. Hati Queen rasanya sangat sakit. Bernafas saja rasanya sulit. Kenapa Kakak tidak ajak Queen pergi dari sini?" protesnya sambil membuang wajahnya. Seolah menunjukkan kalau Queen marah dengan Vian.
"Queen, dengerin Kakak sebenatr."
"Enggak mau," tolak Queen sambil menaikkan volume suaranya. Bisa mengekspresikan diri di depan Vian, rasanya Queen merasa lebih baik. "Queen enggak mau nurut lagi sama saran Kakak. Sudah cukup satu bulan Queen memehami semua orang. Queen juga butuh di pahami. Pokoknya Queen enggak mau. Kalau Kakak enggak mau ajak Queen pergi sekarang, Queen bisa pergoli sediri."
Vian menghela nafasnya pelan. "Ok. Kita pergi sekarang."
Queen segera beranjak. Ia menuju kamar mandi untuk mencuci wajahnya. Menghilangkan seluruh make up yang sudah menepel pada kulitnya yang halus. Queen juga merusak tatanan rambutnya dan ia gelung secara asal. Tidak lama kemudian, Queen kelaur dari kamar mandi dengan menggunakan bawahan kebaya dan atasan kemeja milik Vian. Sedangkan kini, Vian hanya menggunakan kaos pendek dan juga topi.
"Sudah siap?"
Queen mengangguk cepat. "Sudah."
Sepanjang jalan, untuk keluar dari hotel, Queen terus menutupi wajahnya menggunakan handbag. Sedangkan Vian terus menunduk. Keduanya saling bergandengan. Berharap tidak ada yang mengenai mereka berdua.
"Kita pulang ke rumah dulu Kak. Hanya sebentar kok. Karena sudah sejak kemarin Queen sudah berkemas," ucapnya setelah mereka masuk ke dalam taksi online yang telah Vian pesan.
"Kita pergi sesui titik di mana Kakak memesan taksi ini."
__ADS_1