Duka Pernikahan

Duka Pernikahan
BAB 94 Teman Lama


__ADS_3

"Mas Dafa," siapa yang bisa menduga, jika kini Divya bertemu dengan seseorang yang sudah lama tidak ia jumpai itu.


"Loh, beneran kamu Di? Astaga, aku pikir tadi aku salah lihat. Eh enggak tahunya beneran," ucapnya begitu terdengar antusias.


Baik Dafa dan Divya langsung saling berjabat tangan. Sedangkan Safir hanya memilih diam dan memperhatikan keduanya.


"Mas bagaimana kabarnya?"


"Aku baik. Kamu bagaimana?"


"Aku juga baik," ucap Divya sambil mengedarkan kedua matanya. "Sendirian?"


"Iya. Seperti yang kamu lihat," ucapnya dengan air muka yang begitu bahagia.


"Kenapa Catrine enggak ikut?" tanya Divya yang ingin tahu keberadaan istri Dafa.

__ADS_1


"Kami sudah pisah sejak dua tahun yang lalu."


Safir tetap diam. Membiarkan dua orang tersebut dengan dunia mereka sendiri. Ia bahkan malas untuk memberikan kode pada Divya agar memperkenalkan dirinya. Dan sekarang Safir memilih untuk merogoh ponselnya dan membalas beberapa pesan yang ia terima.


"Oh benarkah? Kenapa? Lalu anak kalian bagaimana?" Divya jelas perihatin dengan keadaan rumah tangga Dafa. Ia juga jadi ingin tahu perihal penyebab Dafa dan Catrine berpisah.


"Sejak awal kami memang tidak ada kecocokan. Kamu tahu alasannya kan?" ucap Dafa kemudian tersenyum samar. "Anak kami ada sama Catrine," ucapnya kemudian pandangannya beralih pada Safir. "Dia siapa? Keponakan kamu?" tanyanya karena melhat wajah Safir yang nampak masih muda.


Divya jelas terkekeh. Ia akui, memang wajah Safir suka berubah-ubah. Terkadang terlihat lebih dewasa. Terkadang juga terlihat lebih muda seperti usianya. Tergantung tatanan rambut yang Safir gunakan. "Dia suami aku. Kami baru saja menikah. Belum ada satu bulan. Safir."


"Dafa."


"Kalian pasti sedang berkencan ya? Kalau begitu lanjutkan acara kalian. Maaf ya sudah menyita sejenak waktu kalian," ucap Dafa tidak enak hati.


"Tidak juga kok, Mas. Kami mau makan, Mas sudah makan belum? Bagaimana kalau kita makan bersama?" tawar Divya antusias. "Bolehkan Fir?" tanya Divya sambil menatap Safir penuh permohonan dan senyuman yang begitu manis.

__ADS_1


"Boleh," jawab Safir singkat.


Awalnya Dafa ingin menolak. Ia jelas tidak ingin mengganggu pasangan yang masih menjadi pengantin baru. Tapi karena Divya memaksa dan Safir juga meyakinkan kalau Dafa tidak masalah bergabung makan dengan keduanya, membuat Dafa dengan senang hati menerima ajakan pengantin baru tersebut.


Sekarang, Divya dan Safir duduk berdampingan. Sedangkan Dafa duduk tepat di depan Divya. Sambil menunggu pesanan makanan mereka datang, ketiganya terlihat seru mengobrol. Lebih tepatnya Divya dan Dafa saja yang mengobrol karena Safir hanya sesekali saja menanggapi perbincangan keduanya. Safir yang memang pada dasarnya sulit dekat dengan orang baru, tentu saja ia memilih diam dan sibuk dengan ponselnya. Mengurus beberapa pekerjaan sambil menunggu makanan, adalah hal yang tepat bagi Safir.


Saat kuliah di luar negeri dulu, Dafa adalah senior di kampus tempat kuliah mereka. Keduanya cukup dekat. Apalagi mereka masuk kedalam perkumpulan organisasi mahasiswa dari Indonesia.


Dulu Dafa dan Divya sering sekali jalan bersama. Sekalipun mereka bepergian selalu bersama dengan teman yang lainnya. Membuat kedekatan keduanya menjadi sangat akrab.


Hidup di luar negeri. Jauh dari orang tua memang membuat siapapun menjadi bebas. Tergantung setiap pribadi saja mau berprinsip seperti apa.


Kebebasan bergaul yang di alami Dafa justru menjerumuskan lelaki tersebut. Siapa yang bisa mengelak oleh nasib. Kalau akibat dari minum-minuman, membuat Dafa mabuk dan berakibat fatal. Kesadaran yang sudah hilang membuat Dafa dan Catrine justru tidur bersama di sebuah hotel. Hingga mengakibatkan Catrine berbadan dua. Panjang ceritanya, padahal saat minum-minuman dulu Dafa dan Catrine tidak hanya berduaan. Mereka berkumpul bersama teman seangkatan mereka yang lainnya.


Sebagai lelaki, Dafa tentu harus mempertanggung jawabakan perbuatannya pada teman sekelasnya selama kuliah tersebut.

__ADS_1


"Akhirnya pesanan kita datang juga," ucap Divya senang karena ia sudah merasa sangat lapar.


__ADS_2