Duka Pernikahan

Duka Pernikahan
BAB 88 Rusak Nganggur


__ADS_3

"Kalau mau ke masjid barena sama Ayah, Fiiirrr ..." Teriak Arjuno saat melihat anaknya jalan terburu-buru.


"Iya, Ayah. Ini Safir mau panasi mobil dulu."


Begitu usai ganti baju, Safir segera mengambil kunci mobil penuh kenangannya di tempat rahasia tersebut, sekaligus kotak mungil. Begitu memasuki mobil kebanggaannya itu, rasanya sungguh berbeda. Entah kenapa rasanya Safir lebih bangga menggunakan mobil lamanya ini dari pada mobil yang baru Safir beli waktu itu. Tapi mau bagaimana lagi, semuanya sudah menjadi pilihan hidupnya. Safir harus bisa menata diri yang sudah hancur tanpa di ketahui satu orangpun.


Sudah beberapa hari mobil tersebut tidak di panaskan. Safir jadi takut kalau mobilnya tersebut rusak menganggur jika tidak di gunakan. Tapi mana mungkin Safir bisa menggunakan mobil tersebut sesuka hati. Kalau saat Safir menoleh ke kiri saja, Safir langsung ingat wajah gadis yang selama ini selalu bersama dengannya.


"Aku harap kamu baik-baik saja di sana. Aku akan doakan kebahagiaan kamu," gumam Safir setelah melihat tempat penyimpanan. Terdapat beberapa barang pribadi Queen di sana. "Aku harus ikhlas, tapi aku belum bisa merelakan ini semua. Dan aku juga meminta maaf sama kamu," ucap Safir sambil meletakkan kotak mungil di dalam tempat penyimpanan.

__ADS_1


Selama memanaskan mesin mobil, Safir hanya terus mengusap penutup tempat penyimpanan. Rasanya ia enggan untuk beranjak dari mobil tersebut. Rasanya Safir belum puas berada di dalam mobilnya itu. Tapi kini waktu sudah magrib, Sudah saatnya mereka menuju masjid seperti yang di katakan Arjuno tadi.


Sampai kini, semua orang sudah berkumpul di ruang makan. Menikmati hidangan yang sudah Zantisya sajikan malam ini. Zantisya sesekali memperhatikan interaksi Safir dan Divya. Namun, saat ini ia lebih fokus dengan Arfan yang makan nampak begitu lahap. Kalau bukan karena Safir yang tiba-tiba sakit, mana mungkin Zantisya tega meninggalkan anak bungsunya ini.


"Pelan-pelan Fan, makannya," peringatan Zantisya karena takut jika Arfan sampai tersedak.


Setelah selesai makan malam, semua orang berkumpul di ruang keluarga. Saling berbincang ringan. Tapi sayangnya yang mendominasi perbincangan hanyalah Arjuno, Safir, dan Arfan.


"Fir, kan sudah beli mobil baru, kenapa yang lama tidak di jual saja kalu tidak di gunakan?" usul Arjuno. Dia tahu kalau anaknya membeli mobil baru dari Zantisya. Tapi Arjuno tidak tahu alasan detailnya kenapa Safir justru menyimpan mobil tersebut di bagian belakang garasi mobil. "Dari pada nganggur tapi tetap membayar pajak tahunan. Belum lagi sekalipun menganggur mobil harus tetap di rawat agar tidak rusak," jiwa perhitungan Arjuno langsung meronta dan ingin memberikan petuah untuk anaknya tersebut. Wajar jika Arjuno sangat perhitungan dengan hal-hal yang menurutnya kurang bermanfaat, karena jiwa perintis usahanya sangat kental dan tahu bagaimana beratnya lika liku hidupnya untuk sampai ke titik ini.

__ADS_1


"Mobil, itu bukti pertama kali Safir bisa beli sesuatu Ayah. Jadi sayang kalau di jual. Banyak kenangan dari usaha Safir di sana. Pokoknya Safir nitip mobil itu."


"Mobil di jadikan kenangan karena mobil tua sih wajar. Lah wong mobilmu baru mau 2 tahunan to? Kok sudah di museumkan."


"Safir perlu mobil yang lebih nyaman saja."


"Ya sudahlah, terserah kamu. Tapi yang penting sesekali tetap di gunakan. Sayang kalau rusak nganggur, Fir."


"Baik Ayah."

__ADS_1


__ADS_2