
Karena malam sudah semakin larut, semua orang segera memasuki kamar mereka masing-masing. Begitu memasuki kamar, Safir hanya terus memperhatikan penampilan Divya. Perempuan yang kini menggunakan baju terusan berlengan pendek dan panjangnya di bawah lutur.
"Di."
"Ya," Divya yang baru saja akan memasuki kamar mandi lebih dulu, kini ia balik badan dan tersenyum manis pada Safir.
"Maaf, jangan tersinggung sama aku. Jika kita bermalam di rumah ini, tolong kamu gunakan baju dan celana atau rok panjang ya. Bukannya aku mau mengatur atau bagaimana. Kamu tahu sendirikan, Bunda dan semua perempuan yang bekerja di sini memang menggunakan pakaian tertutup semua."
Zantisya sebenarnya orang yang tidak menuntut orang lain untuk berpenampilan begini begitu. Semua Art yang bekerja di rumah tersebut juga awalnya tidak menggunakan jilbab dan hanya menggunakan pakaian serba panjang. Zantisya hanya meminta pekerja untuk sopan berpenampilan.
Mungkin karena pekerja terbiasa melihat Zantisya yang selalu menggunakan pakaian tertutup, membuat para kerja perepuan juga mengikuti cara berpakaian Zantisya. Walau sesekali mereka juga tidak menggunakan jilbab. Terutama saat Arjuno tidak ada di rumah.
Semua orang menghargai Arjuno dan Zantisya. Pasangan suami istri yang memang terlihat agamis, tapi tidak juga terlalu fanatik. Hidup punya pilihan masing-masing. Baik buruknya juga sudah di ketahui setiap orang. Salah dan benar juga sudah di tanggung masing-masing. Maka Arjuno dan Zantisya menghargai cara hidup orang lain. Namun, jika sudah berkaitan dengan anak-anak, baik Arjuno maupun Zantisya memang cukup posesif. Terlebih lagi Arjuno yang dulu sangat posesif terhadap Ruby. Ibarat luka sedikit saja rasanya Arjuno tidak akan membiarkan hal itu terjadi.
"Jadi maksudnya, kamu minta aku untuk menggunakan pakaian seperti Bunda?"
"Bukan. Aku tadi sudah bilangkan, kalau aku minta kamu menggunakan baju bawahan dan atasan serba panjang. Disini Bibi juga biasanya tidak menggunakan jilbab kok. Tapi sejak awal Bunda memang selalu meminta siapapun yang bekerja apalagi yang ikut tingga di rumah ini untuk terus menggunakan baju yang sopan.
Divya mengangguk paham. Sekarang ia jadi mengira kalau mungkin saja Arjuno seperti acuh padanya karena penampilannya. Begitu juga dengan Arfan yang tadi melewatinya begitu saja padahal Divya tadi sudah berusaha akrab dengan adik iparnya itu.
"Apa Queen juga seperti itu?" tanyanya saat mengingat Queen yang begitu dekat dengan Arfan.
__ADS_1
Sepontan saja kedua mata Safir nampak bergerak karena terkejut. "Kenapa kamu jadi bawa-bawa Queen? Aku hanya memberitahu kamu untuk menggunakan pakaian serba panjang saat kita di rumah ini. Untuk yang lainnya, aku bebaskan kamu."
Sebagai suami, Safir juga ingin jika Divya menggunakan pakaian serba panjang. Tapi Safir tidak mau menuntut secara dadakan seperti ini. Semua bisa di lakukan secara perlahan. Sampai Divya sudah berkenan sendiri dan selama itu Safir akan terus mendoakan kebaikan sang istri.
"Karena Queen dulu sering datang ke sini kan. Wajar kalau aku ingin tahu. Dia juga akrab sekali dengan Arfan. Bisa leluasa bicara dengan Ayah," entah kenapa, tiba-tiba Divya jadi cemburu sendiri.
"Dia adik kamu, Di. Bukankah kamu yang seharusnya paham dengan cara dan kebiasaan adik kamu sendiri? Kalau masalah Queen bisa dekat dengan Arfan, ya karena dia memang suka anak kecil. Suka jahil dan iseng, karakter Queen, Arfan, dan Kak By itu sama. Mereka sefrekuensi. Kalau antara Queen dan Ayah bisa leluasa berbicara itu hanya masalah kebiasaan saja."
"Aku hanya tanya singkat tentang Queen, tapi kamu bisa sedetail itu menjawab semuanya."
"Biar jelas," ucap Safir tegas. "Ini sudah malam, cepat bersihkan diri kamu agar kita bisa gantian," ucap Safir untuk memutus pembicaraan mereka.
Divya hanya menghela nafasnya pelan. Ia segera masuk ke dalam kamar mandi. Tidak lama, karena setelah itu gantian Safir yang membersihkan diri.
Saat Safir keluar dari kamar mandi, Divya segera menggunakan parfum yang aromanya begitu manis.
Safir hanya tertegun sebentar melihat penampilan Divya. Setelah itu Safir lebih dulu mendaratkan tubuhnya di atas ranjang.
"Fir."
"Ya."
__ADS_1
"Malam ini kita tidurnya pakai lampu terang ya? Kalau aku sudah tidur, kamu redupkan tidak masalah."
"Ok," ucap Safir singkat karena dirinya malas untuk berdebat.
Setelah merasa yakin dengan penampilannya yang nampak cantik dan se*ksi, Diva segera ikut naik ke atas ranjang. Seperti biasanya, Divya langsung tiduran dengan berbantalkan lengan tangan Safir dan memeluk lelaki teresebut.
"Di."
Awalnya Safir berusaha untuk diam saja dengan apa yang ingin di lakukan Divya. Memeluk dirinya pun tidak masalah sekalipun pikiran Safir masih terganggu dengan yang sudah terjadi di Paris.
Tapi sekarang Divya sudah membelai tubuh Safir. Tangannya masuk ke dalam kaos yang di gunakan Safir. Dan kini Safir langsung menghentikan tangan Divya yang akan memainkan dua gundukan mungil seperti kutil yang ada di dada Safir.
Sebagai lelaki, Safir tahu kalau saat ini Divya sedang membangkitkan hasratnya. Tapi Safir yang sudah kehilangan rasa percaya diri terhadap Divya, jelas belum ingin melakukan hal itu lagi.
"Kenapa?"
"Ini sudah malam, tidurlah. Baru tadi pagi kita sampai Malang, selama penerbangan kita juga tidak begitu nyaman saat tidur kan? Sebaiknya kita segera istirahat."
"Biasanya saat kita mau tidur, kamu selalu cium aku dulu," ucap Divya mencoba mengingatkan Safir tentang kebiasaan mereka saat sudah menikah.
Brug!
__ADS_1
Degup jantung Divya langsung bekerja cepat. Ia cukup terkejut saat Safir membalik tubuhnya. Divya menahan senyumannya karena mengira ia akan mendapatkan perlakuan manis dari Safir.
"Ada yang salah dengan diri aku, Di. Sampai saat inipun aku belum bisa menerima keanehan yang terjadi pada diriku sendiri. Padahal aku merasa normal dan aku baik-baik saja selama ini. Dari hubungan kita, aku merasa ada perubahan dari aku sendiri setiap harinya. Karena aku sedikit bisa mengabaikan pikiranku, karena aku maunya fokus sama kamu. Tapi kejadian di Paris itu masih membayang di pikiranku. Tolong kasih aku waktu agar aku bisa percaya diri lagi. Maaf," ucap Safir kemudian beranjak dari sana.