Duka Pernikahan

Duka Pernikahan
BAB 37 Mengubah Peta Hidup


__ADS_3

Vian membawa Queen menuju wisata pantai yang masih terjangkau dari lokasi hotel. Ia ingin membuat pikiran Queen sedikit lebih baik. Sampai beberapa jam mereka menumpangi taksi, kini mereka sudah sampai lokasi tujuan.


"Kenapa Kakak ajak Queen ke sini?"


"Selama beberapa tahun pergi dari rumah, Kakak belum pernah liburan seperti ini. Mumpung Kakak sedang izin kerja, jadi Kakak ingin sekali menghirup udara bebas seperti ini. Ayo," Vian meraih tangan Queen. Ia genggam kuat tangan Queen dan mereka segera mendekati bibir pantai.


Suasana di pantai memang menyenangkan dan menenangkan hati. Hembusan angin seolah mampu menerpa sedikir beban pikiran.


Karena ini bukan hari libur nasional, maka tempat wisata tersebut tidak begitu ramai pengunjung. Saat mereka hampir mendekat bibir pantai, Vian langsung melepaskan genggaman tangannya. Ia membiarkan Queen mendekati air pantai seorang diri.


Vian tetap mengikuti Queen yang sepertinya sedang mencari tempat yang sepi oleh pengunjung. Tapi Vian memilih menjaga jarak. Memberikan waktu pada Queen agar bisa menenangkan perasaannya sendiri.

__ADS_1


Vian duduk di atas hamparan pasir. Ia meneduh di bawah pohon besar. "Melupakan seseorang bukanlah perkara yang mudah, Queen. Kakak tahu dengan baik perasaan yang seperti itu. Perasaan ini bahkan masih terasa.Tapi Kakak sadar diri dan tahu diri kalau Tuhan hanya mendatangkannya agar kita mengenal rasa. Apa yang bisa kita lakukan selain ikhlas melihat seseorang yang kita cintai bahagia dengan jodohnya. Kita hanya bisa pasrah dan berusaha rela," Vian menggenggam pasir, lalu ia taburkan secara perlahan. "Meskipun kamu juga akan merasa kesulitan seperti yang Kakak alami di awal-awal dulu. Tapi Kakak yakin kalau kamu pasti bisa."


Vian sangat berharap, Queen tidak berlarut dengan kesedihannya. Meski mungkin itu hal yang lebih sulit dari kisahnya dulu. Jika mau melakukan perbandingan, maka kisah Queen dan Safir lah yang memang lebih memiliki banyak kenangan.


Secara perlahan, Queen berusaha duduk di atas batu besar. Ia menjuntaikan kakinya agar bisa terkena deburan air pantai yang terus menepi secara bergantian. Queen menatap sendu gelombang yang bergerumul seolah berebutan untuk menepi. Tidak lama kemudian, Queen tersenyum sekalipun keadaan hatinya sedang tidak baik-baik saja.


"Kita lahir dari rahim yang sama. Di besarkan dengan kasih sayang yang sama. Tapi nyatanya, itu semua tidak bisa membuat kita saling mengerti dan memahami. Darah kita begitu pekat mengalir di dalam tubuh. Tapi aku sudah salah karena selama ini aku mengira, orang terdekat bisa membaca reaksi saudaranya sekalipun kebenaran itu terus aku tepis," gumam Queen memikirkan Divya. Queen sadar dirinya tidak bisa meminta orang untuk bisa memahami makna hatinya yang tersirat.


"Safir Al Ghani," gumam Queen pelan. Menyebut nama lelaki tersebut saja sudah membuat dada Queen terasa sesak. "Berapa lama kita bersama dan sudah saling dekat? Hampir 8 tahun, Fir," Queen mengusap air matanya yang kembali jatuh. Ia sudah tidak bisa mengatakan apa-apa lagi. Membicarakan Safir hanya akan membuat hati Queen kembali terluka. "Aku tidak tahu mau pergi kemana? Karena semua sudah tentang kamu. Tapi dalam sekejap, aku harus mengubah peta hidupku yang sudah aku susun dan begitu aku impikan. Aku harap kamu akan bahagia. Dan aku ...?"


"Sudah merasa lebih baik?"

__ADS_1


Queen lebih dulu meraih es dugan yang lain, yang sudah pasti untuk dirinya. "Ahhh segarnyaaa ..." QUeen tersenyum menatap Vian. "Sedikit."


Vian menyingkirkan anak rambut yang menutupi wajah Queen. Ia juga mengusap kedua mata Queen yang masih nampak basah. "Sekarang dengarkan Kakak. Ini memang terdengar memaksa dan juga tega, tapi Queen harus kembali ke acara pesta."


"Kakak," baru saja Queen merasa lebih baik, tapi kini Vian kembali mendorongnya ke tempat yang ingin Queen jauhi.


"Queen, Kakak yakin saat ini Mama dan Papa pasti cariin kamu. Sisa acara pesta hanya tinggal beberapa jam lagi kan? Kamu sudah bertahan selama satu bulan, Queen. Bertahan sebentar lagi untuk Mama dan Papa ya? Kalau saat ini semua orang tahunya kamu sedang sakit, apa menurutmu Mama dan Papa akan membiarkan kamu pergi ke Australia besok?"


Queen tidak memberikan jawaban di saat tatapannya kembali sendu. Tapi kini Queen menggelengkan kepalanya pelan.


"Kakak antar kamu kembali ke hotel. Ikut acara pesta nanti malam. Hadir saja walau hanya sebentar. Setidaknya tunjukkan sama semua orang kalau Queen baik-baik saja. Agar rencana besok bisa tetap berjalan. Bagaimana?"

__ADS_1


"Kalau menurut Kakak itu yang terbaik, maka Queen akan menurut. Tapi Kakak harus janji sama Queen, kalau besok Kakak akan izinkan Queen untuk ikut sama Kakak. Bagaimana?"


"Sesuai dengan janji yang sudah Kakak buat sejak awal. Kakak datang sekarang ke sini karena mau menepati janji Kakak kan. Kita kembali ke hotel sekarang ya?"


__ADS_2