Duka Pernikahan

Duka Pernikahan
BAB 77 Menyusul ke Paris


__ADS_3

Mendengar kabar dari salah satu karyawannya tentang Safir, membuat Arjuno menghentikan meeting penting tersebut. Memang dalam mengurus pekerjaan, Arjuno jarang sekali mendahulukan masalah pribadi jika memang dirinya sudah ada di kantor, kecuali karena hal darurat. Tapi sekarang, dirinya mendengar kabar kalau anaknya sakit hingga di rawat, membuat Arjuno sangat khawatir. Sedangkan saat ini anaknya itu ada di luar negeri.


Bukan hanya Safir saja yang kini membuat Arjuno khawatir, tapi juga keadaan Zantisya. Apalagi saat ini Arjuno tidak bisa menghubungi Zantisya. Ia tidak tahu lagi bagaimana keadaan sang istri. Belum lagi sejak semalam Zantisya sudah memiliki perasaan tidak baik tenta Safir.


Begitu mobil sudah sampai depan rumah, Arjuno bergegas keluar dan segera masuk. Tujuannya saat ini adalah kamar.


"Dek."

__ADS_1


"Mas, Safir sakit Mas," Zantisya yang sejak tadi sedang menyiapkan pakaian dan juga identitas yang di perlukan, sambil menangis. Kini perempuan tersebut langsung menghampiri Arjuno dan melanjutkan tangisannya yang semaki kencang. "Benar kan kata aku. Dari semalam perasaan aku enggak enak. Sekarang seperti ini keadaan Safir. Kita harus ke Paris sekarang juga Mas. Aku takut terjadi sesuatu hal dengan Safir."


"Tunggu dulu," sebisa mungkin Arjuno tetap tenang di saat hatinya juga sudah sangat khawatir. "Sebenarnya keadaan Safir seperti apa dan kenapa bisa?"


"Aku enggak tahu, Mas. Divya hanya bilang ke aku kalau semalam Safir di bawa ke rumah sakit dan sekarang Safir memerlukan tindakan intensif.  Maka dari itu Safir di rawat di ruangan khusus. Selama ini Safir tidak pernah sakit yang begitu mengkhawatirkan. Ini juga bukan pertama kalinya anak kita ke Paris. Pasti terjadi sesuatu hal sampai Safir seperti ini."


Arjuno jelas terkejut mendengar penjelasan sang istri. "Pasti ada penyebabnya kan? Memangnya Divya tidak menyampaikan detailnya bagaimana, Dek?"

__ADS_1


"Iya, ayo kita pergi sekarang. Tunggu info pembokingan tiketnya dulu. Sekarang kita cepat bersiap dan langsung pergi ke bandar."


*


Malam sudah semakin larut. Acara pesta pernikahan di hari pertama sudah berjalan dengan lancar. Malam ini Queen dan seluruh keluarga lainnya masih bermalam di hotel. Karena besok mereka masih akan mengikuti acara pesta di hari ke dua pernikahan.


Sudah sejak tadi Queen mendaratkan tubuhnya di atas ranjang. Queen juga sampai mengubah lampu temaram sampai mematikan seluruh lampu kamar agar dirinya bisa segera tidur. Tapi tetap saja kedua mata Queen masih saja terjaga. Padahal sejak tadi juga, entah sudah berapa kali Queen mengubah posisi tidurnya agar menemukan posisi yang pas. Tapi mau bagaimana lagi, pikiran yang khawatir memang tidak bisa di elak lagi.

__ADS_1


Queen meraih ponselnya untuk melihat jam berapa sekarang. Ia menghitung perkiraan Reina dan Hendri yang tadi sore baru bisa terbang ke Paris. Queen sungguh sedang menunggu kabar kedatangan kedua orang tuanya agar ia tahu bagaimana keadaan Safir saat ini.


"Bodoh sekali. Mana mungkin Mama kasih tahu aku tentang hal ini. Mana mungkin juga aku menghubungi Mama untuk menanyakan keadaannya bagaimana," ucap Queen begitu sangat frustasi. Ia meletakkan ponselnya begitu saja. "Sepertinya lanjut kuliah adalah pilihan yang tepat. Kesibukan kuliah pasti akan membuat aku lebih banyak melakukan aktivitas dan membuat aku lebih mudah melupakan semuanya," gumam Queen yakin. Meskipun keyakinan yang sering sekali kalah oleh rasa yang masih memeluk hati. "Sepertinya aku harus melihat video trio S saja deh. Siapa tahu setelah ini aku bisa tidur," ucapnya sambil meraih ponselnya lagi.


__ADS_2