Duka Pernikahan

Duka Pernikahan
BAB 141 Melihatnya


__ADS_3

"Hati-hati menyetirnya ya, Pak!" pesan Nissa saat melihat Queen yang akan memasuki mobil.


"Enggeh, Bu."


"Queen ingat pesan, Oma ya?" tuntut Nissa lagi karena tidak ingin kalau Queen pulang sampai larut malam.


"Iya, Oma."


"Ibu itu sayang sekali sama Mbak Queen. Padahal Mbak sudah dewasa. Tapi khawatirnya itu loh," ucap sopir saat baru saja melajukan mobil.


"Alhamdulillah, Pak. Oma pasti sangat khawatir karena saya juga kan jarang sekali keluar malam seperti ini."


"Mbak, benar. Ini nanti pasti Ibu selalu telponin saya. Khawatirnya justru melebihi Ibu Reina."


"Kata Mama juga begitu. Opa dan Oma sama lamarhum Kakek dan Nenek dulu memang sangat over posesif. Tapi saya justru suka, Pak. Karena itu artinya beliau sangat sayang sama saya," ucapnya senang.


"Beruntung Mbak Queen bisa ambil sisi positifnya. Kalau tidak, mungkin akan seperti kebanyakan anak jaman sekarang, Mbak. Di posesifin bilangnya di kekang dan bikin enggak bebas. Repot kalau sudah salah sangka begitu. Padahal terkadang orang tua disiplin itu juga demi kebaikan anaknya sendiri."


"Setiap anak itukan punya pemikiran sendiri-sendiri, Pak. Saya rasa setiap anak dan keluarga serta berasal dari mana keluarga itu juga bisa menunjang semuanya, Pak. Maaf, kasarnya begini. Hal apa yang mau saya bantah dari orang tua kalau semua hal yang saya mau selalu di penuhi. Sedangkan saya hanya di minta untuk patuh aturan di rumah saja. Bagaimana ya Pak, sederhananya?" tanya Queen karena bingung sendiri, serta tidak bisa membandingkan kehidupannya yang lebih dari cukup mau di samakan dengan orang lain. Sedangkan keluarganya sangat toleransi dengan pilihan semua orang.

__ADS_1


"Saya maksud dengan Mbak Queen."


Sampai pada akhirnya, mobil yang sejak tadi Queen tumpangi sudah sampai tujuan. Karena sambil mengobrol dan saling berbalas pesan dengan temannya yang lain, membuat perjalanan tidak begitu terasa.


"Maaf ya Pak kalau nanti menunggu saya terlalu lama."


"Tiak apa-apa, Mbak. Monggo silahkan menikmati acarnya ya, Mbak."


Queen segera menghampiri teman-temannya yang sedang menunggunya. Malam ini adalah acar pernikahan teman kuliah Queen. Maka sekarang Queen harus datang.


*


Tidak ada penentuan tema pakaian yang harus digunakan. Maka sekarang Safir hanya menggunakan baju kemeja lengan panjang dan celana panjang. Yang terpenting penampilan Safir pantas dan juga rapih. Serta wangi tentunya.


Sebelum memasuki ruangan acara, Safir dan Yusman mengisi daftar tamu yang datang terlebih dulu. Setelah itu Safir memasukkan amplop kedalam kotak yng memang sudah disediakan.


Sebelum ikut menikmati menu yang disajikan, Safir mengajak Yusman untuk menaiki pelaminan agar mereka memberikan ucapan selamat terlebih dulu.


"Alhamdulillah, Mas Safir dan Pak Yusman bisa datang dari Malang kesini. Saya pikir Mas tidak akan datang," ucap Rusli sebagai owner bakso Pak kumis.

__ADS_1


Sengaja Rusli menamai usahanya seperti itu, karena dulu saat awal usah masih berjualan bakso, para pelanggan lebih sering memanggilnya Pak kumis ketimbang nama aslinya.


"Karena memang masih bisa dijangkau, maka kami akan datang memenuhi undangan baik Bapak dan keluarga. Selamat ya Pak, karena sudah memiliki mantu lagi. Semoga rumah tangga anak Bapak sakinnah, mawadah, warahmah. Aamiin!"


"Alhamdulillah, Amiin. Terima kasih doa baiknya ya Mas Safir. Oh iya, Mas Safir tidak mengajak istri?" tanya Rusli karena tidak melihat keberadaan Divya.


"Tidak, Pak!" ucap Safir dan tesenyum hangat walau sedikit dipaksakan. "Oh ya, kmi terus saja karena masih banyak tamu yang lainnya, Pak."


"Monggo, Mas. Jangan langsung pulang dulu ya Mas, dan Pak Yusman. Monggo di cicipi menu yang ada."


"Iya Pak."


Setelah memberikan ucapan selamat pada Rusli dan mempelai pengantin, Safir dan Yusman segera menikmati menu yang ada disana.


Safir hanya mengambil beberapa jenis makanan saja. Sedangkan Yusman sepertinya masih ingin menikmati makanan yang lainnya.


Sampai makannya habis, tapi Yusman belum juga kembali. Safir segera beranjak karena minumannya juga habis.


"Tolong fotonya di kirim kegroup chat ya?"

__ADS_1


Spontan saja Safir langsung menoleh. Merasa kalau suara yang baru saja ia dengar adalah suara yang ia kenali. Benar saja, karena secara sepontan, Safir langsung mundur karena yang ia lihat adalah Queen.


"Kenapa bisa aku melihatnya disini?" gumam Safir sambil mencari tempat yang sedikit lebih gelap. Berharap Queen tidak melihat dirinya. "Benar kata Kak By tadi, kemungkinan besar aku akan bertemunya di tempat tak terduga."


__ADS_2