
Baru saja Queen keluar dari dalam mobil, Queen kembali menoleh kebelakang untuk melihat Vian. Ia tersenyum samar, lalu Queen segera memasuki area hotel setelah Vian menggerakkan tangannya agar Queen segera pergi. Baru saja Queen akan menuju lift, kini dirinya berpapasan dengan Zen.
"Om."
Zen menatap keponakannya itu dari atas hingga ke bawah. Terlihat mencolok sekali kalau gadis tersebut telah pergi dari area hotel.
"Dari mana saja? Kata Oma tadi Queen sakit. Tapi sepertinya Queen baru bepergian jauh," sepertinya Zen mulai menyelidiki Queen. Sebenarnya Zen bisa mengira kalau sampai sesore ini, Queen pasti pulang setelah menenangkan diri.
"Cari udara segar."
Grep!
Uhuk ... uhuk ...
Queen sampai terbatuk-batuk karena terkejut atas perbuatan Zen yang langsung mengekang leharnya.
"Om mau bunuh Queen?" protesnya sambil memukul lengan tangan Zen. Sedangkan kakinya kini mengikuti langkah kaki Zen.
"Sssttt, bisa di tangkap aku kalau tindakan kriminal kamu ucapkan seperti ini. Ayo kita makan dulu, semua keluarga juga sudah berkumpul dan setelah ini kita bersiap untuk acara nanti malam."
Kelakuan Om dan keponakan itu menjadi perhatian beberapa orang yang mengunjungi restoran tersebut. Perdebatan keduanya sudah seperti induk yang sedang memarahi anaknya.
"Queen enggak lap ..."
__ADS_1
Klek!
Ucapan Queen jelas tidak di lanjutkan karena kini Zen sudah membuka sebuah ruangan makan privat untuk seluruh keluarga. Semua orang benar-benar sudah berkumpul di sana. Dan sepertinya tinggal dirinya dan Zen saja yang baru datang.
"Queen, dari mana saja sayang?" Ada rasa lega karena kini Reina melihat anak bungsunya kembali lagi. Tapi ada rasa nyeri hati ketika Reina menyadari anaknya yang harus menahan perasaan lagi.
"Perut Queen tadi sakit, Ma. Setelah minum obat, Queen merasa bosan di dalam kamar hotel dan butuh tempat yang hening agar rasa sakitnya cepat hilang. Biar besok Mama dan Papa tidak khawatir kalau Queen pergi ke Australia."
Begitu Queen memasuki ruangan ini, hanya sebentar Safir melihat Queen. Karena kini Safir memilih menunduk. Merasakan hatinya yang kini semakin risau. Apalagi sekarang Safir mendengar ucapan Queen. Ingin rasanya ia menghentikan Queen agar tidak pergi ke Australia. Tapi apa haknya.
'Ya. Keputusan yang kamu ambil ini memang lebih baik Queen,' gumam hati Safir. Sepenuhnya ia Sadar kenapa Queen memutuskan pergi jauh.
"Lalu baju siapa yang kamu pakai sekarang Queen?" tanya Hendri karena melihat baju Queen yang kebesaran dan seperti baju laki-laki.
"Laki-laki?" lanjut Hendri lagi. Tatapannya bahkan nampak menyelidiki.
"Iya. Tapi Papa jangn memikirkan hal negatif tentang Queen. Kami tidak melakukan hal yang salah. Dia meminjami Queen bajunya ini agar Queen bisa nyaman saat pergi bersamanya tadi. Lucu kan Pa kalau Queen jalan-jalan menggunakan kebaya?" tuturnya kemudian tersenyum manis pada Hendri.
Cemburu? Tentu Safir merasa cemburu mendengar penuturan Queen. Apalagi dengan jelas kalau kemeja yang di gunakan Queen saat ini adalah kemeja laki-laki. Tapi apa haknya untuk cemburu. Karena kini yang bisa Safir lakukan hanya mencengkram kuat gelas yang baru saja ia pegang. Meneguk air dingin agar hatinya yang terasa panas segera padam.
"Jadi penasaran. Siapa lelaki itu," ucap Divya kemudian tersenyum pada Queen.
"Nanti juga Kakak akan tahu," ucap Queen. Ia melihat Divya hanya sebentar saja.
__ADS_1
"Tunggu apalagi? Ayo kita makan sekarang. Ayo, yang baru menjadi imam dalam rumah tangga, pimpin doa dulu sebelu kita semua menikmati hidang yang ada," ucap Yusuf sambil menantap cucu menantunya.
"Safir," panggil Nissa karena Safir tidak memberikan jawaban dan masih menunduk.
"Safir," kini gantian Zantisya yang memanggil anaknya tersebut.
"Ya, Bun."
"Ya Allah, Fir, Fir. JanganĀ bilang kamu sejak tadi melamun karena memikiran malam per ...Hemmmppp ..."
Ruby tahu dengan celetukan apa yang akan di utarakan oleh suaminya tersebut. Maka tanpa pikir panjang lagi, Ruby harus membekap mulut Zen dengan daging yang Ruby raih begitu saja.
"Sayang," pekiknya tidak jelas karena terkejut dan mulunya langsung terasa penuh.
Semua orang kini menahan kekehan. Melihat tingkah Zen dan Ruby yang memang terkadang absurd. Begitu juga dengan Queen. Ia tahu kalau saat ini Ruby ingin menjaga perasaannya, tapi tidak dapat di pungkiri kalau kelakuan Ruby dan Zen justru terlihat lucu di matanya.
"Pimpin doa Fir," ucap Adam.
Rasanya begitu aneh. Sudah sejak lama hal seperti ini terjadi. Bukan perkara makan bersama dengan keluarga besar. Tapi ini terkait persahabatan Queen, Safir, dan Ruby. Untuk sesaat, ingatan tiga orang di sana menganggap kalau ini adalah masa SMA. Di mana mereka selalu makan siang bersama. Dan sudah pasti, Safir yang akan memimpin doa.
Begitu banyak kenangan manis yang sudah terjadi. Kenangan yang tidak akan mungkin bisa di lupakan, kecuali jika otak sudah tidak berfungsi dengan baik. Mengingat semuanya, Queen tersenyum samar.
'Ini bukan tentang kita bertiga dulu. Ataupun kenangan kita berdua semasa kuliah dan kerja bersama. Tapi sekarang ini tentang dua keluarga yang baru saja menyatu. Queen ayo lupakan semuanya, walau mungkin kamu kesulitan. Tapi hidup kamu masih panjang. Banyak mimpi yang harus kamu raih. Lagipula hidup ini bulan hanya berkaitan dengan cinta saja kan?' batin hati Queen mengingatkan dirinya sendiri agar hatinya lebih kuat.
__ADS_1