Duka Pernikahan

Duka Pernikahan
BAB 123 Rumah Sakit


__ADS_3

"Tolong berikan kunci cadangan kamar Queen," pinta Safir setelah sampai di meja resepsionis.


Begitu pintu lift terbuka dilantai dasar, Safir segera lari menuju resepsionis. Tentunya Safir harus meminta cardlock cadangan sebelum kembali ke lantai atas.


"Maaf, anda ini siapa ya?" tanya petugas resepsionis.


Dengan cepat Safir mengeluarkan dompet dan juga ponselnya. Dan meletakkan semua benda berharganya di atas meja, sebagai jaminan.


"Saya Safir, suami Divya. Queenza Reindri Anna Wijaya menginap disinikan? Segera berikan saya kunci cadangan karena dia sedang dalam bahaya. Cepat," pinta Safir sampai menyentak karena sudah tidak sabaran lagi. Hati Safir terus berdoa agar Queen bisa melindungi diri, sebelum dirinya datang.


Memberikan kunci cadangan memang tidak bisa pada sembarangan orang. Tapi petugas hotel tersebut segera memberikan kunci cadangan pada Safir.


"Tolong panggil scurity untuk menuju kamar Queen," pesan Safir lalu lari cepat menuju lift. Beruntung lift kosong, membuat Safir lebih cepat sampai lantai tujuan.


Klek!


Baru saja nyeri pada senjatanya sudah mulai reda. Dan baru saja Aris akan mengangkat tubuh Queen keatas ranjang untuk segera beraksi. Siapa yang menduga, pintu kamar ini terbuka dan menampilkan Safir yang sudah siap bertengkar dengan Aris.


"Kamu," Aris jelas terkejut. Bagaimana mungkin Safir bisa berada disini.


Safir juga ikut terkejut. Melihat Queen yang sepertinya sudah tidak sadarkan diri. Belum lagi Queen yang sudah tidak menggunakan jilbab. Hati safir terasa nyeri. Entah perlakuan apa saja yang sudah didapatkan oleh Queen tadi.


"Ariiisss ..."


Bug


Bug


Bug


Tanpa pikir panjang lagi, Safir langsung mendaratkan pukulan pada Aris. Melihat Aris yang sudah tidak menggunakan baju, membuat emosi Safir semakin meningkat.

__ADS_1


Bug


Bug


Bug


Bukan hanya Safir saja yang melayangkan pukulan, Aris juga berusaha memukul Safir, sekalipun dirinya yang lebih banyak dipukul oleh saingan terberat Aris tersebut.


"Brengsek kamu, Aris. Kamu sudah melakukan apa saja sama Queen, hah!" Safir mencengkram Aris. Lalu menghempas tubuh Aris yang mulai lemah ke arah dinding secara kasar.


Aris tersenyum kemudian meludah. Air liur Aris bahkan sudah bercampur dengan darah. Karena pukulan Safir memang cukup keras menghatam wajahnya.


"Apapun yang aku lakukan pada Queen, bukan urusan kamu lagi."


"Karena aku melihat perbuatanmu, maka ini menjadi urusanku. Apalagi sekarang kamu sudah berbuat hal kotor pada Queen. Bukan seperti ini caranya, Aris," sentak Safir, dan berharap Aris sadar.


"Lalu seperti apa? Kamu sendiri juga tahu kalau dia selalu menolak cinta aku. Dan itu karena kamu," Aris juga ikut meninggikan suaranya karena kesal dengan saingan beratnya tersebut.


Aris segera beranjak, saat Safir balik badan untuk membukakan pintu, karena di luar sana, sejak tadi sudah ada yang mengetuk pintu terus menerus. Membuat Aris juga beranjak.


Bug


"Aaaggghhh."


Baru saja Safir akan membukakan pintu, tapi kini punggungnya di pukul dengan sangat keras oleh Aris menggunakan kursi. Membuat Safir langsung membungkuk dan meringis kesakitan. Disaat seperti ini saja, Safir masih berpikir beruntung kalau yang Aris pukul adalah punggungnya. Bagaimana ceritanya kalau tadi Aris memukul kepalanya.


"Hyaaa ..." Aris kembali mengangkat kursi karena ingin memukul Safir yang kini menoleh menatapnya.


Dengan cepat, Safir menahan kursi yang sudah hampir mendarat pada tubuhnya lagi. "Jangan bertindak bodoh, yang akhirnya akan memberatkan diri kamus sendiri," ucap Safir memberikan peringatan. Safir mendorong kasar kursi, hingga mengenai dada Aris dan Aris pun tersungkur.


Safir segera membuka pintu. Benar saja, karena didepan sudah ada dua scurity. "Silahkan, pak. Dan segera bawa lelaki tersebut ke kantor polisi," perintah Safir.

__ADS_1


Aris jelas terkejut, Mana mungkin dirinya mau di penjara diusianya yang masih sangat muda ini. Terlebih lagi, Aris masih memiliki urusan pekerjaan yang belum selesai.


"Apa-apaan ini, Fir? Aku belum melakukan apapun pada Queen. Jadi jangan bawa aku ke kantor polisi," ucap Aris membela diri dengan suaranya yang terdengar memohon pengampunan.


"Tunggu apalagi, Pak. Silahkan," ucap Safir yang sudah enggan menanggapi Aris.


Begitu dua scuriy dan Aris keluar dari kamar tersebut. Safir langsung mendekati Queen yang tergeletak tidak sadarkan diri. Hati Safir ragu mau mengangkat Queen. Tapi mau bagaimana lagi jika keadaannya sudah seperti ini.


"Maaf."


Safir meraih jilbab Queen terlebih dulu. Setelah itu Safir berusaha untuk mendudukkan Queen dan bersandar pada ranjang agar dirinya lebih mudah membantu Queen menggunakan jilbab. Tapi sayangnya, gelungan rambut Queen terlepas. Safir memperhatikan lantai mencari keberadaan tali rambut Queen. Karena tidak mendapatkan apapun, dengan cepat Safir beranjak untuk melihat di atas meja. Benar saja, Safir menemukan tali rambut di atas nakas.


Dengan gerakan cepat, Safir mengikat rambut Queen sebisanya. Setelah Queen menggunakan jilbab lagi, tanpa perlu berpikir, Safir segera keluar dari sana sambil menggendong Queen.


"Tolong, bukakan pintu lift," teriak Safir pada salah satu petugas yang masih bekerja. Sekarang tujuan Safir adalah ke rumah sakit. Safir tidak tahu apa yang terjadi dengan Queen sampai hilang kesadaran seperti ini. Safir hanya takut kalau Queen meminum obat tertentu karean perbuatan Aris. "Agh," ringis Safir karena merasakan punggungnya yang juga terasa sakit. Safir harus bisa menahan rasa sakitnya sendiri karena yang utama sekarang adalah Queen.


Begitu pintu lift terbuka, Safir melangkah cepat menuju mobilnya. Safir cukup kesulitan karena dirinya sambil menggendong Queen, saat akan merogoh kunci mobil.


Sebelum menuju ke rumah sakit, Safir membawa mobilnya menuju loby untuk mengambil ponsel dan dompetnya di bagian resepsionis.


Sekarang Safir dengan cepat melajukan mobilnya untuk menuju rumah sakit terdekat. Beruntungnya jalanan yang di lalui Safir tidak terjadi kemacetan. Membuat Safir lebih cepat sampai rumah sakit.


Sekarang, Queen sudah mendapatkan pertolongan di UGD. Beruntungnya di ruangan gawat darurat tersebut sedang sepi pasien. Membuat Queen cepat di tangani.


"Bagaimana keadaan Queen, Dokter?"


"Pemeriksaan vitalnya normal. Dari keterangan yang anda sampaikan, kemungkinan pasien di beri obat bius. Untuk memastikan semuanya, maka kami akan melakukan pemeriksaan selanjutnya. Sekarang kita hanya tinggal menunggu pasien sadar."


"Dokter, tolong periksa seluruhnya. Saya takut orang yang menyakiti Queen sudah terlalu banyak menyentuhnya. Maksud saya ..." Safir sampai bingung sendiri mau berucap seperti apa. "Saya hanya takut kalau dia trauma atau sebagainya. Karena tadi saat saya menemukannya, Queen sudah hilang kesadaran."


"Baiklah. Kami akan lakukan pemeriksaan selanjutnya. Tenang. Jika dilihat langsung sekarang ini, sepertinya fisiknya tidak dilukai sedikitpun. Kecuali bekapan. Karena dipipinya memerah seperti bekas jari. Kami akan melakukan yang terbaik. Anda pasti takut kalau pasien mengalami trauma kan?"

__ADS_1


__ADS_2