Duka Pernikahan

Duka Pernikahan
BAB 97 Dekorasi Kue


__ADS_3

Ruby memiliki beberapa karyawan yang sudah memiliki skill di dalam membuat kue serta mendekorasi kue. Setiap harinya, produksi kue hanya terbatas saja. Namanya juga usaha, ada pasang surutnya penjualan kue setiap harinya. Namun, hal itu tidak menjadi masalah untuk Ruby.


Berbagai macam kue tersedia di sana. Semua harga terjangkau. Namun, semuanya sudah sesuai dengan resep yang Ruby punya. Sekalipun bukan Ruby sendiri yang membuat, setidaknya semua kue tetap terasa khas seperti yang Ruby buat sendiri.


Di toko kue tersebut, yang sedikit mahal adalah kue yang di dekorasi oleh Ruby sendiri. Hobinya yang sudah membuat kue ulang tahun karakter adalah kue khusus di toko kue tersebut. Dan sekarang yang akan menjadi primadona kue di toko kue Ruby adalah kue buatan Queen.


Sebelum datang ke toko kue, Ruby sudah meminta pegawainya untuk membuatkan dua kue red velvet. Kue yang akan menjadi basik kue yang akan mereka berdua hias dengan kemampuan mereka masing-masing.


Sekarang Queen sedang mendekor kue dengan begitu elegannya. Sedangkan Ruby, selalu membat kue dengan dekorasi karakter. Setelah kue sudah jadi, dua kue tersebut segera di masukkan ke dalam kulkas khusus kue dan sudah di beri harga.


Ruby juga memberikan katalog berbagai macam dekorasi yang bisa Queen buat. Agar nantinya jika ada customer yang ingin memesan kue, bisa request sesuai dengan apa yang mereka inginkan sendiri.


"Bu, ini pesanan yang baru saja saya terima. Katanya kue ini akan di ambil minggu depan. Apa Ibu ada waktu?" tanya karyawan sambil memberikan daftar pesanan yang harus di lihat oleh Ruby.


"Minggu depan ya?" Ruby melihat tanggal tepatnya dan mengingat lagi jadwal kuliahnya. "Bisa. Ambil saja ya Mbak."


"Baik, Bu. Kalau begitu saya konfirmasi sekarang."


"Iya. Oh iya, jika ada customer datang dan akan pesan kue, tolong perlihatkan katalog milik Queen dulu ya. Kedepannya Queen yang akan banyak mengurus toko ini," ucap Ruby karena sebentar lagi ia mulai sibuk menyelesaikan skripsi.


"Baik, Bu."


Setelah urusan di toko kue sudah selesai, Queen mengajak Ruby untuk pergi ke pusat perbelanjaan terlebih dahulu. Tujuan Queen tentu membeli segala macam baju yang akan mengisi lemarinya.


"Kamu masih tetap tidak boleh belajar mobil Mai?" tanya Queen.


"Mana boleh. Kamu tahu sendiri, Ayah sama Bunda saja sudah melarang aku saat Sa ..." ucapan Ruby langsung terhenti karena akan menyebut nama adiknya tersebut.

__ADS_1


"Enggak apa-apa kok. Biasa saja, Mai. Aku pasti terbiasa sendiri," ucap Queen meyakinkan Ruby.


"Saat Safir dulu khursus mengemudi, aku juga ingin. Tapi kata Bunda takut kalau setir mobil rusak gara-gara aku."


"Hahaha ..." Queen sampai terkekeh. Ia tahu benar bagaimana Ruby. Sahabatnya tersebut memang memiliki tangan yang tidak bisa diam jika memegang sesuatu yang menurut Ruby menarik. Maka dari itu, Ruby jarang sekali mengurus urusan dapur karena  ujungnya bukan selesai masak tapi Ruby sibuk dengan dunianya sendiri.


"Jangan ketawa. Sekarang aku sudah enggak iseng lagi kok. Semenjak punya bocil, masak saja aku sudah terbiasa," ucap Ruby bangga, Ruby memang tidak begitu ahli memasak. Tapi ia tetap bisa memasak.


"Jiwa keibuan memang akan muncul alami dengan sendirinya ya Mai? Padahal aku sempat kaget saat Oma ajak kamu masak. Disuruh buat adonan, kamu justru mainan tepung, Hahaha ..." Queen semain terkekeh karena menertawakan keabsurdan Ruby.


Jujur, Ruby senang melihat Queen bisa tertawa lepas seperti ini. Ruby sangat berharap, kalau selama Queen tingga di Jakarta, Queen akan semakin merasa bahagia.


"Issshhh, Nda tega sekali buka aib aku," ucapnya sambil mengerucutkan bibirnya.


"Aku tahu dari Bunda, Mai. Oma menceritakan kelakuan kamu ke Bunda. Sampai Bunda geleng-geleng kepala sendiri."


Candaan mereka harus terhenti saat mobil sudah memasuki basement mall. Baru saja dua perempuan itu keluar dari dalam lift, kedua mata Ruby sudah di buat tertarik dengan mobil yang sedang di jual.


"Om juga enggak bolehin kamu bisa setir mobil?"


"Kamu tahu Om kamu itu seperti apa, Queen. Bukan hanya Om saja. Nda dan Ayah juga sama posesifnya. Aku jauh dari orang tua posesif dan masuk kerumah yang sama juga."


"Tapi kamu bahagiakan, Mai?"


"Alhamdulillah. Aku sangat bahagia. Keluargamu sangat luar biasa menyangi aku, Queen. Dan aku sangat nyaman dengan cara semua orang mencintai aku. Semuanya hanya perlu aku syukuri. Karena kata orang, tidak semua orang bernasib baik sepertiku, bisa di sayangi keluarga mertua dan juga ipar," Ruby meraih tangan Queen untuk ia genggam. "Nasib orang itu berbeda-beda. Aku harap, nasibmu akan jauh lebih baik dari aku."


"Kok jadi mellow begini sih? Kita mau belanja loh ini," ucap Queen.

__ADS_1


"Kamu sih yang ajakin aku sad-sadan."


Tidak lama Queen dan Ruby belanja. Karena keduanya juga memikirkan tiga balita yang ada di rumah. Maka Queen dan Ruby harus segera pulang.


Begitu mobil sudah memasuki halaman rumah, Ruby lebih dulu lari memasuki rumah sambil membawa sebagian barang belanjaan Queen.


Tidak lama kemudian, sebuah mobil mewah memasuki halaman rumah tersebut. Tentuanya itu adalah Zen. Begitu keluar dari dalam mobil, Zen langsung sedikit lari pelan karena melihat perempuan yang ia kira adalah sang istri tercinta.


"Sayaaanggg ..." Ucap Zen sambil merangkul perempaun tersebut. Seperti biasanya, Zen akan membawa wajah Ruby di bawah ketiaknya. Tapi sayangnya, kali ini kok posisinya tidak pas.


Bug!


"Awww," pekik Zen saat dadanya mendapatkan pukulan. Spontan saja Zen melepaskan perempuan yang gagal ia kekep itu.


"Sayang-sayang? Ini Queen, Om."


"Hyah," Zen sampai terkejut karena ternyata dirinya sudah salah sasaran. "Lah pantes kok enggak pas di ketek, om."


"Owh, jadi seperti ini Om memperlakukan tantenya Queen?"


"Kyaaa ..." Zen spontan saja lari saat Queen akan memukulnya lagi.


"Berhenti Ooommm ... Bisa-bisanya Om suka nyiksa Tante aku. Queen yang akan buat perhitungan sama Om," ucapnya sambil terus mengejar Zen.


"Nyiksa dari mana? Itu adalah bentuk kasih sayang tak terhingga Queen," jelas Zen sambil terus lari menyelamatkan diri.


"Kasih sayang kok pakai ketek. Untung Om Wangi."

__ADS_1


Sepertinya dua orang tersebut benar-benar tidak ingat usia. Karena para Art saja yang melihat justru tertawa melihat hubungan Zen dan Queen yang seperti ini.


"Ya Allah Zeeennn ... Queeennn ... Berhentiiii ..." Nissa yang baru melihat kelakuan anak dan cucunya berusaha melerai keduanya. Baru saja trio S sunyi senyap tidak kejar-kejaran kesana kemari lagi. Sekarang sudah ada yang menggantikan pekerjaan tiga balita tersebut.


__ADS_2