
"Ngomong-ngomong, Kakak kok bisa-bisaan masak seperti ini?" tanya Queen yang mulai ingin menelusuri Vian. Sedangkan sekarang dirinya sedang mengoseng sayuran untuk isian tahu.
"Ada banyak tutorial di internet dan juga youtube ya harus di manfaarkan. Sangat membosankan kalau mau full kerja di car wash, Queen. Makanya saat Kakak punya sedikit tabungan, Kakak langsung cicil untuk beli grobak dulu. Terus alas dapur dan seterusnya," sambil menanggapi Queen, Vian juga harus memotongi tempe agar mempermudah pekerjaan saat sudah mangkal nanti.
"Kreatif sekali," puji Queen.
"Bukan kreatif. Tapi inisiatif sih. Karena bentuknya gorengan tetap saja sama."
Queen hanya terkekeh pelan. "Iya juga sih."
Setelah selesai memasukan oseng sayuran ke dalam tahu dan menyiapkan semuanya ke gerobak. Kini mereka sudah pergi ke lokasi tujuan. Queen hanya terus mengikuti langkah kaki Vian. Memperhatikan tangan Vian saja sudah membuat Queen tidak tega.
'Kalau seperti ini terus. Mama sama Papa akan sangat sedih jika tahu Kakak hidup seperti ini. Kemarahan mereka waktu itu hanya kemarahan sesaat. Kakak memang salah, tapi Kakak sudah sadar kan? Lalu kenapa Kakak menghukum diri Kakak seperti ini. Ini bukan hukuman untuk diri sendiri, tapi Kakak juga menghukum orang tua kita. Tidak hanya Mama dan Papa yang sedih, tapi Opa dan Oma juga pasti sedih. Apa yang harus aku lakukan sekarang?' gumam hati Queen yang sejak tadi di kabuti rasa bimbang.
Kala mereka masih kecil, Vian adalah cucu lelaki satu-satunya kala itu. Tentunya Vian sangat dekat dengan Yusuf. Apalagi saat mereka masih kecil, mereka bertiga justru lebih dekat dengan Nissa karena memang yang full di rumah kala itu adalah Nissa.
Baik Divya, Vian, dan Queen tentunya sangat di manja oleh Opa dan Oma mereka.
Dug!
"Awww ..." Ringis Queen saat keningnya menumbur punggung Vian.
"Queen," Vian yang baru saja berhenti, jelas terkejut. Ia balik badan dan jadi terkekeh sendiri. "Makanya kalau jalan itu jangan sambil melamun," ucapnya sambil mengacak-acak puncal kepala Queen. "Pulang saja sana. Istirahat," perintahnya sambil mengulurkan kunci kontrakan.
"Yeah, kok berasa Kakak meremehkan Queen ya? Ayo bertindak."
Sore ini, rasanya pekerjaan Vian jauh lebih ringan karena adanya Queen. Sejak tadi Vian yang bertugas menggoreng semua bahan jualan, sedangkan Queen bagian yang melayani pembeli. Setiap orang yang biasanya beli pasti akan bertanya Queen itu siapa. Membuat banyak orang tahu, kalau gadis cantik tersebut adalah adiknya Vian.
Sepertinya juga, keberadaan Queen benar-benar membawa rezeki tersendiri untuk Vian. Karena silih berganti pembeli terus saja datang dan membuat dagangan habis lebih awal.
"Alhamdulillah," ucap syukur Queen dan Vian secara bersamaan.
__ADS_1
"Kamu ingin makan apa malam ini?" tawar Vian.
Malam sudah semakin larut. Setelah usai makan malam, dan saat sampai rumah Queen langsung membersihkan bekakas yang kotor, kini Queen langsung merebahkan tubuhnya. Sedangkan kakinya ia ataskan dan bersandar pada tembok.
'Selama satu bulan terakhir aku sudah tidak keliling kandang dan lebih banyak tiduran di kamar. Dan iniah akibatnya dari satu bulan bermalas-malas ria. Lelah sekali rasanya,' keluhnya dalam hati. Karena terlalu lelah dengan aktifitas hari ini, begitu Queen memejamkan kedua matanya. Ia langsung terbuai ke alam mimpi.
*
Meskipun malam sudah semakin larut, tapi Divya tetap tidak bisa tidur. Ia menoleh sebentar untuk melihat Safir yang sudah memejamkan kedua mata. Tumben sekali Safir sudah terlelap lebih dulu. Setelah itu, Divya memilih turun dari atas ranjang. Ia meraih ponselnya dan memilih menuju balkon.
Safir yang sebenarnya belum terlelap, hanya melihat Divya sekilas. Bagaimana mungkin Safir bisa tidur kalau lampu kamar ini terang benderang. Safir memilih terus memejamkan kedua matanya, berharap dirinya bisa segera lelap. Karena besok adalah acara peresmian kantor.
"Halo Di," sapa seorang perempuan yang bernama Santi. Perempuan tersebut adalah teman Divya sewaktu kuliah dulu.
"Aku ganggu kamu enggak San?" tanya Divya sambil mendaratkan tubuhnya di kursi yang ada di sana.
"Ya enggak lah Di. Di sana malam di sini kan siang. Ada apa? Pengantin baru kok jam segini telpon istri orang. Dari lagak suaranya sih sepertinya kamu lagi galau berat," tebaknya yang justru terdengar menggoda.
"Bukan galau lagi. Aku hanya ingin tahu, dulu saat kamu awal jadi pengantin baru, bagaimana hubungan kamu dengan suami?" tanya Divya yang kini mulai penasaran dan mulai membandingkan.
"Hah!" Divya sampai tercengang mendengar jawaban temannya tersebut.
"Awal nikah dulu sepertinya kami melakukan itu sampai 5 kali juga pernah," jawab Santi blak-blakan.
"Apa!" entah kenapa Divya rasanya jadi merasa merinding tapi ada juga rasa iri.
"Kamu ini jangan sok polos ya Di. Kalian berapa kali dalam sehari setelah beberapa hari menikah ini?" Santi kini jadi penasaran dengan keganasan temannya tersebut.
"Di malam pertama kami tidak melakukan hal itu, San. Eh besok subuhnya aku justru bulanan," ucap Divya yang terdengar masih kecewa karena ritual malam pertama yang gagal.
"Yah sayang sekali. Padahal malam pertama itu sangat mengesankan kalau langsung di lakukan, Di. Sekalipun lelah karena pesta, tapi kalau untuk urusan begitu memang sudah lain. Eh tapi sekalipun kamu lagi bulanan kalian saling bercumbu kan Di?"
__ADS_1
"Iya. Kami ciuman sebentar setiap sebelum tidur," jawab Divya jujur.
"Hanya ciuman?" tanya Santi sampai terpekik.
"Iya."
"Di, bercum*bu itu tidak hanya cuman itu. Dia juga bisa menikmati tubuh kamu. Misalnya bermain dengan dada kamu mungkin. Membuat jejak di tubuh kamu. Atau kamu yang puasin dia. Saling pintar saja Di. Namanya juga sudah menjadi pasangan suami istri," saran Santi yang jelas jauh berpengalaman.
"Kemarin dia sudah mau menurunkan baju aku kan, eh dia berhenti begitu saja. Melihat wajahnya, seperti ada beban sesuatu yang dia pikirkan. Padahal aku sudah menginginkan hal yang lebih," keluh Divya mengutarakan isi hati.
"Dia bukan banci kan, Di?" tanya Santi mencurigai.
"Ya bukanlah."
"Kamu main berani saja sih Di. Sudah suami ini. Siapa tahu kalau kamu yang lebih agresif, itu laki lebih tertantang, Biasanya cowo pendiam seperti itu lebih suka dengan perempuan nakal. Maksudnya nakal itu ya aktif atau agresif. Jangan malu untuk melakukan apapun, Di. Kalau tidak kamu bisa langsung pegang itunya suami kamu. Kalau sudah berdiri tegak, langsung hap hap. Pasti itu laki bakal ketagihan," saran Santi yang terdengar ekstrim.
"Gila. Yang benar saja aku harus melakukan itu. Hueeekkkk gumoh banget nih bayanginnya," tutur Divya sambil merasakan perutnya yang tiba-tiba mules.
"Anggap saja permen lolipop. Hahaha ..." Santi sampai terkekeh karena telah berhasil menodai pikiran Divya.
"Memangnya semua lelaki suka di perlakukan seperti itu?" sepertinya Divya mulai terpengaruh dan mulai penasaran.
"Kalau semua lelaki suka atau enggak, ya aku enggak tahu Di. Tapi kalau suami aku ya begitulah."
"Duuuhhh bingung banget aku, San."
"Dia suami kamu dan dia sudah menjadi hak kamu. Hebat loh, kamu sudah berhasil membuatnya sampai menikahi kamu."
"Sejak awal dia sudah membuat janji dengan aku. Bagaimanapun ceritanya, dia harus menepati itu kan? Aku tidak perlu memikirkan yang lainnya."
***
__ADS_1
Hai para Zeyeeenkk. Jangan lupa mampir di novel bestienya aku yaaahhh. Ayo di ramaikan.