Duka Pernikahan

Duka Pernikahan
BAB 158 Menyetujui Permintaan


__ADS_3

Queen jelas bingung, kenapa Divya hanya ingin bicara berdua dengannya saja. Seolah apa yang akan mereka bahas memang sangatlah penting. Setelah semua orang sudah keluar dari ruang perawatan, Queen segera mendekati Divya. Queen menarik kursi, untuk Queen duduki.


"Ada apa Kak?" tanya Queen sambil memijati tangan Divya yang tidak terpasang infus.


Sebisa mungkin Divya menggerakkan tangannya untuk meraih tangan Queen. Ia menggenggam tangan Queen, meskipun tidak begitu erat.


"Jika Kakak meminta sesuatu, apa Queen akan mengabulkan permintaan Kakak?" tanya Divya pelan. Sebelum mengajukan permohonan maaf, Divya lebh ingin mengutarakan apa yang paling ia iginkan.


"Jika memang bisa, kenapa tidak Kak? Queen akan melakukan apapun, jika memang itu bisa buat Kakak segera sehat," ucap Queen yakin.


"Apa Queen bisa berjanji untuk menepati permintaan Kakak ini?"


"Tentu. Apapun untuk Kakak."


Divya menarik naafasnya dalam. Hanya untuk bernafas saja dirinya sudah merasakan sakit pada seluruh tubuhnya. Tapi sebisa mungkin, Divya harus bertahan.


"Sebelum, Kakak sadar. Kakak memimpikan sesuatu. Kakak seolah melihat tempat yang begitu indah. Sangat indah karena baru kali itu Kakak meihat tempat senyaman dan semenyenangkan. Tapi, ada seseorang yang menghampiri Kakak. Bahwa sebelum memasuki tempat tersebu, Kakak harus memasuki tempat yang lainnya. Apa kamu tahu, baru melihat saja mata Kakak sudah terasa panas. Sangat panas," ucap Divya. Sampai tanpa terasa Divya menitikkan air mata.


"Kakak jangan terlalu banyak bercerita," ucap Queen karena tidak tega melihat Divya yang nampak kesakitan setiap kali bernafas.


"Sakit ini akan segera hilang. Jangan khawatir, Queen. Selanjutnya, Kakak bilang pada orang itu kalau Kakak tidak mau kesana. Itu menakutkan. Tapi ..." ucapan Divya terhenti karena dirinya tidak bisa menceritakan semua yang menjadi mimpinya itu.


"Tapi apa Kakak?"


"Tapi Kakak terbangun karena diberikan kesempatan untuk meminta maaf pada semua orang."


Deg!


Siapa yang tidak terkejut dengan ucapa Divya yang seperti itu. Siapapun pasti akan paham dengan maksud cerita yang baru saja disampaikan oleh Divya.


"Kakak jangan berpikir yang tidak-tidak. Kakak pasti akan sembuh. Kakak mau apapun pasti akan Queen turuti. Yang penting Kakak sembuh. Kakak harus yakin."


"Ya! Kakak yakin akan sembuh setelah ini. Tapi tetap kita tidak bisa bersama, Queen."


Queen jelas menangis. Dirinya bukan anak kecil yang tidak bisa memaknai kata dalam setiap ucapan Divya.


"Kakak," ucap Queen dengan air mata yang sudah berderai.


Setelah 2 bulan tidak saling bertemu. Setelah baru kemarin malam Queen bisa saling bicara dengan air muka bahagia. Lalu apa sekarang? Jelas Queen tidak bisa menerima semua ini dengan mudah.


"Sebelum Kakak meninggalkan kamu dan semua orang yang Kakak sayangi dan yang sangat menyayangi Kakak, tolong kabulkan permintaan Kakak yang satu ini."


"Queen enggak mau," ucapnya sedikit menyentak karena tidak siap kehilangan Divya.

__ADS_1


"Kamu sudah janji Queen," tuntut Divya.


"Queen mau kalau Kakak sembuh. Bisa bersama Queen dan keluarga kita lagi. Enggak seperti ini Kak," ucap Queen yang semakin menangis karena ketakutan.


Divya juga menangis. Rasanya sungguh bercampur menjadi satu. Sampai Divya benar-benar menyesal karena telah berbuat jahat dengan Queen.


"Baiklah. Mungkin Kakak uhuh ... Uhuk ..."


"Kakak," Queen segera beranjak untuk mengambil air minum agar batuknya Divya segera mereda.


"Yang Kakak butuhkan bukan air minum," tolak Divya sambil mennyingkirkan gelas yang Queen dekatan pada mulutnya. "Tapi Queen yang mau mengabulkan permintaan Kakak. Agar Kakak tenang."


"Masih banyak cara pengobatan yang bisa Kakak lakukan. Kalau di Indonesia tidak bisa, kita coba ke luar negeri. Kenapa Kakak putus asa seperti ini?" omel Quen berharap Divya bisa bepikir postif dan semangat untuk sembuh.


"Kakak juga semangat. Tapi waktu Kakak memang sudah dekat Queen. Tolooonggg," mohon Divya serius dan nampak memelas.


Mulut Queen terasa kelu untuk berucap. Karena kalau dirinya setuju, artinya Queen sudah merelakan Divya begitu saja. Namun, kenapa rasanya percuma jika diriya terus mendebat Divya.


Queen menunduk. Ia menangis dalam sambil menggenggam erat tangan Divya.


"Kakak ingin apa dari Queen?" tanyanya dengan suara yang bergetar dan Queen juga memejamkan matanya.


"Kakak ingin kamu menikah dengan Safir."


Jedeeerrr ...


"A-apa Kak?" tanya Queen sampai tergagap.


"Biarkan Kakak melihat Queen menikah dengan Safir. Tolong," mohon Divya.


Queen sampai melepaskan genggaman tangannya pada Divya. Ia masih belum percaya dengan apa yang baru saja Queen dengar. Jujur, Queen memang sempat ingin menjalin kedekatan lagi dengan Safir jika memang Safir juga berusaha untuk memperbaiki hubungan mereka.


Queen ingin membuat Safir bergantung padanya hingga Safir dapat merasakan betapa dirinya meyukai Safir sejak lama. Namun, itu juga masih akan dipikirkan Queen ulang, karena Queen tetap harus menjaga perasaan Divya.


Atau mungkin saja, Queen ingin membuat Safir paham dengan perasaannya setelah Divya sudah mendapatkan kebahagiaan lainnya. Mungkin Queen seperti seorang gadis yang mengira bahwa dunia ini hanya Safir saja. Tapi tidak dengan cara seperti ini juga dirinya bisa bersama dengan Safir. Bagaimana mungkin dirinya mau mengabulkan permintaan Divya jika sekarang yang Queen yakini pasti Safir masih sangat mencintai Divya. terlepas entah masalah apa yang membuat Safir menjatuhkan talak pada Divya.


"Queen tidak mau Kak. Entah apa yang terjadi dengan Kakak dan Safir. Tapi Queen enggak mau menikah dengan lelaki yang tidak mencintai Queen. Safir hanya Cinta sama Kakak."


Ingin rasanya Divya mengatakan semuanya terhadap Queen. Tapi dirinya memilih menghargai perasaan Safir. Divya akan menggunakan caranya saja untuk memastikan bahwa dua orang yang ia sayangi telah bersatu dalam ikatan yang sah. Dan nanti, biar Safir sendiri yang mau berkata jujur dengan Queen. Agar mereka bisa saling jujur dengan perasaan mereka.


"Kakak yakin, Queen akan bahagia kalau bersama dengannya. Hanya satu ini permintaan Kakak pada Queen. Tolong di kabulkan."


"Sebenarnya apa motifasi Kakak meminta Queen menikah dengan Safir?"

__ADS_1


"Karena Kakak yakin, kalau kalia akan bahagia suatu saat nanti."


Queen sunguh bingung. Ia hanya bisa mengusap air matanya yang masih saja berjatuhan. Entah kenapa, dirinya seolah seperti memiliku stok banyak air mata. Karena memang sangat sulit untuk di bendung.


Queen menarik nafasnya dalam-dalam. Berusaha menentramkan perasaannya yang sudah tidah bisa mengatur keadaan.


"Apa dengan Queen menuruti keinginan Kakak, maka Kakak akan senang?"


Divya tersenyum manis. "Iya. Setidaknya Kakak bisa melepas rasa sakit ini dengan perasaan yang senang dan damai."


"Kalaupun Queen mau, lalu apa Safir akan mau menuruti permintaan Kakak ini? Bagaimana jika dia menolak?"


"Apa itu artinya Queen sudah mau mengabulkan permintaan Kakak?" tanya Divya yang sudah tidak sabaran lagi.


"Jawab dulu pertanyaan Queen."


"Kakak sendiri yang akan meminta Safir untuk mengabulkan permintaan Kakak ini. Kakak yakin, sebentar lagi juga dia akan datang. Jadi Queen maukan menikah dengan Safir?"


"Kalau memang ini bisa membuat Kakak merasa senang, Queen akan menuruti permintaan Kakak."


Hati Queen sudah tidak kuat lagi jika harus terus berbicara seperti ini. Maka sekarang, Queen memilih beranjak untuk keluar dari ruangan tersebut.


"Mamaaa ..." Queen semakin menangis saat sudah sampai di pelukan Reina. "Queen harus apa Ma? Bisa-bisanya Queen menurut permintaan Kak Di yang tidak masuk akal."


Reina mengusap punggung Queen. "Terima kasih karena Queen sudah mengambil keputusan yang diinginkan Kak Di."


*


Siang harinya. Pada akhirnya orang yang di tunggu-tunggu sudah datang. Nissa yang lebih dekat dengan pintu tentu memilih untuk menyambut kedatangan besannya itu. Yang masuk kedalam ruangan adalah Zantiysa dan Arjuno. Karena Safir memilih untuk menuju toilet lebih dulu.


Setelah saling menyapa dengan keuarga yang ada disana, kedua orang tua Safir itu mendekati Divya. Entah apa yang sebenarnya sudah terjadi. Namun, mereka jelas prihatin dengan keadaan yang sedang menima Divya.


Siaa yang tahu, setelah melakukan perbincangan sebentar Divya juga meminta maaf pada Zantisya dan Arjuno. Merasa diri bahwa selama menjadi menantu, Divya tidak bisa menjadi anak menantu yang baik. Hal ini tentu membuat hati Zantiday dan Arjuno terenyuh. Hingga saatnya Divya ingin bicara dengan Safir secara 4 mata.


Mengetahui kalau Safir sudah berdiri didepan ruang perawatan, membuat semua orang memilih keluar dari sana. Safir tentu bersalaman dengan semua keluarga.


Untuk sesaat, Safir dan Queen saling bertatapp muka. Meski tanpa kata, entah kenapa Safir jadi prihatin melihat wajah murung Queen. Apalagi setelah itu Queen berlalu untuk menyendiri.


"Masuklah, Divya ingin bicara sama Safir," ucap Hendri memberitahu.


"Apapun permintaan Divya pada Safir, jika memang memungkinkan, tolong di penuhi. Apapun itu, kami ikhlas," tambah Reina untuk meyakinkan Safir.


Safir jelas bingung. Kenapa Hendri dan Reina berpesan seperti ini. Tapi dirinya tidak mau berpikir yang tida-tidak. Apalagi sekarang keadaannya sedang seperti ini.

__ADS_1


"Baik Ma, Pa. Kalau begitu Safir masuk dulu."


Setelah Safir memasuki ruangan untuk bicara dengan Divya. Kini saatnya Hendri mengajak bicara baik-baik Arjuno dan Zantisya.


__ADS_2