
Sejak tadi Divya hanya diam membisu karena tidak berani mendekati Reina saat Safir dan Hendri sedang berusaha membuat Reina kembali tersadar. Divya juga ingin membantu, tapi mengingat tatapan Hendri tadi membuat dirinya takut. Membuat Divya jadi serba salah sendiri.
"Sepertinya kita harus membawa Mama ke rumah sakit saja, Pa!" ucap Safir karena merasa kalau Reina kesulitan bernafas.
Hendri juga merasakan hal yang sama. Ia juga memyentuh dada Reina. Merasakan degup jantung Reina yang kini terasa memburu. "Ayo kita ke rumah sakit sekarang."
"Maaf, Pa. Biar Safir saja yang gendong Mama," ucapnya karena merasa yang lebih muda dan juga tenaganya yang lebih kuat.
Brug!
Divya yang sejak tadi berdiri dan menahan kaki yang terasa lemas, kini ambruk juga setelah semua orang pergi tanpa bicara atau bahkan mengajak dirinya. Tidak mengapa, karena Diva sadar kalau saat ini Hendri sangat kecewa padanya.
Kedua mata Divya mengedar seolah mengabsen kesetiap sudut ruangan apartemet yang telah ia tempati bersama Safir selama beberapa hari ini. Kini rasanya Divya menyadari kalau 10 hari terakhir itu sangat-sanagt berkesan karena meninggalkan kisah manis hubungannya dengan Safir.
Selama tinggal disini, atau bahkan setelah mereka pulang dari Jakarta, Divya baru ingat kalau sejak itu Safir memperlakukannya dengan sangat baik. Safir selalu berusaha menciptakan suasana yang sangat nyaman agar mereka semakin dekat. Tapi sayangnya, terkadang Divya sendiri yang merusak usaha Safir. Divya pikir, itu bukanlah hal yang akan menjadi masalah nantinya.
"Hiks ... Hiks ... Hiks ..."
Seketika Divya menangis sesenggukan. Mengingat usaha Safir yang selalu bersikap romantis untuk Divya. Setiap malam, Safir bahkan selalu memeluk dan mencium Divya sebelum tidur. Hal kecil yang Safir harapkan untuk menjadi kebiasaan mereka.
Sekali mereka pernah mencoba untuk melakukan hubungan suami istri. Walau harus berhenti di perjalanan dan membuat Divya kesal dan mengomel karema mereka belum bisa merasakan kenikmatan dunia yang sesungguhnya, tapi Safir hanya meminta maaf dan memeluk Divya sepanjang malam sebagi gantinya.
Yang ada di pikiran Safir, hubungan rumah tangga mereka harus membaik. Maka Safir akan memulai dengan hal-hal yang baik juga. Safir pikir hal kecil yang bisa ia lakukan bisa membuat Divya senang. Karena letak kebahagiaan rumah tangga adalah pada sang istri.
__ADS_1
Divya hanya bisa menangis saat melihat kantong belanjaan yang tergeletak begitu saja. Entah sudah berapa kali Safir memasak selama mereka tinggal di apartement ini. Safir yang terus melakukan hal-hal kecil walau sesekali juga Divya mengomentari masakan Safir yang kurang enak menurutnya.
"Safiiirrr ..."
Rasanya Divya menyesali semuanya. Padahal selama 2 tahun lebih dirinya menunggu Safir dengan sangat setia. Sekalipun itu adalah sebuah tujuan tertentu, tapi sekarang Divya benar-benar merasakan hatinya yang terasa sakit. Mungkinkah pada dasarnya hatinya tulus mencintai Safir. Hanya karena berbalut dendam pribadi membuat Divya tidak menyadari perasaannya sendiri. Lalu bagaimana sekarang?
"Safir, jangan tinggalin aku seperti ini, Fiiirrr ..." Teriak Divya sambil beranjak. Ia juga harus mengejar Safir, yang kini membawa Reina ke rumah sakit.
Sesampainya di rumah sakit, Hendri menunggu Reina yang kini sedang mendapatkan pertolongan yang tepat. Sedangkan Safir yang mengurus pendaftaran perawatan pasien. Sampai akhrnya kini Reina sudah dipindahkan keruang perawatan.
Karena syok berat, Reina sampai kehilangan kesadaran dan membuat deru nafasnya tidak beraturan. Beruntung Reina tidak terkena serangan jantung. Karena syok yang dialami. Syok yang untuk sesaat membuat degup jantung Reina menjadi tidak beraturan.
Tidak lama kemudian, Vian datang karena saat di perjalanan tadi, Hendri memberikan pada Vian kalau dirinya membawa Reina ke rumah sakit. Vian jelas ketakutan kalau sampai terjadi hal-hal yang tidak diinginkan. Baru sebentar dirinya berada di rumah dan bisa kembali hidup bersama dengan kedua orang tuanya. Jadi Vian ingin menikmati waktunya yang sangat berharga ini. Bersamaan dengan itu, Safir juga datang memasuki ruang perawatan.
"Nanti akan Papa jelaskan," ucap Hendri sambil menepuk punggung Vian agar merasa lebih tenang.
Sedangkan Vian jadi celingukan karena tidak mendapati Divya di ruangan tersebut.
"Bagaimana Fir?" kini Hendri mendekati Safir yang memilih tetap berdiam diri di dekat pintu.
"Semuanya sudah Safir urus, Pa!" ucapnya pelan dan tatapan Safir terlihat begitu sendu.
"Terima kasih," ucap Hendri sambil menepuk punggung Safir. Hendri sangat berharap kalau Safir tetap kuat atau bahkan tidak sampai trauma karena ucapan Divya. Suatu saat nanti Safir bisa kembali menjalin hubungan dengan perempuan lain, setelah mendapatkan cercaan seperti itu dari anaknya.
__ADS_1
"Safir minta maaf, Pa. Safir sudah gagal menjadi suami dan juga kepala rumah tangga untuk Divya. Safr tidak bisa mendidik Di sampai semuanya menjadi seperti ini. Sunguh, Safir minta maaf," ucapnya dengan begitu tulus. "Maaf, karena Safir sudah ingkar janji dengan Mama karena Safir tidak bisa bertanggung jawab atas pilihan hidup Safir sendiri. Sungguh, Safir ..."
"Sudah," Hendri memeluk Safir sebentar sambil menepuk puggung Safir. "Papa yang minta maaf, karena Safir sudah menjadi korban keegoisan Divya. Maafkan Papa yang sudah gagal mendidik anak Papa sampai membuat hati Safir terluka."
Sudah dua kali kejadian antar saudara terjadi dan itu berkaitan dengan cinta. Hendri jadi merasa harua intropeksi diri karena itu adalah bentuk kesalahannya yang mungkin ada hal yang ia abaikan. Sehingga Divya dan Vian sampai seperti itu.
"Ada apa ini, Pa?" tanya Vian yang sejak tadi hanya memperhatikan keduanya. "Kamu dan Kak Di, berpisah?"
"Vian, nanti Papa akan jelaskan semuanya," ucap Hendri karena tidak ingin kalau Vian jadi salah paham. "Sekarang Safir pulang dan segera istirahat. Kita bicarakan semuanya lagi setelah Mama sudah sadar dan kembali sehat."
"Kalau begitu Safir pamit pulang Pa."
"Hati-hati," pesab Hendri.
"Ada apa ini Pa? Apa ada masalah dengan Safir dan Kak Di?" tanya Vian yang sudah semakin penasaran. Vian jadi menduga, kalau Reina sakit karena berkaitan dengan 2 orang tersebut.
"Safir sudah menceraikan Divya, Vian."
"Apa!" pekiknya yang terkejut dan juga tidak terima. Bagaimana mungkin mereka yang baru hitungan bulan menikah dan sekarang Safir sudah meninggalakn Divya. "Vian enggak terima Safir ceraikan Kak Di, Pa. Memangnya apa salahnya Kak Di? Vian akan membantu mereka untuk bersatu lagi. Safir harus bertanggung jawab dengan kebahagiaan Kak Di, Pa."
"Safir menjatuhkan talak 3 pada Divya. Jadi sudah tidak mungkin mereka kembali bersatu lagi."
"APA! Kenapa tega sekali Safir melakukan itu Pada Kak Di, Pa?"
__ADS_1
"Jadi begini ceritannya ..." Sekalipun tidak Hendri ceritakan sedetail mungkin seperti saat kejadian, yang terpenting sekarang Vian tahu asli kejadiannya bagaimana agar tidak menimbulkan salah paham.