Duka Pernikahan

Duka Pernikahan
BAB 175 Berendam


__ADS_3

"Terima kasih."


Kata singkat tersebut berhasil membuat hati Queen bergetar. Apalagi setelah itu Safir tersenyum. Senyuman yang jarang sekali Safir tampilkan diwajahnya yang terkesan dingin dan acuh.


Entah salah atau tidak, Queen jadi mengira kalau Safir merasa puas atas semua yang telah mereka lakukan. Belum lagi, kecupan yang Safir berikan. Dikening, kedua mata, hidung, dan juga bibir Queen. Perbuatan manis tersebut membuat tangan Queen mencengkram punggung Safir. Seolah Queen tidak mengizinkan Safir beranjak dari atas tubuhnya.


"Lelah ya?" tanya Safir setelah menjatuhkan tubuhnya kesamping.


Tanpa Safir ketahui, Queen menarik seprai yang sudah berantakan untuk mengusap pahanya. Queen cukup terkejut karena lelehan hangat yang keluar dari inti tubuhnya.


'Aduh, lah kok keluar semua? Gagal dong jadi anaknya?' gumam hati Queen yang jadi khawatir sendiri. Yang ada dipikiran Queen, lelahan bibit tersebut akan masuk seluruhnya menuju rahim dan akan membentuk bayi mungil. Tapi siapa yang tahu akan menjadi seperti ini.


Rasanya Queen ingin memberitahu Safir. Tapi mulut Queen terkunci karena tidak ingin merusak momen hangat yang sedang terjadi diantara mereka.


"Heem," gumam Queen sabil mengangguk. "Sakit juga, Mas!" keluhnya dengan nada suara yang manja. "Tapi enggak apa-apa kok. Namanya juga awal seperti ini. Wajar kan?"


"Heem," Safir pun mengangguk. "Kita tidur sebentar ya, setelah itu baru kita mandi sama solat."


Rasa lelah seharian, karena tadi siang Queen sudah terlalu banyak menangis. Dan sekarag mereka usai membuat penyatuan peluh, mampu membuat Queen tertidur begitu saja.


Safir pun sama. Lelaki tersebut merasakan begitu lega dan membuat raganya terasa nyaman. Keduanya tidur lelap. Jika Queen masih diam terlentang karena takut bergerak. Berbeda dengan Safir yang kini memeluk Queen.


Sampai beberapa jam kemudian, Safir terjaga lebih dulu. Ia melihat Queen yang masih lelap. Safir melirik ke arah jam dinding. Masih jam 1 dini hari. Safir menyanggah kepalanya dengan tangan, agar lebih tinggi. Ia menatap wajah lelap Queen yang masih saja terlihat cantik.

__ADS_1


'Aku enggak lemah kan? Aku sudah melewati semuanya dengan baik. Meski aku tidak tahu bagaimana kesan kamu tadi. Tapi aku benar-benar senang.'


Safir tersenyum. Tangannya terulur untuk menyentuh wajah Queen secara perlahan. Setelah itu, Safir turun dan meraih sarungnya yang tergeletak dilantai. Ia menuju kamar mandi untuk menyiapkan air hangat didalam buthup.


Tidak lama kemudian, Safir kembali mendekati ranjang. Melihat Queen yang kini sudah tidur miring dan melawan posisi tidur Safir. Secara perlahan, Safir naik keatas ranjang. Ia menatap punggung Queen yang bersih tak bernoda.


Secara perlahan, jari Safir menyentuh punggung Queen. Membuat jejak seolah kedua jari Safir seperti seseorang yang sedang berjalan.


Kedua mata Queen secara perlahan mulai terbuka. Ia jelas terusik saat merasakan pergerakan jari dipunggungnya. Queen mengubah kembali posisi tidurnya menjadi terlentang.


"Mas."


Safir hanya tersenyum, tapi jari telunjuk dan jari tengahnya masih terus berjalan menyusuri dada Queen. Jelas perbuatan Safir membuat Queen jadi merinding. Hingga kini, telapak tangan Safir menyusup dileher Queen dan Safir pun kembali mencium Queen. Hanya sebentar, karena setelah itu Safir mengangkat wajahnya. Padahal, baru saja tangan Queen akan terangkat dan mengalung dileher Safir.


"Awh!"


Queen spontan memekik karena Safir membuka selimut dengan sangat cepat. Queen seolah tidak diberikan kesempatan untuk menutupi tubuhnya sebisanya karena kini, Queen sudah dalam gendongan Safir.


"Bagaimana?" tanya Safir setelah mereka merendamkan tubuh kedalam air hangat.


"Enak banget, Mas!" ucap Queen sambil menikmati rasa tubuhnya yang terelaksasi. Menghipnotis raga karena rasa sakit seolah berangsur menghilang.


Hampir setengah jam mereka berendam dan saling menggosok tubuh.

__ADS_1


"Aku bilas dulu ya Mas."


"Heem."


"Merem!" perintah Queen yang akan berdiri.


"Kenapa? Malu?"


"Iyalah. Kan belum terbiasa. Merem sekarang Mas," perintah Queen memaksa.


"Karena enggak terbiasa itu, maka harus dibiasakan. Ayo cepat," ucap Safir usil sambil melebarkan kedua matanya. Seolah siap untuk menyaksikan tindakan Queen.


"Maaasss ..." Keluh Queen manja dan terdengar memohon.


"Ok, Ok!"


Queen segera beranjak setelah Safir memejamkan kedua matanya. Padahal tanpa Queen tahu, Safir jelas mengintip. Lelaki tersebut sampai menahan tawanya sendiri.


"Mas, jangan ngintip aku pokoknya," ucap Queen sambil menghidupkan Shower.


"Ok!"


Pemandangan mana yang bisa Safir abaikan begitu saja. Melihat sang istri yang diguyuri air hangat dibawah Shower. Setiap pergerakan Queen jelas membuat Safir menelan ludahnya secara kasar. Tanpa pikir panjang lagi, Safir segera beranjak.

__ADS_1


__ADS_2