Duka Pernikahan

Duka Pernikahan
BAB 136 Siap Menikah Lagi


__ADS_3

Seperti perkiraan Arjuno, esok paginya Safir yang sudah merasa baikan dan wajahnya juga sudah terlihat tidak tertekan seperti semalam akhirnya Safir mengajak Zantisya dan Arjuno berbicara.


Entah pencerahan apa yang sudah Safir dapatkan setelah menjalankan ibadah semalaman. Setelah tubuhnya berperang dengan suhu yang begitu terasa panas. Tapi yang terpenting, Safir sudah mau bicara apa adanya. Tanpa ada yang di tutup-tutupi.


"Astaghfirullah, sampai seperti itu Di bicara sama Safir?" tanya Zantisys sampai terpekik setelah mendengar semua cerita Safir.


Safir hanya mengangguk saja. Jujur, dirinya tidak ingin berbicara sikap jelek orang lain. Tapi ini berkaitan dengan keputusannya. Safir jelas tidak ingin jika kedua orang tuanya salah paham terhadap dirinya.


"Kok bisa ada saudara kandung yang berlaku seperti itu?" ingin rasanya Zantisya protes pada Safir. Selama ini, selama berhubungan secara sembunyi-sembunyi, apa saja yang telah mereka lakukan sampai Safir tidak tahu kalau Divya memiliki perangai seperti itu. Tapi semua pikiran itu terkalahkan karena kini Zantisya tidak terima, bahwa anaknya menjadi korban permainan perasaan demi dendam Divya sendiri.


"Tidak semua saudara kandung itu akan menjalin hubungan baik, Dek," ucap Arjuno yang berusaha untuk tetap tenag walau sebenarnya dirinya juga ingin melakukan banyak protes.


"Ternyata benarkan Mas, aku pernah bilang kalau Safir itu salah jodoh. Ya Allah, Fir. Fiiirrr ..."


"Istighfar dek. Namanya orang menemukan jodohnay itu memiliki kisahnya masing-masing."


Seketika Zantisya terdiam. mengingat takdirnya sebelum akhirnya dirinya dan Arjuno memutuskan untuk menikah. "Apa jangan-jangan ada kesalahan didikan itu Mas. Kok ya jomplang sekali dengan Queen."

__ADS_1


"Deeekkk," Arjuno tidak habis pikir dengan istrinya ini kalau sedang mengajukan komentar apapun jika sedang bersama dengannnya. "Semua orang tua itu sudah memberikan pendidikan yang terbaik untuk anak-anaknya sesuai dengan versi mereka. Begitu juga dengan kita, tapi lihatkah anak kita. Tetap memiliki pemikirannya sendiri."


Zantisya seketika terdiam. Merasa kalau mulutnya ini sedang tidak bisa terkontrol akibat perbuatan Divya pada anaknya. Belum lagi, hati Zantisya sangat ketakutan karena sepertinya Safir sangat trauma dengan pernikahannya. Sehingga untuk kedua kalinya, tadi Safir mengatakan lagi kalau Safir enggan menikah lagi.


"Seperti By dan Safir. Mereka punya pandangan mereka sendiri. Bagaimana takdirnya setelah mereka sudah tahu baik-buruknya jelas itu adalah keputusan yang sudah mereka buat. Jadi jangan menyalahkan orang tuanya saja. Kalau menurutku, kejadian Divya, Fahmi, dan juga Queen itu di saat Divya sudah kisaran 18 tahunan. Sudah tahu baik buruknya dengan jelas. Karena merasa sakit hati dengan Queen. Jadi apapun yang berkaitan dengan Queen akan terlihat salah dimata Divya. Semuanya bisa jadi alasan karena secara diam-diam dia membenci adiknya sendiri. Begitu juga tentang Vian, By, dan Zen dulu. Itu semua terjadi bukan sepenuhnya salah orang tuanya, Karena Vian juga sama, mengenal By saat Vian sudah kuliah," terang Arjuno menguraikan pedapat pribadinya.


"Astaghfirulah hal adzim," Zantisya jadi nyebut sambil mengusap dadanya karena meras kalau dirinya sudah terlalu banyak bicara.


"Sudah, karena pembicaraan kita sudah selesai, sekarang aku akan ke kantor dulu. Nanti siang atau sore, pokoknya setelah aku pulang, kita pergi menjenguk Ibu Reina."


Niat awal pagi ini Arjuno ingin mengantarkan sekolah Arfan sekaligus berangkat kerja, tapi Arjuno harus meminta sopir yang mengatarkan Arfan seperti biasanya, karena Safir yang tiba-tiba mengajak dirinya dan Zantisya saling bicara.


"Ngapain kita ke rumah sakit?" tanya Divya saat mobil yang di kemudiksn Vian sudah memasuki area parkiran.


"Ada seseorang yang ingin bertemu dengan Kakak," ucap Vian sambil melepas sabuk pengamannya.


"Siapa?" tanya Divya mulai penasaran dan juga curiga.

__ADS_1


"Nanti juga Kakak akan tahu. Ayo!"


"Aku tdak memiliki kenalan dokter di Semarang, Vian. Semalam kamu sudah membawa aku datang kesini tanpa persetujuan dariku. Sekarang kamu membawaku ke rumah sakit dengan dalih ada seseorang yang ingin bertemu dengan aku. Daripada kamu melakukan hal yang tidak penting seperti ini, akan lebih baik kamu membawa aku untuk bertemu dengan Safir."


"Kalau pada akhirnya Kakak tidak ingin kehilangan Safir seperti ini, lalu kenapa Kakak menyia-nyiakan dia? Jika Kakak mau balas dendam dengan Queen, bukankah seharusnya sejak awal Kakak bersikap manis agar Safir benar-benar mencintai Kakak? Bukan malah seperti ini," sentak Vian karena masih tidak habis pikir dengan Divya. "Dendam yang baik itu menunjukkan kebahagian kita pada target, Kak. Tapi, Vian masih belum paham dengan Kakak yang justru membenci Queen seperti itu."


Karena Divya tetap diam dan tidak memberikan tanggapan apapun, kini Vian kembali menggunakan sabuk pengaman untuk menuju kesuatu tempat yang mungkin akan membuat pikiran mereka lebih baik. Vian yang berpengalaman telah melakukan kesalahan, membuatnya yakin kalau Vian bisa mengajak Divya untuk bicara baik-baik. Hingga sampailah mereka di sebiah Villa. dengan pemandangan pegunungan yang begitu indah dan menyegarkan sepasang mata mereka.


Sampai saat ini, sejak dalam perjalanan menuju tempat ini, Divya tidak sekalipun mengeluarkan ucapan untuk memberikan tanggapan. Tidak lama kemudian, Vian datang membawa dua gelas berisi minuman hangat. Vian ikut duduk di kursi yang ada di sana.


"Apa Kakak tahu, tempat ini adah tempat tujuan Vian saat pertama kali Vian meninggalkan rumah waktu itu. Di tempat ini, Vian berusaha mencari ketenangan dan menjernihkan pikiran. Mengulas kilas balik semua yang sudah Vian perbuat hingga pertegkaran itu terjadi dan semua keluarga kecewa terhadap Vian. Setelah berpikir dengan jernih, apa yang di katakan Om benar adanya. Bagaimana Vian bisa mengatakan dengan lantang kalau Oma itu pilih kasih, kalau nyatanya, Oma lebih sayang dengan kita. Cucu-cucu Oma dan juga Mama. Untung saja Om tidak memiliki perangai seperti Vian. Kalau sampai Om memberontak dan beranggapan ini dan itu. Seperti yang Vian tuduhkan dulu. Entah akan seperti apa keluarga kita. Karena memang nyatanya Oma selalu mengutamakan kita dan seolah Oma menuntut Om untuk memahami kita. Vian rasa, Om sudah menemukan titik cinta Oma yang tidak kita ketahui. Jadi Om sekalipun tidak pernah iri dengan kita ataupun dengan Mama. Ini hanya menurut Vian saja."


Sejak tadi Divya hanya menunduk dan mendengarkan segala ucapan yang Vian utarakan.


"Kak, Queen tidak tahu menahu soal ini. Tolong jangan salahkan dia dalam urusan pribadi Kakak dengan Kak Fahmi."


"Vian, bukankah aku bisa kembali dengan Safir jika aku sudah menikah dengan lelaki lain? Aku tidak akan membahas Queen lagi. Aku janji. Yang terpenting sekarang aku bisa kembali sama Safir lagi. Kamu bisakan bantu aku?" tanya Divya penuh harapan.

__ADS_1


"Menikah dengan lelaki lain bukan hanya sukur menikah saja Kak. Tapi Kakak juga harus melakukan hubungan layaknya suami istri. Apa Kakak yakin bisa? Kalaupun Kakak bisa, dan sudah memenuhi persayaratan. Lalu Kakak bercerai dengan lelaki tersebut, apa Kakak yakin kalau Safir akan menerima Kakak lagi setelah semua yang terjadi? Pikirkan semua itu Kak. Dan sekarang yang lebih penting lagi adalah pikrkan kesehatan Kakak sendiri. Ayo bahagia dengan cara yang tepat. Agar kita bisa mensyukuri semua hal yang sudah kita miliki."


__ADS_2